Sabtu, 10 Mei 2014

PTT NOTES 004: Beach Time

Sabtu, 10 Mei 2014

Setelah bangun dan shalat subuh, gue gak tidur lagi, akhirnya gue posting catatan tgl 6-9 Mei ke blog ini, mumpung subuh-subuh jaringan masih lancar banget.

Setelah posting gue mandi dan siap-siap. Hari ini ceritanya kita bakalan jalan-jalan ke Pantai. I miss the beach so much, gue mo berenang...hahay, jadinya gue nyiapin baju ganti buat renang.

Pagi ini, si Indri dan Dena numpang ngejemur pakaian di kamar gue, karena hanya di kamar gue yang ada jemuran darurat kreatif ala orang kreatif (baca: gue dan win), hihihi. Agak-agak gimana gitu yaa ada pakaian cewe di dlm kamar, tapi untungnya yang dijemur cuma pakaian luar saja, yang lain-lain enggak kok :D.

Abis itu lanjut sarapan dengan "Nasi kuning Cakalang" (Again!!!! *sambil nangis*)

Untuk jalan-jalan pagi ini akan ada dua mobil yang mengangkut kami, yakni mobil si faisal dan 1 mobil sewaan.

Waktu udah menunjukkan jam 10.30, Faisal udah siap nungguin kami, tapi 1 mobil sewaan belum jg datang. Akhirnya diputuskan sebagian dari kami berangkat duluan bareng Faisal, sementara yang lain nunggu mobil sewaan. Maka berangkatlah Faisal, Ilyas, Gabby, Tia, dan Nurul menuju pantai Natsepa.

Sekitar jam 11, mobil sewaan yang sudah berisi Ona dan Odi pun datang. Gue, Win, Dena, Indri, Shella akhirnya naik dan berangkaaaat. Ups, tapi mo berangkat ke mana?? Ya ke pantai! Ke pantai mana? Nah, ternyata ada miskomunikasi lagi nih cuy. Ternyata pantai tujuan kita tuh gak cuma Natsepa tapi ada pantai lain yang lebih dekat dari Bapelkes yang harusnya kita kunjungi lebih dahulu, yakni pantai Pintu Kota. Tapi karena si Faisal, dkk  sudah menuju Natsepa, dan pantai Pintu Kota arahnya berlawanan, jadinya kami yang ada di mobil sewaan mutusin untuk ke pantai Pintu Kota dulu, baru ke Natsepa (maaf ya kawan-kawan yang udah jalan duluan, gak maksud -___-).

Akhirnya kami berangkat menuju pantai pintu kota. Daaaan Subhanallah...pemandangan menuju pantai ini sungguh indah, kami menyusuri tepi-tepi teluk Ambon dengan jalan-jalan yang berkelok-kelok dan naik turun. Indri pun mulai mabok darat. Jalan menuju pantai pintu kota lumayan mulus namun agak sempit, dan beberapa ada yang rusak akibat banjir.


Pantai Pintu Kota
Tak lama kemudian, mata gue tertuju ke papan kecil sederhana bertuliskan Pantai Pintu Kota dengan tanda panah ke kanan, jalan masuk yang dituju panah itu belum beraspal, mobil Avanza Velos putih yang kami sewa pun masuk menerjang jalan masuk itu. Dan sampailah kami di pantai pintu kota. Kami berada di atas tebing pantai dan pemandangannya Subhanallah yaa, gak bisa dilukiskan dengan kata-kata, biarkan foto aja yang berbicara gan. Ini baru di tebingnya, untuk menuju pantainya kita harus turun dari tebing menggunakan tangga. Gue yang sangat semangat pengen lihat pantainya akhirnya turun tangga sambil berlari daaaan terpeleset..ternyata tangganya licin, jadinya gue pun turun pelan-pelan.

Sampailah gue dkk ke pantainya, pantai ini adalah pantai karang, tanpa pasir, dan yang menjadi ciri khasnya adalah batu besar berlubang yang menyerupai pintu gerbang laut. Batu ini inilah yang menyebabkan pantai ini disebut Pintu Kota. Batu besar ini adalah bagian dari tebing besar yang kita injak di atas tadi. Pantai ini gak terlalu besar dan seluruh permukaannya adalah batu karang. Gue dan yang lainnya foto-foto sebentar di sini dan naik kembali ke atas. Naik tangganya ternyata lebih memakan energi dibanding turun tangga tadi, semuanya pada ngos-ngosan sesampenya di atas, dan Indri jadi tambah mabok, doi pusing dan mual, akhirnya doi istirahat sebentar di warung yang ada di sana, dan minum obat. Ckckck...ini nih dokter PTT Maluku yang ngomong dan makannya paling buanyak (peace ndri), hanya mabok darat yang bisa membuat doi "Silent" sejenak, hihihi. Gue yang msh ngos-ngosan + haus akhirnya beli minuman mijon di warung itu, harganya ga kuat bo, Rp.10.000,-. Tp mau ga mau, haus soalnya. Setelah semuanya lumayan stabil, kita pun naik kembali ke mobil dan ngelanjutin perjalanan menuju pantai Natsepa. Faisal dkk udah menunggu di sana. Keluar dari pintu kota kami harus membayar Rp.20.000,-/ mobil.


Pantai Pintu Kota
 

Dalam perjalanan menuju Natsepa yang lumayan panjang (sekitar 45 menit), dalam mobil gak terlalu berisik kayak biasanya. Soalnya biangnya (Indri) lagi mabok dan akhirnya tertidur selama perjalanan. Kalo biangnya tidur, partner-nya (Dena) juga diem. FYI, Indri dan Dena itu kayak Api sama Bensin, kalo ketemu bisa meletup gak karuan, dan membuat semuanya ya begitulah, entah kenapa.

Pantai Natsepa

Panorama View of Natsepa Beach

Sampailah kami di pantai Natsepa, yang bagi orang-orang yang punya kecerdasan Verbal yang agak kurang, sering salah dieja menjadi Nestapa, hihihi (No Offense). Tiket masuknya Rp. 31.000 (satu mobil + 8 orang). View di pantai ini juga gak kalah indahnya, maka hal pertama yang gue lakukan adalah jeprat-jepret mengabadikan keindahan pantai ini, sementara yang lain pada ngaso di warung rujak khas Maluku (atau mungkin lebih tepatnya khas Natsepa mungkin). Abis foto-foto, gue pun ikut bergabung di warung rujak dan mesen rujak potong cabe 3. Selain rujak potong, ada juga rujak serut. Rujak lezat ini bisa dinikmati dengan merogoh kocek Rp.10.000,-/porsi untuk rujak potong, dan Rp.15.000 untuk rujak serut (biaya serutnya 5.000 :p). Selain makan rujak gue juga minum es kelapa muda, buah cempedak goreng, dan kue sagu bakar.






