Senin, 02 Juni 2014

PTT Notes 009: Rekreasi sebelum terisolasi

Catatan tanggal 17-18 Mei 2014

Sabtu, 17 Mei 2014

Hari ini dari pagi sampe sore gue di rumah Ilyas aja. Trus jam 4 sore kami berangkat menuju pantai Difur yang berada di Dullah Utara. Dalam perjalanan ini si Indri mabok darat (lagi) sehingga doi jadi silent. Dan dalam perjalanan ini terjadi insiden roti'o, begini ceritanya:

Jadi ceritanya nyokap Ilyas tuh baru dateng dari Ambon, trus doi bawa beberapa pcs roti'o. Naah pas gue sm Ilyas mo berangkat, si Ilyas disuru bokapnya bawa roti itu buat bekal, bokapnya nyuruh bawa 4 pcs karena kita emang berempat. Kebetulan roti'o nya tinggal 6pcs. Jadi kata bokap Ilyas: 4 buat kalian, 2nya lagi buat bapak dan Arman. Tapi si Ilyas kayaknya ga terlalu merhatiin kata bapaknya jadinya doi bawa 5 pcs dan ditaro dalam kantong plastik bersama botol air minum.

Naah kembali ke mobil
Dalam perjalanan menuju pantai Difur, tetiba botol air minum Ilyas tumpah dan menggenangi seluruh roti'o, dan tidak ada seorangpun dari kami yang menyadarinya sampe Dena ngecek kantong tersebut. Maka jadilah roti'o dengan tekstur mendekati bubur atau risotto kali yah..hahahaha. Pas dimakan rasanya agak-agak hambar karena udah kerendam air. Ckckkck

Pesan sponsor: Dengerin pesan orang tua!

Pantai Difur
Dan sampailah kami di pantai Difur yang ternyata airnya lagi pasang. Untuk masuk ke pantai Difur kami harus membayar Rp.20.000,-. Seperti biasa disini kami foto-foto. Pemandangan di pantai Difur lumayan bagus, cuma kayaknya pantai ini gak terlalu terawat. Kami ngabisin waktu banyak di dermaga kayu yang udah mulai lapuk dan miring-miring, tapi tetap menarik. Di dermaga ini terjadi sebuah insiden lagi, yakni tiba-tiba muncul rembesan air dari tas Indri, ternyata botol minum doi juga tumpah cuy..Maka hari ini gue nobatkan sebagai Hari Botol Minum Tumpah se-Kota Tual cuit cuit...prok prok prok..













Foto-foto di Pantai Difur

Pantai ini cukup rindang dan teduh, karena di sepanjang pantainya dipenuhi pepohonan. Pas kami datang keadaannya juga cukup sepi. Tapi yang bikin gue kaget adalah jatuhnya seekor ular kecil dari atas pohon..wakakakak..untungnya jatuhnya bukan di kepala salah satu dari kami, kalo iyaa bisa gawat tuh. Hehe.

Sekitar jam setengah 6 kami meninggalkan pantai Difur. Di perjalanan pulang kami sempat singgah di tepi-tepi pantai di sepanjang jalan kecamatan Dullah Utara, entah apa nama desa-nya. Kami sempat beberapa kali berhenti di beberapa spot untuk ngambil foto.









Foto-foto di Dullah Utara

Sampe di dalam kota, Ilyas membawa kami puter-puter sampe nyasar. Nah lo..ni anak Tual malah nyasar di Tual..hahhaa, dan akhirnya kita nyampe di sebuah tempat tinggi yang dari situ kita bisa ngelihat kota Tual dari atas, dan juga lihat sunset. Gue pun langsung ngambil foto walaupun agak sulit karena kondisinya low light, cuma pake kamera HP, dan ga ada tripod untuk stabilisasi. Bagi yang pernah belajar fotografi pasti tau kalo dalam kondisi low light, maka kamera harus memperoleh lebih banyak cahaya dengan cara memperbesar bukaan diafragma (Aperture) atau memperlama kecepatan rana (shutter speed). Yaah begitulah..ini kenapa jadi kuliah fotografi dah..


Kota Tual dari ketinggian di kala senja

Abis itu kami pun balik ke tempat masing-masing dan siap-siap untuk nanti malem kumpul-kumpul bareng dokter PTT lama di warung saraba dekat jembatan Pusdek (jembatan yang menghubungkan kota Tual dengan kabupaten Maluku Tenggara).

Warung Saraba
Sekitar jam 8 kami nyampe di warung saraba. Tempat ini berbentuk rumah panggung di atas permukaan laut, dan keseluruhan bangunannya terbuat dari kayu. Di tengah-tengah warung ini terdapat karamba buat melihara, ikan, udang, kepiting, dan lobster. Pencahayaan di dalam warung ini agak remang-remang. Sementara di halamannya atau dengan kata lain pinggir jalan dekat jembatan pusdek, penerangannya hampir gak ada, sumber cahaya hanya berasal dari penjual jagung bakar. Jadi untuk menuju ke warung saraba dari pinggir jalan harus sedikit hati-hati biar gak kesandung atau salah injek kepala orang (lho?).

Di warung ini gue mesen saraba telor dan pisang goreng keju. Gila udah lama banget gue gak minum saraba. Bagi yang belom tau, saraba itu adalah minuman khas sulawesi selatan yang dibuat dari jahe, gula merah, dan kadang ditambahkan telor ayam kampung.

Sembari menunggu pesanan datang (yaah kira-kira pesanannya datang 7,5 abad lah...lama cuy), gue ngobrol-ngobrol sama dokter PTT lama. Dan setelah menunggu 7,5 abad maka datanglah pesanan kami. Dari penampilan makanan dan minumannya kok agak-agak gak meyakinkan yaah. Tapi yaudahlah, dicoba dulu..gue mulai dengan saraba-nya..hmm..hmm..hmm..

Rasanya hambar bray, low sugar, cocok untuk penderita diabetes, rasa jahenya juga ga terasa. Menurut teori kuliner yang pernah gue denger, kalo aroma dan rasa jahe gak keluar itu disebabkan karena merebus jahe barengan dengan gula merah dan bahan lainnya. Harusnya jahenya direbus sendiri dulu sampe aromanya keluar, baru bahan lain dimasukkan. Gitu cuyy..catet yee kalo lo pada mo bikin sarabba atau wedang jahe.

Kalo kata Ami: saraba ini kayak kuah kolak. Wkwkkw..setuju dah.

Jadinya gue agak kecewa dengan sarabanya. Lanjut ke pisang goreng keju-nya: ada 3 potong pisang goreng dengan potongan sedang, terus dikasi susu kental manis cokelat seuprit trus ditaburin keju parut seuprit juga. Wooow..rasanya..ya biasa aja, nothing special.

Di samping kursi yang kami tempati, ternyata ada pak Hafid, dkk (Tual kecil bray, jadi kemana-mana juga pasti ketemu orang yang dikenal hehe). Jadinya gue sekalian nanya masalah pemberangkatan ke pulau Kur, kebetulan doi yang akan nganterin gue dan Ilyas ke pulau Kur nanti. Hmm, ternyata kami dijadwalkan akan berangkat senin pagi. Sebelumnya dijadwalkan minggu malem, tapi karena faktor cuaca jadi kapal gak bisa berlayar.