Rujak Ala Natsepa


Setelah puas ngemil, lanjut foto-foto tim dokter PTT Maluku Mei 2014, soalnya belom pernah foto lengkap ber-12. Maka sekaranglah saatnya. Berikut foto-foto yang diambil di pantai Natsepa:

Dokter PTT Maluku MEI 2014 Full Team > Dari kiri ke kanan: dr.Faisal, dr.Ilyas, drg. Tia, dr.Shella, dr.Indri, drg.Dena, dr.Gabby, dr.Odi, dr.Nurul, dr.Ona, drg.Iroel, dr.Winulang


Ef se










Foto-foto diselingi juga sama makan pisang goreng yang diborong sama Faisal. Ada cerita unik saat Faisal beli pisgor ini. Jadi kan ceritanya yang jual pisgor ini adalah anak kecil, yang gue perkirakan berumur 7-8 tahun, doi bawa nampan yang berisi pisgor itu, Faisal pun manggil tuh anak buat beli, kurang lebih seperti dialognya:
(F:Faisal: PG:Penjual Pisgor)

F: Berapa satu?
PG: Dua ribu
F: Sa ambil semua, jadi berapa?
PG: (Terdiam terus ngitung pisgornya dengan agak gak yakin dan ngasal) Sepuluh ribu.
F: Hah? Masa,,coba sa hitung ulang (ngitung pisgornya satu-satu, ternyata ada 10 pisgor) Jadinya 20 ribu, ko salah hitung itu.
PG: (Manggut-manggut)

Ckckck...untung Faisal orangnya jujur, jadi ga ngebego-begoin anak kecil. Waktu denger cerita ini, si Indri bahkan bilang pengen nawar dari 10rb jadi 5rb (jahat kan?)

Udah selese foto-foto, gue pun ganti baju dan berenanaaang, tak lupa pake kacamata renang yang gue pinjem dari kak shella. Gue berenang sebentar doang, soalnya airnya gak terlalu asyik, banyak daun-daunnya, dan di dasarnya juga ada beberapa karang, jd kurang nyaman aja. Selain itu gue cuma berenang sendiri, yang lain gak ada yang turun.

Setelah renang, gue mandi bilas dan ganti baju, dan kami siap-siap cao dari Natsepa. Tujuan selanjutnya adalah pantai Liang. Untuk perjalanan ke Liang, Faisal gak bisa ikut karena doi ada urusan lain. Jadinya orang-orang yang naik mobilnya pada pindah ke mobil kak Ona yang nyusul ke Natsepa. Maka cao lah kita menuju pantai Liang.

Pantai Liang
Pantai ini gak jauh dari Natsepa, hanya sekitar 10-15 menit perjalanan. Masuk ke pantai ini kita harus bayar Rp.20.000,-/ mobil. View di pantai ini menurut gue lebih asyik dan menarik dibanding Natsepa, airnya pun lebih bersih dan jernih. Namun ukurannya lebih kecil dibanding Natsepa. Sesampenya disini waktu udah jam 16.30, gue dan teman-teman muslim yang lain pun shalat dzuhur-ashar (jamak takhir) dulu. Abis itu gue, Indri, dan Dena makan Indomie telor dan teh manis anget, karena belom pada makan siang. Harga makanannya fantastik bo', indomie telor Rp.12.000,- dan teh manis anget Rp.5.000,-. Gak ada makanan lain disini selain Indomie dan pop mie.

Teman-teman yang lain pada berenang, sementara gue udah males karena udah berenang di Natsepa. Agak nyesel sih karena ternyata disini lebih enak buat berenang. Akhirnya disini gue puas-puasin buat hunting foto, ini foto-fotonya:

Panorama View of Liang Beach

Dermaga Pantai Lian

Berangkat bersampan

Photo Inception

Menikmati birunya pantai Liang

Hai, I'm senseiroel

Sekitar pukul 17.30 kami pun meninggalkan pantai Liang. Tujuan selanjutnya adalah toko besi putih khas Maluku, yang terletak di dekat bunderan Trikora. Kita ke sana buat beli cincin. Untuk apa? yup, untuk dipake di jari manis agar terlihat seperti sudah menikah, kalo gue sih emang udah, tapi selama ini gak pernah pake cincin, tapi yang lainnya pengen pake juga biar gak digangguin sama orang-orang di pedalaman nanti, hehe.

Setelah beli cincin, kami pun kembali ke Bapelkes. Di Bapelkes gue mandi, shalat, beli makan NasKunCak (nasi kuning cakalang), makan, bbm-an sama istri, dan tiduuur.

Alhamdulillah hari ini puas banget nikmatin bisa keindahan pantai di Kota Ambon.

Rencana besok: belom ada rencana..hehe

bersambung...

Jumat, 09 Mei 2014

PTT notes 003: Deal with Ambon

Catatan tanggal 6 - 9 Mei

Selasa, 6 Mei 2014

Suara siraman rohani dan puji-pujian subuh ala Nasrani membangunkan gue dari tidur yang tidak begitu lelap. Berbeda dengan di kota-kota yang berpenduduk mayoritas muslim yang selalu terdengar suara azan, di kota Ambon gue hampir gak pernah mendengar suara azan. Tapi walaupun demikian, toleransi antar umat beragama di kota ini terlihat sangat baik.

Waktu menunjukkan jam 5 subuh lewat, gue pun langsung ke kamar mandi buat ngambil wudhu, menurut jadwal sih waktu shalat subuhnya jam 5.07. Abis ngambil wudhu gue langsung shalat subuh. Abis shalat gue udah seger banget tuh, jadi gak ada keinginan buat tidur lagi, gue pun mutusin untuk mandi, biar gak ngantri sama mahasiswa keperawatan sebelah kamar, soalnya kamar mandinya hanya ada 1 untuk 2 kamar. FYI aja nih, di Bapelkes ini kami gak sendirian, tapi banyak makhluk-makhluk tak kasat mata yang bergelimpangan..haha ngaco!! bukan itu, maksud gue ada para mahasiswa/i keperawatan yang juga nginap disini.

Abis mandi dan siap-siap, lanjut sarapan, menunya adalah: Nasi Kuning Cakalang (Again), yasudah nikmati saja,,,enak ini :D. Setelah makan (sekitar jam 9) kita dijemput sama Pak Usman menuju kantor Gubernur buat ngikutin acara serah terima dokter PTT dari Kemenkes ke pemerintah daerah. Kami ke kantor gubernur naik angkot charteran.

Di Kantor Gubernur
View di kantor gubernur lumayan bagus, di depannya ada lapangan luas yang disebut lapangan merdeka. Teluk Ambon juga terlihat cantik dari depan kantor ini. Di teras kantor terdapat sepasang meriam, apa fungsinya? pasti sebagai alat pertahanan jika ada musuh yang datang menyerang, haha ya enggak lah, ,itu cuma hiasan doang, mungkin pas jaman penjajahan kali yaa dipakainya.

View dari depan Kantor Gubernur Maluku



Salah satu meriam di teras Kantor Gubernur Maluku


Disini kami digiring ke ruang pertemuan lantai 6, dan menunggu gubernur datang sampai jam 11.08. Pukul 11.08, bu Sekda yang mewakili pak gub datang, dan acara pun dimulai.

Acaranya yaa seperti layaknya acara serah terima, ada sambutan-sambutan dan penyerahan secara simbolis. Setelah acara selesai kami kembali ke bapelkes dan harus mengikuti materi pembekalan sampai jam 3 sore. Abis itu pada balik ke kamar, istirahat sebentar, sholat dzuhur-ashar (dijamak takhir+qashar, karena gue berstatus musafir), trus langsung diajak keluar lagi buat jalan-jalan ke ACC (Ambon City Center), ini tuh mallnya kota Ambon gitu deh, yuhuuy. Gue, win, indri, gabby, ona, shella, dan nurul pun berangkat naik angkot ke ACC, sementara dena gak ikut karena diare, tia juga gak ikut karena sakit kepala.

ACC (Ambon City Center)
Jaraknya cukup jauh dari Bapelkes. Untuk menjangkaunya kita perlu dua kali naik angkot (transit di terminal), dengan waktu perjalanan sekitar 45 menit. Secara umum mall ini mirip dengan mall-mall pada umumnya, cuma lebih kecil, lebih sederhana, dan gak terlalu ramai. Di ACC gue dan yang lain pada belanja kebutuhan-kebutuhan logistik PTT yiang kurang di hypermart.


Ambon City Center

Setelah puas belanja, kita pun siap-siap pulang. Karena udah malam, gue saranin ke semuanya supaya pulangnya charter angkot aja, untuk pertimbangan keselamatan, karena banyak cewek. Rasanya kurang aman kalo harus transit di terminal malam-malam. Setelah dapat angkot charteran (deal=70.000, atau 10.000/orang » Lumayan), kita pun balik ke Bapelkes.

Sesampainya di Bapelkes, kami disambut dengan kegelapan,,, oooh tidak....apa ini??? Aaaargghh. Ternyata cuma mati lampu kok, hihihi, biasa aja kali. Masuk Bapelkes kita orang langsung ke ruang makan dan makan malam pake nasi ......... Ayoo tebak, jeng jeng jeng,,hahaha bukan kok, bukan nasi kuning, kali ini menunya nasi padang dengan lauk ikan cakalang (yang ini tetep).

Udah kenyang, gue balik ke kamar, mandi dengan penerangan lampu senter, shalat magrib-isya, nulis catatan ini, dan tidur...zzzz

Sampe ketemu beso lagieeee...(Mulai medok ambon)

###

Rabu, 7 Mei 2014

Kali ini pas bangun pagi, cuaca sedang hujan, so..abis shalat subuh (terpaksa) tidur lagi, dan bangun jam 8, hehe. Abis itu mandi dan siap-siap. Tadinya sih mo makan dulu, tapi ternyata eh ternyata pemateri suu datang, jadinya kami disuru langsung ke ruang kelas Bapelkes untuk ngikutin materi. Materi tentang etik ini tentu saja gak bisa kami terima dengan baik karena lafaaar. Si indri yang (ternyata) betul-betul punya maag (selama ini gw pikir hanya becanda, karena emang kalo ngomong jarang serius), akhirnya mulai kena serangan, karena doi ga bawa obat, gue pun nyumbangin polysilane tablet kunyah yang udah gue siapin dalam tas selempang, bersama obat-obatan lain. Gak tanggung-tanggung, 2 tablet langsung doi habiskan.

Setelah materi selesai, dena pun lapor ke ibu Elsina Wattimena alias bu Els bahwa kita semua belum pada makan, akhirnya bu Els pun memberi kami waktu untuk makan dulu. Oya, bu Els ini adalah Kasubbag Kepegawaian Dinkes Prov. Maluku yang bertanggung jawab dan ngurusin dokter-dokter PTT, doi bisa dibilang "ibu" kita selama di Maluku. Kami pun segera menyerbu ruang makan dan makaaan. Selama makan, si Indri masih ngalamin nyeri lambung, kasian juga doi.

Setelah "late breakfast" kita pada balik ke ruang kelas buat ngelanjutin materi, kecuali si Indri yang balik ke kamar untuk istirahat buat redain nyeri lambungnya. Saat mulai materi berikutnya, giliran gue yang ngerasa agak migrain, mungkin gara-gara telat makan juga nih, akhirnya gue nenggak Neuralgin, dan Alhamdulillah jadi baikan.

Sesi materi selesai pukul 15.30, semuanya pun balik ke kamar masing-masing. Pas masuk kamar gue ngelihat ada makhluk terbang kecil pengisap darah alias nyamuk, dan dengan terpaksa mereka harus mati di tanganku. Sorry ya muk, kalo gue biarin lo hidup, gue yang bahaya. Dari 3 nyamuk yang gue bunuh, dua diantaranya masih utuh dan gue hadiahin buat dena yang mnta tolong isiin micro SDnya dengan E-Book. Dua mayat nyamuk itu gue masukin ke case SD card transparan dan gue kasi notes: "Be careful with these guys." Mungkin keliatan iseng dan stres, tapi dibalik itu gue mo memperingatin teman-teman yang lain lebih waspada pada nyamuk, terlebih lagi yang gue tangkep ini adalah Nyamuk Anopheles!!! You know what Mosquito is it? Yup, doi ini adalah nyamuk yang membawa parasit Malaria a.k.a Plasmodium. Setelah penemuan nyamuk ini, gue dan Win pun jd lebih waspada dan intens menggunakan Mosquito Repellent Lotion dan tak lupa menggunakan alat semprot anti nyamuk di kamar.

Yeey let's against Malaria!!!


Korban Pembunuhan

Sesi curhat
Malam ini entah kenapa belum ada jatah makan. Sambil menunggu datangnya makanan, semuanya pada ngumpul dan tiba-tiba si Indri menginisiasi sesi curhat. Maka mulailah sharing-sharing masalah percintaan yang diikuti oleh Win, gue, Dena, Indri, Tia, Shella, Ona, dan Nurul. Yaah ternyata Tim Dokter PTT Maluku ini semuanya sangat terbuka dan nyantai. Dalam sesi ini gue sih lebih berperan sebagai narasumber, karena gue satu-satunya yang udah nikah. Kalo kata Win sih gue orang yang paling laku, wkwkwkwk.