Setelah itu kamipun siap-siap pulang dan bayar makanan dan minuman yang sudah kami makan. Saraba telor for diabetic person dibanderol Rp.15.000 sementara pisang goreng dengan cokelat keju seuprit dihargai Rp.7.000. Jadi total gue harus bayar Rp.22.000. Harga yang tidak pantas untuk kualitas makanan serendah itu (Sorry to say)

Pas di tempat parkir sebelum pulang. Bang Idham (drg.PTT juga) dipalak sama seseorang disitu. Doi dimintain 20.000, tapi doi cuma ngasi 5.000. Katanya doi udah 2 kali dipalak sama orang yang sama. Huuft..oke deh. Malam ini secara resmi kami sampaikan bahwa tempat ini HIGHLY NOT RECOMMENDED, terutama buat pendatang. Jadi kalo ke kota Tual mending ga usah kesini ya, kecuali bareng polisi atau prajurit kopassus lah.

Dari saraba kami lanjut ke Gota (lagi), biasaa, Indri dan Dena mo belanja dan beli CFC buat makan malem. Abis itu kami nganterin dokter-dokter PTT Maluku Tenggara di rumah Dinas, trus ngedrop Indri, Dena, dkk di kosan, baru kembali ke rumah Ilyas, late dinner, trus tidur deh.

###

Minggu, 18 Mei 2014

Tujuan kami hari ini adalah gua hawang, pemandian alam Evu (baca: Evwu » kayak orang perancis), dan pantai pasir panjang.

Kami berangkat konvoi bareng dengan Ami, dan dokter-dokter PTT yang lain. Ami, dkk mo ke Evu buat latian diving, jadi kami sekalian ngekor di belakang mereka.

Tujuan pertama kami adalah gua Hawang, yang terletak tidak jauh sebelum Evu.

Gua Hawang
Ami, dkk hanya menunjukkan kami jalan masuk menuju gua Hawang, lalu merekapun lanjut langung ke Evu. Perjalanan ke gua Hawang memakan waktu sekitar 1 jam dari Kota Tual. Sepanjang jalan si Indri "ratu mabok" tertidur akibat efek antimo.

Jalan masuk menuju gua hawang hanya seperti jalan hutan biasa, gak akan ada yang mengangka kalo itu adalah jalan masuk menuju obyek wisata yang cantik. Mobil Ilyas pun parkir dan gue sendiri masuk ke dalam hutan buat mastiin di dalam benar-benar ada gua yang kami tuju. Gue terus masuk sampe ngelihat ada tangga turun ke bawah, gue yakin itu tangga menuju gua hawang, dan gue juga mendengar suara-suara benda yang dipukulkan pada benda lain, gue pikir itu suara orang nebang pohon. Gue pun kembali dan ngajak semuanya jalan ke dalam hingga sampailah kami di gua Hawang.


Gua Hawang,,,sayang ada yang nyuci -__-

Di gua ini ada telaga yang airnya sangat jernih dan berwarna biru kehijauan. Pokoknya cantik banget, tapi sayang sekali, di telaga cantik ini ada sekelompok wanita yang lagi nyuci baju. Ternyata suara-suara yang gue denger tadi adalah suara baju yang di kibas-kibaskan di batu. Hikz..sayang banget nih obyek wisata cantik harus dikotori oleh orang nyuci. Tadinya gue berniat nyebur dan mandi di telaga gua ini, tapi ga jadi cuy, daripada berenang di air detergen. Hehehe. Akhirnya kami cuma foto-foto sebentar lalu lanjut ke Evu.

Pemandian Alam Evu
Perjalanan dari gua Hawang ke Evu ditempuh dalam waktu sekitar setengah jam. Evu ini adalah sebuah kolam buatan yang airnya diambil dari aliran air gunung. Setelah di tampung di kolam airnya kemudian dialirkan lagi ke sungai, jadi sirkulasi airnya selalu terjaga. Sampe di Evu, setelah duduk sebentar gue dan Ilyas langsung ganti baju dan nyebur. Kolam ini kedalamannya sekitar 2-3 meter, jadi gak direkomendasikan untuk orang yang gak bisa berenang. Masuk ke Evu tidak dipungut biaya, kita cuma perlu bayar kalo make kamar mandi buat mandi, buang air atau ganti baju.