Sesi curhat ini berakhir sekitar jam setengah 9 malam, saat semua orang mulai merasa lafaar. Karena belum ada tanda-tanda makan malam, gue dan win pun ngecek ke ruang makan, daaaaaan ternyata malam ini kita gak dapat jatah makan...*nangis*. So, diputuskan untuk beli makan sendiri, dan cuma ada satu jenis makanan yang terdekat dan termudah untuk diakses...yaitu apa sodara-sodara??? *teriak nyodorin mic di atas panggung* yeaaah,,,nama kerennya adalah "Yellow Rice with Chili Sauce Cakalang" yang di jual di pinggir jalan seberang RS M.Haulussy yang sangat dekat dengan Bapelkes. Gue dan Win bertugas membeli makanan ini untuk semuanya. Abis itu, semuanya pada makan bersama.

Setelah makan, gue, Indri, Dena, dan Tia lanjut ngobrol, mulai dari pengalaman seru, masalah Kedokteran, dan sebagainya, hingga gak sadar udah jam 12 malem. Wooow...lama juga ya.

Oke..It's time to sleep.

Insya Allah lanjut besok broh..


###

Kamis, 8 Mei 2014

Gara-gara tidur di atas jam 12 tadi malem, abis shalat subuh gue ga kuat, jadinya tidur lagi (zzzzzz), dan bangun lagi jam 8 setelah istri gue nelpon. Hoaaam..abis itu gue langsung mandi. Karena ceritanya kita baru akan diberangkatkan ke kabupaten penugasan pada hari selasa depan, sementara stok pakaian mulai menipis, maka gue dan win mutusin untuk nyuci, maka gue berdua keluar beli rinso dan molto biuat nyuci, tali rafia untuk buat jemuran darurat, dan minjem ember Bapelkes.

Cek kucek kucek kucek...
Cek kucek kucek kucek...


Beres dah cuciannya...abis nyuci lanjut sarapan dan materi (lagi). Katanya sih ini materi terakhir (semoga yaa).

Dan mulailah materi, ternyata pemateri yang terakhir ini lumayan "killer". Kita pada ditanya-tanyain seputar tropical medicine, dan karena rata-rata pada gak tau, jadi deh kita dihujat-hujat..., khususnya yang dokter umum, ampuun dok.


Foto bersama tim dokter PTT Maluku
(Dari kiri kw kanan: dr.Win, dr.Ilyas, dr.Indri, dr.Odi, drg.Dena, Bu Els, dr.Gabby, drg.Ona, dr.Shella, drg.Irul, drg.Faisal/Randi; Minus: drg.Tia&dr.Nurul)


Materi selesai, kita foto bareng dulu baru lanjuut makan. Abis itu lanjut menuju kantor BPJS Kesehatan buat ngurus keanggotan. Cuss deh nebeng mobil Faisal. Sebelum ke BPJS Kesehatan, Faisal mampir dulu ke Kantor DPRD provinsi alias kantor mamanya, disana view-nya keren bangeeeeet. So kita ngambil beberapa foto.


View dari Kantor DPRD Prov.Maluku


kiri ke kanan:dr.Ilyas, gue, dan dr.Winulang, di atas Fery


Dari DPRD lanjut ke kantor pajak, karena beberapa dari kita belum punya NPWP. Dari kantor pajak baru deh ke Kantor BPJS kesehatan. Ke sananya kita naik fery buat nyebrang teluk Ambon (motong jalan, seperti waktu pertama kali datang). Setelah selesai dan semua dapat kartu BPJS, kita lanjut ke ACC (again). Sebagian besar dari kita udah pada lapar, jadinya makan di Solaria deh. Ada dua kejadian unik waktu makan di Solaria:
1. Gue mesen I Fu Mie Sea Food, gue pikir Solaria dimana-mana sama lah yaa. Eeh pas I Fu Mie-nya datang ternyata I Fu Mie-nya porsi Ambon, buaaanyaaaak banget, seriusan, sayang gak sempet gue foto. Akhirnya gue hanya bisa ngabisin setengahnya.

2. Indri dan Dena ceritanya lagi batuk pilek, trus dengan ngasalnya mereka bikin ramuan jeruk nipis+kecap dari jeruk nipis hiasan minuman lemonade, dan karena kurang, mereka pada minta jeruk nipis lagi sama mbaknya. Amfuuun dah.


Ulah ngasal plus oportunis

Abis makan di Solaria, lanjut ke hypermart lagi buat belanja logistik yang masih kurang.

Dari ACC kita di-drop sm Faisal di mall lainnya yang bernama MCM.

Dalam perjalanan pulang ada insiden yang cukup menegangkan nih brur,,,jadi angkot charteran kita keserempet angkot lain sampe kaca spionnya bengkok. Udah deh tuh, dua supir orang Ambon saling beradu mulut, untungnya gak berujung pada adu jotos. Kita yang ada di dlm angkot langsung terdiam dalam waktu lama sampai masalahnya selesai. Alhamdulillah semua selamat sampe ke Bapelkes.

Sampe di Bapelkes langsung mandi, telpon istri, dan tiduuur, ngantuk banget cuy...

###

Jum'at, 9 Mei 2014

Hari ke-5 di kota Ambon, gue udah mulai terbiasa sama kota ini. Setelah sarapan dengan nasi uduk urap cakalang (tetep loh cakalang every day, hehe), tim dokter PTT Maluku langsung menuju lapangan Merdeka, buat ikut Glade Resik Acara Perayaan Hari Malaria Sedunia yang akan dihadiri bu Menkes.

Sampe di lapangan merdeka, kita nyempetin ke Gong Perdamaian Dunia/World Peace Gong, untuk foto-foto, setelah sebelumnya bayar 5.000 sebelum masuk area gong.




Gong Perdamaian Dunia. Gongnya bagus sih, tapi gue bingung gimana cara gong ini membawa perdamaian dunia??

Abis foto-foto kita disuru ikut latihan defile untuk acara hari senin nanti. Walaupun sebenarnya itu bukan tanggung jawab kita, karena yang harusnya ikut defile itu adalah perwakilin IDI, sementara mereka gak ada,,errrr, semuanya karena miskom, ya begitulah.

View di lapangan merdeka lumayan cantik. Tapi panasnya itu lho,,,ga nahan bo',,ckckck. Apalagi kita pada dijemur.







Beberapa view di lapangan Merdeka

Selesai gladi resik miskom, kita langsung ke Kantor DinKes Provinsi ketemu bu Els. Disana kita ngumpulin berkas ke bu Els, ngobrol-ngobrol, dan makan siang.

Dari dinkesprov, kita wisata kuliner ke pisang ijo pemuda, setelah sebelumnya mampir di patung Christina Martha Tiahahu buat foto-foto.


Patung Pahlawan Christina Martha Tiahahu (Tampak Belakang)

Di pisang ijo pemuda gue mesen es pisang ijo campur kacang merah. Dan Indri kembali menunjukkan keberingasan (opo coba), selain mesen pisang ijo pemuda, doi juga mesen baso abang-abang pinggir jalan 2 porsi!!! Gue bingung makhlus jenis apa sih ini...wkwkwkwk (sorry ndri).




Pisang Ijo Pemuda

Udah nyemil pisang ijo, udah deh balik ke Bapelkes, istirahat, sholat, mandi, dan ketiduran sampe jam 6.

Malamnya kita makan malam dengan menu: Nasi, Mie, kacang panjang, acar, daaaaaan Cakalang (meen, lagii).

Abis makan lanjut ngobrol-ngobrol sampe larut malam...dan tidur deh.

Rencana besok insya Allah:
- Ke pantai Natsepa

Btw, gue masih bingung ini PTT apa liburan yaa, haha. Kalo kata shella, PTT = Paket Tamasya Terpadu, hahaha. Kegabutan udh mulai terlihat nih, harusnya udah mulai kerja di kabupaten tapi kita masih di tahan di ibukota provinsi karena nunggu bu Menkes. Tapi yaudahlah jalanin sajaa..yang penting tetap digaji hehe.

Byee..

bersambung...

Selasa, 06 Mei 2014

PTT notes 002: The Day

Senin, 5 Mei 2014

Ini adalah hari yang istimewa sekaligus mungkin menyedihkan, karena hari ini adalah hari pemberangkatan ke provinsi penugasan. Walaupun PTT itu gak wajib, tapi gue udah memilih dengan berbagai pertimbangan, yang artinya gue juga harus menanggung segala konsekuensinya, termasuk meninggalkan keluarga kecil gue. Semua gue lakukan untuk mengabdi kepada negara tercinta ini. Seperti kata Abraham Lincoln (kalo ga salah, CMIIW):

"Jangan tanyakan apa yang negara telah berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu"

Sedih sih harus ninggalin dua orang yang sangat gue cintai: Tiara, istriku yang kunikahi tanggal 12 Mei 2012, dan Syakirah, putri pertamaku yang saat ini berusia 9 bulan. Terlebih sebentar lagi tanggal 12 Mei alias ulang tahun pernikahanku yang kedua. Yaah, tapi hidup harus berjalan, dan ini adalah tantangan yang harus bisa dihadapi.

Preparation
Gue sudah mempersiapkan logistik untuk berangkat PTT sejak sekitar 10 hari sebelum berangkat, dan gue mencoba membawa seminimal mungkln barang bawaan, namun efektif dan efisien. At the last, gue membawa 1 koper sedang, 1 tas ransel sedang, dan 1 tas selempang kecil, kesemuanya cukup ringan, dan gue memperkirakan beratnya gak sampai 20 kg.


barang bawaan gue


Ready to go
Gue bakal berangkat dengan menggunakan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA646 menuju Ambon. Pesawat dijadwalkan berangkat pukul 08.15, namun gue udah harus ada di bandara jam 6 pagi.

Gue berangkat dari rumah pukul 04.00, dengan diantar oleh Tiara, Syakirah, bapak, dan ibu mertua, serta pengasuh Syakirah. Kami tiba di bandara jam 6 kurang, setelah sempat shalat subuh di rest area tol Tangerang. Di bandara, gue ketemu dengan bu Leni, staf biro kepegawaian Kemenkes yang akan mengantar kami sampai di Ambon, doi pun menyerahkan tiket ke gue. Setekah dapet tiket, gue gak langsung cek in, tapi gue manfaatin waktu untuk bercengkerama dengan istri dan anak gue. Syakirah hampir gak gue lepas selama di bandara, maklumlah, gue bakal ninggalin nih anak dalam waktu lama.


Gue dan my little angel Syakirah

Sekitar jam 6 lewat dikit, Tiara dan seluruh pengantar gue harus meninggalkan bandara, karena Tiara harus ke kampus untuk menghadiri diskusi pedo, dan melanjutkan perawatan. Sekarang dia sudah memasuki minggu terakhir stase pedodonsia (kedokteran gigi anak). Gue bisa maklumin karena stase pedo adalah salah satu stase tersulit dalam tahap pendidikan klinis kedokteran gigi. Maka gue pun memberi salam perpisahan untuk anak dan istri tercinta. Sebelumnya (saat dalam perjalanan ke bandara) gue udah membaca doa musafir kepada orang yang ditinggalkan:





###
Untuk penugasan di kota Tual, gue bareng junior di FKG, Dena 07. Namun sayang sekali, doi terlambat nyampe bandara, akhirnya gue pun cek ini duluan, bersama dr.Indri, bu Leni, dan 2 orang kemenkes lainnya yang gue gak tau namanya.

Karena Dena belum juga memunculkan batang hidungnya, gue jadi agak khawatir, maka setekah cek ini gue keluar lagi buat nungguin doi dan nantuin doi cek in biar cepet. Di luar gue ketemu Putu, Putri, dan Anis 07, teman seangkatan Dena yang pada nungguin dena buat nganter, tetapi oh tetapi sampe jam 7 pagi, doi ga nongol-nongol, dan tersiarlah kabar bahwa flight doi di switch ke besok jam 1 malem..hufft... akhirnya gue pun masuk lagi dan langsung menuju ke ruang tunggu.

Sekitar pukul 07.55 kami dipersilahkan naik ke pesawat. Di pesawat gue duduk bareng sesama dokter PTT dr.Indri dan drg.Tia. Pas kita udah duduk manis di pesawat, tiba-tiba muncullah sesosok makhluk wanita misterius yang familiar buat gue...yeah ternyata itu Dena, flight-nya ga jadi di cancel, so, kita kembali berangkat bareng deh.

Pesawat pun take off jam 8.15 WIB dan nyampe Ambon jam 14.00 WIT.