Pemandian Alam Evu

Gue pun berenang-renang dalam jarak pendek, karena jarang berenang, jadi gak bisa berenang dalam jarak jauh. Sekali gue nyoba berenang dari sisi kolam satu ke sisi lainnya yang berjarak sekitar 50 meter secara non-stop, gue langsung pusing dan mual cuy. Dan akhirnya berenti berenang. Gue langsung nenggak polysilane buat ngurangin rasa pengen muntah. Abis itu udah lumayan enak. Gue dan Ilyas pun ganti baju kering kemudian lanjut jalan lagi menuju pantai Pasir Panjang.

Indri nawarin diri buat nyetir ke pasir panjang, karena doi katanya kalo nyetir jadi gak mabok. Ilyas pun mengiyakan. Maka berangkatlah kami menuju pantai pasir panjang. Perjalanan udah hampir 1 jam tapi kami belum juga sampe ke pantai pasir panjang, malah kami jadi masuk ke sebuah perkampungan. Tau gak apa artinya? Yup..kita nyasar. Ilyas pun turun bertanya pada orang-orang di kampung itu dan akhirnya diberitahu jalan yang benar menuju pantai pasir panjang. Abis itu Ilyas kembali ngambil alih kemudi menuju pantai pasir panjang yang sebenarnya. Indri dan Dena tertidur pulas dalam perjalanan ini. Gue yang iseng sempet motoin mereka yang lagi mangap pas tidur, ckckck..tapi gak gue posting kok fotonya. Nanti aja kalo mereka macem-macem bisa buat ancaman tuh foto, hihihi.

Sekitar 30-45 menit dari tempat nyasar, kamipun sampe di pantai pasir panjang atau dalam bahasa Kei-nya "Ngur Bloat" (baca: ngur baloat)

Pantai Pasir Panjang
Pantai ini sesuai namanya memiliki pasir putih yang sangat panjang. Pasirnya putih dan sangat halus seperti tepung. Air lautnya jangan ditanya, biru dan hijau bening, langitnya juga cantik. Yeah, gue bisa menyebutnya "hidden paradise"-lah. Pas kami datang tuh siang bolong, jadi mataharinya serasa ada tujuh cuy, panas bener. Gue gak sanggup ngambil foto lebih dari 2 menit lantaran panas dan silaunya. Untuk masuk ke pantai ini dikenakan biaya Rp.12.000,-









Pantai Pasir Panjang

Selain ngambil foto, kami juga makan rujak (rasanya ga seenak rujak pantai Natsepa, Ambon), dan juga makan pisang embal yang katanya khas di pantai ini. Pisang embal adalah pisang goreng yang dilapisi embal. Embal itu sendiri adalah singkong/ kasbi (orang sini biasa nyebut singkong dengan "kasbi") yang ditumbuk dan dikeringkan. Pisang embal disajikan dengan sambal. Rasanya jangan ditanya..enak tenan..maknyoos. Pisangnya manis dan lunak, sementara embalnya teksturnya setengah krispi dengan rasa gurih. Harga seporsi pisang embal adala Rp.15.000,-. Kami mesen 2 porsi.





Pisang Embal

Oya satu hal yang perlu lo tau kalo datang ke pantai pasir panjang. Yakni jangan asal duduk di saung. Karena setiap saung ada yang punya dan harus bayar. Biasanya ditagihnya kalo kita udah mo pergi. Jadi setengah-setengah jebakan batman gitu deh. Harga sewa saung ini berkisar antara Rp.20.000 - Rp.30.000. Dan plis jangan pindah-pindah saung kecuali lo banyak duit. Karena tarif sewanya ya sama mo duduk lama atau sebentar. Kalo mau pake saung ya pilih aja satu dan duduk terus disitu sampe selesai. Itu yang terjadi pada kami, waktu makan rujak dan makan pisang embal saungnya beda karena jarak warungnya juga jauh. Jadinya kami harus bayar saung dua kali. Untuk ngakalinnya, ketika mesen makanan dan pengen makanan lain yang ga ada di warung itu, minta aja ke ibu-ibu warungnya buat mesenin dan bawain ke tempat kita. Doi pasti mau kok. Kayak waktu mesen pisang embal, sebenarnya ibunya udah nawarin buat mesenin rujak dan bawain ke tempatnya, tapi kitanya yang gak mau, karena gak tau. Jadinya ya begitu, kita harus bayar saung dua kali.