Next...
pengambilan bagasi, dan gue harus ngebantuin para cewe buat ngangkatin koper-koper mereka yang super guedeee dan supeeer over weight *nasib jadi cowo sendiri*

Di bandara Pattimura Ambon ini, gue kenalan dengan beberapa orang dokter lagi, yang sebenarnya tadi bareng di pesawat tapi belum saling tau. Jadi saat ini tim dokter PTT maluku yang ada adalah:
1. drg. Irul (Kota Tual)
2. drg. dena (kota Tual)
3. drg. Tia (Maluku Tenggara, akhirnya nanti dipindahin ke Maluku Tenggara Barat)
4. dr. Indri (Kota Tual)
5. dr. Winulang (Kep.Aru)
6. dr.Sella (Kep.Aru)

Gue dan semua tim dokter pun keluar bandara bersama bu Leni. Di luar kita dijemput oleh Pak Usman dari Dinkes Maluku. Selanjutnya kita ngangkat barang ke mobil ford ranger milik dinkes dan langsung cuss menuju Bapelkes. Gue naik ford ranger bareng ibu-ibu kemenkes dan Pak Usman, sementara 5 orang lainnya naik mobil kijang sewaan. Agak tega sih gue dibuang sendiri bareng ibu-ibu, tapi Alhamdulillah ada enaknya, gue gak perlu bayar sewa mobil, sementara mereka harus patungan bayar mobil, kikikiiik.

Jarak bandara ke bapelkes lumayan jauh kalo dihitung pake jalan darat yang mengitari teluk ambon, jadi untuk motong jalan, kita nyebrang pake feri.

Dan sampailah kita di Bapelkes. Disini kita disambut dengan snack pisang goreng dan kue lumpur ijoo. Hmm...lumayanlah buat ganjel ganjel. Abis itu kita langsung menuju kamar yang telah disediakan, untuk mandi dan istirahat.


Gue and Friends di Plang Bapelkes (Sorry yang lain gue sensor hihihi)

By the way cuacanya puanes banget, dan sialnya AC di kamar yang gue dan win (dr.Winulang) tempatin hanya mengeluarkan hembusan angin segar tanpa pendingin. Untungnya di kamar ini udah ada kipas angin gede (mungkin tau karena AC-nya gak berfungsi, jadi disediain kipas angin juga) + gue juga bawa kipas angin USB mini portable yang lumayan bisa membantu menurunkan suhu walau hanya cukup untuk satu orang.

sang penyejuk mini dikala panas

Malamnya...
Semua udah pada lapar, dan akhirnya diputuskan untuk nyari makan di luar, dan didapatlah nasi kuning khas maluku, yang berisi: Nasi kuning (yaiyalah masa nasi ungu), mie, orek teri tempe, ikan cakalang masak cabe, + telor rebus (Opsional). Harganya lumayan murah, untuk nasi kuning cakalang Rp.10.000,-, kalo tambah telor jadi Rp.12.000,-. Kita pun makan bareng, dan rasanya wiiih..enak cuy..Mantabh, mau coba?


Nasi Kuning Cakalang khas Maluku

Udah makan...saatnya istirahat, besok bakalan ada acara serah terima dokter ptt dari kemenkes ke pemda, di Kantor Gubernur nih.

See u tommorrow..

bersambung...`

Senin, 05 Mei 2014

PTT Notes 001: Inisiasi

PTT Kemenkes MEI 2014

Mukaddimah

Bismillahirrahmanirrahim, tahun ini gue mutusin ikut program PTT (Pegawai Tidak Tetap) yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan. Karena ini adalah kegiatan yang cukup penting dan menarik, maka gue akan menceritakan pengalaman-pengalaman gue selama mengikuti kegiatan ini, mulai dari pembekalan di Jakarta sampai tiba di daerah penugasan yang akan dilalui dalam waktu 2 tahun. Gue harap tulisan ini bisa bermanfaat untuk teman sejawat ataupun junior yang berencana untuk PTT. Semoga Allah memudahkan

Senin, 28 April 2014
Petualangan bermula


Hari ini dijadwalkan pembekalan dr./drg PTT di Kementerian Kesehatan, kami diberitahu bahwa acara pembekalan akan dimulai jam 7.30, dan seluruh peserta diharap untuk datang setengah jam sebelumnya alias jam 7.00. Maka berangkatlah gue bersama istri tercinta dari Pedalaman Ciputat pada pukul 5 lebih sedikit. Alur yang kami rencanakan adalah: Rumah >> SDN Grogol Selatan 07 Pagi (jemput pasien istri) >> lewat kuningan (nge-drop saya di Kemenkes >> Istri lanjut ke UI Salemba.

Perfect plan!!!

Tapi...ternyata eh ternyata, baru keluar tol veteran lalu lintas macetnya udah gak ketulungan. Think and re-think...akhirnya gue memutuskan untuk turun dari mobil dan melanjutkan perjalanan dengan kendaraan mungil anti macet bin nyebelin bagi pengguna jalan yang lain, alias ojek. Ceritanya mo ngejar jam 7.00 sampe Kemenkes di Kuningan nih, maka gue pun menghampiri abang ojek yang mangkal deket warung pisang pasir yang terkenal dan enak itu lho, udah pernah nyobain belom pisangnya? *salah fokus* Setelah melewati proses negosiasi dan tawar menawar yang begitu alot, akhirnya gue menyerah sama nih tukang ojek, dan deal di harga Rp.70.000,- Whaat? Yeah 70ribu, mampus ga tuh? tapi yaudahlah, karena gue emang butuh doi dan butuh cepet ya terpaksa deh.

Ojek goooo...

wuuuz...wuuuz...ojek ini pun melaju menembus kemacetan bagai seorang kesatria yang menerjang musuh di medan perang. Skill bermotornya lumayan juga nih abang, beberapa kali motornya ampir keserempet kendaraan lain saat mencoba menembus kemacetan dengan metode potong zig-zag dan ngelawan arus, tapi ajaibnya gak pernah nyerempet setipis benang pun, hehe. Abang ini juga membawa gue melewati jalan tikus antah berantah yang belum pernah gue jamah sebelumnya,.

Singkat cerita, sampailah gue di kantor kemenkes sekitar jam 7.05. yooi, lumayan tepat waktu lah, gue pun ngebayar abang ojek profesional ini sambil tersenyum (padahal dalam hati menangis, 70rb gueeeeee).

Lanjuut, gue pun langsung menuju tempat diadakannya pembekalan, yakni ruang Johanes Leimena. Bagi yang belum tau, Johanes Leimena ini adalah salah satu menteri kesehatan kita, doi pernah menjabat sebagai menkes pada masa pemerintahan presiden Soekarno. Di depan ruang J.Leimena terpampang foto-foto menkes dari yang pertama sampai terakhir. Satu hal yang menarik, ternyata menkes pertama kita hanya menjabat 3 hari.


Menkes pertama Dr. Buntaran Martoatmojo yang menjabat dari tanggal 12-09-1945 s/d 14-09-1945

Oya dan satu hal lagi, kebanyakan ruangan-ruangan di gedung kemenkes ini emang dinamakan dengan nama-nama mantan menkes lho. Ruang J Leimena ini konon kabarnya adalah ruang yg istimewa karena merupakan ruang rapat menteri, jd (katanya sih) suatu kebanggaan bisa ikut acara di ruang itu.

Nah, sesampenya di sana udah banyak dokter-dokter yang bertengger di depan ruangan, karena belum boleh masuk ruangan, gue pun ketemu dengan sejawat dokter gigi sesama lulusan UI, yakni Akrom'05, Titi'05, dan Dena'07. Akrom mendapat daerah penugasan Kep.Morotai-Maluku Utara, Titi di Konawe Selatan-Sultra, dan Dena bersama gue di Kota Tual-Maluku.

Waktu terus berjalan..udah setengah 8 kok belum dimulai juga nih?? Daan..acara pun dimulai pada pukul 09.00. Errrrghhh...kembali teringat 70rb gue,,,hikz, nyesek, tau gitu tadi naik mobil aja.



Acara pun dimulai, kami diberi berbagai materi yg sebenarnya sih berguna, cuma karena terlalu padet dan banyak plus ngejar waktu jdnya puyeng jg. Dan acara puncaknya adalah sambutan Bu Menkes Dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, yang baru bisa hadir sekitar jam 12 lewat. Pada sambutannya bu menkes sangat mengapresiasi dokter-dokter muda yang berani ikut PTT. Kata doi (kurang lebih ya): "saya yakin dalam diri kalian mengalir darah adventure, walaupun sedikit, karena kalo tidak, kalian tidak akan berani untuk ikut PTT yang penuh tantangan ini."


Sambutan bu Menkes


Diskusi bersama bu Menkes dan para pejabat Kemenkes

Doi juga nyeritain pengalaman doi waktu bertugas di daerah terpencil 50 thn yang lalu, tepatnya di Ende NTT. Setelah ngasi sambutan, acara dilanjutkan dengan tanya jawab dan diskusi dengan Menkes, ISHOMA, daaan...Materi lagi (huuft zzzzz). So pasti semua peserta udah pada gak konsen. Setelah materi selesai, acara yang benar-benar puncak dan paling ditunggu pun dilaksanakan, yakni pembagian uang jalan dan SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas), yuhuuuy.

Udah tuh...Jam 4 gue pun pulang. Tadinya pengen naik busway ke lebak bulus, dengan rute gini:

Halte depkes » transit kuningan timur » transit semanggi » transit harmoni » lebak bulus

Atau

Halte depkes » transit dukuh atas » transit matraman » transit harmoni » lebak bulus

Tapi si Akrom ngingetin gue kalo rute itu terlalu panjang, lama, dan macet, katanya mending naik bus. Hmm,, iya juga yaa. Mikir lagi sambil jalan ke depan gedung kemenkes. Di pinggir jalan gue ngeliat kopaja jurusan manggarai, dan cling...diatas kepala gue muncul bohlam nyala, gue ambil trus gue jual deh,,bukaaaan!!! Gue jd kepikiran untuk naik kereta aja dari manggarai. Hmm...good idea, itu akan jauh lebih cepat. Tapi males naik kopaja nih, jd gw memutuskan utk memilih yg lebih kecil dan lebih cepat, yakni...jeng jeng jeng...Ojek lagi, hehe. Walaupun agak trauma sama kejadian tadi pagi, tapi bodo amat lah. Gue samperin lah abang-abang ojek dan kembali memulai negosiasi dan tawar menawar hingga didapatkan deal 25 rb sampe stasiun manggarai, yaa not bad lah.

Berangkat deh..eeh..baru nyampe kuningan city tiba-tiba gue merasakan titik-titik air yang mulai membasahi badan gw.

Allahumma shoyyiban naafi'an

Bang..bang neduh dulu
Iyaa mas ni lg nyari tempat neduh


Dan akhirnya kita pun neduh dulu di gapura Taman Pemakaman Umum Karet Pulo. Kirain mo neduh sampe ujannya reda, ternyata abangnya ngeluarin jas ujan dan nyuruh gw buat make, waah, swedia jg nih abang, saluut. Swedia apaan ya? Swedia jas hujan sebelum hujan maksud gue, hahay.

Okee setelah pake jas hujan dan masang rain cover di tas gue. Perjalanan pun dilanjutkan, dan kembali abang ojek ini membawa gue lewat jaltik alias jalan tikus, lewat jalan kuburan lagi. Karena hujannya cukup deras, jd gw harus merelakan sepatu dan kaos kaki gue kena ujan, soalnya jas ujannya emang ga nutupin sepatu. Gw juga agak khawatir isi dalem tas gue basah, karena rain covernya emang biasanya gak terlalu ngaruh. Gue cuma berdoa semoga SPPD-nya gak kenapa-kenapa. Klo sampe basah bisa gawat nih.

Akhirnya sampe juga di stasiun manggarai, disana gw langsung beli tiket dan nunggu di peron. Jam 5 kereta kosong jurusan serpong pun datang. Orang-orang pada rebutan masuk ke dalam, alhamdulillah dapet tempat duduk karena emang keretanya masih kosong. Gue pun langsung ngecek keadaan SPPD yang gue curigai basah, Alhamdulillah doi selamat. Tapi beberapa buku dan leaflet yang dibagiin saat pembekalan jadi pada basah. Yaudahlah yaa...gak dibaca juga, hehe.

Okee..sampelah gue di stasiun jurangmangu, stasiun yang terdekat ke rumah gue. Next Question, ke rumah naik apa ya? jarang naik angkutan umum nih selama di ciputat. Hmm...don't say that!!! Yeaaah,,,OJEK lagi :D. Dan seperti yang sudah-sudah gue mulai nego dan tawar, deal 20rb sampe taman kedaung. Maka ojek pun melaju,,,daaaan once again...gue dibawa melalui jalan tikus nan berliku dan gelap. Agak serem juga nih, takut diculik, hehe. Tapi gue udah siap tempur kok, apapun yang terjadi akan gw hadapi dengan segenap jiwa raga *ceile*. Tp untungnya enggak diapa-apain sih..gw akhirnya sampe rumah dengan selamat. Alhamdulillah.


So, kesimpulannya...

Today is Ojek and Jalan Tikus Day

Bravo tukang ojek dan jalan tikus...


Yeaayy


Nantikan kisah gue selanjutnya...
Masih dalam serial PTT kemenkes periode mei 2014

bersambung...

Kamis, 05 Desember 2013

Yang hobi baca merapat kemari...

Bismillahirrahmanirrahim

Pada kesempatan kali ini saya akan memperkenalkan sebuah gerakan atau bisa juga disebut tantangan yang pastinya akan sangat bermanfaat, khususnya bagi orang-orang yang doyan baca, ingin doyan baca, dan ingin mengembangkan dirinya.

Program ini disebut tantangan 30 hari membaca, dibuat oleh Aquarius Resource milik pak Agus Setiawan (founder dan master trainer bacakilat (teknik membaca 1 halaman 1 detik dengan pemahaman tinggi). Kebetulan saya juga adalah salah satu alumni dari training bacakilat ini. Jadi dalam program ini, pak Agus dan tim membuat semacam ringkasan buku-buku best seller dunia dalam bentuk pdf 8 halaman + audio mp3 (durasi 20 menit), ringkasan ini disebut dengan Aquarius notes.

Dari hasil survei online bacakilat yang menyurvei lebih dari 5237 orang, ditemukan masalah yang paling sering dihadapi orang dalam membaca adalah:

- Kekurangan waktu untuk membaca
- Sulit memahami
- Tidak konsentrasi
- Mengantuk
- Keder melihat buku tebal


Nah, jadi untuk meningkatkan minat baca dan meningkatkan kualitas pribadi, dibuatlah aquarius notes, dimana dengan membaca ringkasan pdf 8 halaman ini+mp3 penjelasannya, kita sudah sama dengan membaca buku aslinya, karena seluruh intisari buku itu telah diringkas.

Program ini akan berlangsung tanggal 1 - 30 Januari 2014. Bagi yang mendaftar dan mengikuti program ini akan dikirimi 1 ringkasan e-book+mp3 tiap hari selama 30 hari. Jadi anda tidak perlu repot-repot membeli buku dan menghabiskan berjam-jam untuk membaca 1 buku (kecuali anda sudah ikut training bacakilat, pasti bisa lebih cepet bacanya, hehe), tapi cukup luangkan 20 menit waktu anda.

Bagaimana? tertarik?
Jika anda memang berminat, silahkan daftar melalui link yang saya sertakan dalam posting ini. Tapi perlu anda ketahui, untuk membuat ringkasan buku+audio mp3 pastinya perlu biaya dan terdapat hak cipta pembuatnya. Maka dari itu anda perlu sedikit menginvestasikan uang anda, hehe, tapi tenang saja, gak banyak kok, pastinya jauh lebih murah dari membeli 30 buku impor.

Investasinya hanya Rp.497.000,-. Bandingkan jika anda membeli buku impor yang anggap saja harganya Rp.100.000/ buku (100.000 x 30 = Rp. 3.000.000,-). Wooow...plus banyak sekali manfaat yang akan anda dapat karena ke30 ringkasan buku yang anda akan dapatkan adalah buku-buku best seller dunia dan merupakan buku-buku pengembangan diri.

Daaaaa...
Bukan cuma itu, anda juga bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari program ini. Tapi caranya tidak akan saya beritahu disini, caranya hanya akan diberitahu jika anda sudah mendaftar. Dan karena ini bukan MLM atau sejenisnya, maka tidak ada janji muluk-muluk akan dapat penghasilan segini dan segitu, karena itu bukan poin utamanya. Penghasilan tambahan ini hanya sebagai reward untuk orang-orang yang mengikuti program ini, dan itu juga bukan suatu keharusan, hanya sebuah pilihan, mau diambil boleh, enggak juga gak apa-apa.

So, ingin jadi pribadi yang lebih baik sambil meningkatkan minat baca pluuuus dapat penghasilan tambahan, buruuuan langsung ke TKP aja yaaa, monggoo:

Rabu, 24 Juli 2013

Galau Pasti Berlalu



Halo dunia blog, lama tak jumpa nih. Mungkin pada bertanya-tanya saya lagi kemana nih?? (hehe, ge er tingkat dewa). Saya gak kemana-mana, Alhamdulillah masih hidup, masih diatas bumi, dan masih di kota Jakarta dan sekitarnya, walaupun sekarang lebih banyak menetap di sekitarnya sih. Setahun belakangan ini saya hampir benar-benar vakum dari dunia blog, tentunya karena kesibukan baru sebagai seorang dokter gigi, suami, dan baru saja menjadi ayah.

Pada postingan kali ini, saya tergelitik (entah siapa yang menggelitik) untuk membahas sebuah fenomena unik yang terjadi di masyarakat, khususnya di kalangan kawula muda, yakni “galau.”

Dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI), galau merupakan sebuah adjektiva/ kata sifat yang berarti: sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran), mungkin definisi yang kedua yang lebih mendekati makna galau yang sedang trend saat ini. Pemakaian kata galau sebenarnya sangat luas, namun yang terjadi sekarang menurut saya adalah sebuah penyempitan makna. Kebanyakan (tentunya tidak semua) anak muda sekarang memaknai galau lebih pada masalah percintaan dengan lawan jenis. Bercermin dengan pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain, hipotesis saya mengatkan bahwa kegalauan macam ini hanya menyerang orang-orang single alias jomblo atau orang-orang yang belum menikah, atau orang-orang yang udah ngebet nikah, dan sejenisnya. Beberapa teman sebelum menikah sangat terlihat galaunya. Hal ini bisa dilihat dari status BBM, FB, tweet-nya, atau omongannya sehari-hari, dan sorry to say, sepertinya saya juga mengalaminya dulu -_____-. 


Tapii..seperti judulnya, galau itu pasti berlalu. Setelah menikah, rasanya kegalauan dan hasrat ingin galau sirna begitu saja. Saya juga memerhatikan ini terjadi pada banyak orang. Mungkinkah galau itu sebuah penyakit kejiwaan? Tapi ada juga lho yang udah nikah masih tetep aja galau, masih ngeluh di socmed masalah rumah tangganya. Contoh nih ya, ada seorang kenalan yang udah nikah, nulis status BBM: ”Seandainya putus pernikahan semudah putus pacaran.” Please deh, mau segede apapun masalah lo ga perlu dikasi tau ke semua orang kali. Ckckck…mungkin tipe orang yang kayak gini perlu dirujuk ke psikiater atau terapis kejiwaan. Yaah, tapi ini hanya sebagian kecil aja sih.

Jadi, secara garis besar, penyakit “galau” itu dapat menyerang 3 kelompok orang, yakni:
1.      Jomblo
2.      Orang yang belum nikah dan ngebet pengen nikah
3.      Orang yang udah menikah tapi punya “masalah” kejiwaan

Dua kelompok pertama adalah yang paling tinggi populasi galaunya, hehe.

Jadi intinya adalah: menikah bisa menghilangkan kegalauan..So, untuk para galauers, menikahlah.. :p

PS:
-          Saya bukan pakar psikologi atau sosiologi, ini hanya pendapat amatir.
-          Dilarang keras menjadikan tulisan ini sebagai bahan referensi ilmiah, seperti skripsi, tesis, atau disertasi.
-          Sekian dan terima kasih