Menjelang pulang, tiba-tiba ada nenek-nenek renta yang datang nawarin sapu lidi. Doi udah tua banget dan jalanpun udah gemetar. Beberapa sapu lidi dipikul di pundaknya. Saat menghampiri kami, kami hanya bilang "seng..seng..ibu" (bahasa maluku artinya: tidak-tidak..ibu). Namun setelah doi berlalu, Indri katanya pengen beli sapunya 50.000 buat sedekah dan minta gue buat nyemperin ibunya, gue akhirnya nemenin Indri yamperin ibunya dan mencoba berkomunikasi sama doi walaupun agak susah, karena kendala bahasa dan usia. Sampe akhirnya Indri beli semua sapu lidinya seharga 50.000. (Ini jadi kayak acara Jalinan Kasih gitu deh) Sebenarnya sapu lidi itu gak layak pakai karena sangat panjang dan tidak beraturan. Tapi Indri tetep bersikukuh agar sapunya dibawa masuk ke mobil. Padahal kami udah nyaranin biar ditinggal aja di pantai. Akhirnya sapu itu pun kami bawa pulang, dan akhirnya kebawa sampe rumah Ilyas, dan Indri gak bertanggung jawab atas sapu ituu..okeeeh. Ntar sapunya gue kirim via pos dah ke kosannya,,,hihihi. Tapi gue cukup salut sama Indri, walaupun terkadang (atau mungkin sering) agak sedeng, ternyata doi masih punya jiwa sosial (White campaign nih).

Malamnya, gue diajak ke rumah pak Muh (Omnya Ilyas) karena ada acara keluarga. Di sana gue disuguhin nasi pulut, yakni ketan putih yang disiram dengan toping kelapa parut yang dicampur gula merah dan kayu manis. Selain itu gue juga dikasi pisang goreng, ubi goreng, dan teh manis. Semua cemilannya berat cuy. Jadinya gue cuma bisa ngabisin 3/4 nasi pulutnya karena udah kenyang.


Nasi Pulut

Dari rumah pak Muh, gue, Ilyas dan bapaknya ke Gota (again) buat belanja keperluan berangkat besok. Kalo gue sih cuma beli makanan ringan dan vitamin C, karena semua perbekalan udah gue cicil sebelum-sebelumnya. Sementara Ilyas belanjanya cukup banyak. Dari Gota kami kembali ke rumah, gue pun selesein packing, dan tidur.

Dan begitulah rekreasi kami hari ini. Besok gue dan Ilyas insya Allah akan berangkat ke Pulau Kur, salah satu pulau yang sangat terpencil di Kota Tual ini. Sementara Indri dan Dena akan berangkat ke pulau Tayando hari rabu nanti. Wish us luck..

bersambung..

PTT Notes 008: Menanti Sebuah Jawaban

Catatan tanggal 14-16 Mei 2014

Rabu, 14 Mei 2014
Hari kedua di Kota Tual. Gue dan yang lainnya berharap hari ini bisa ketemu bu Kadis dan dapat SK penempatan supaya bisa ngaktifin rekening BRI dan ngurus gaji biar gajinya bisa diterima tepat waktu bulan depan. Hmm...tapi sayang kenyataannya tidak demikian, bu Kadis-nya masih di Ambon dan rencana pulang sore ini atau besok pagi. Batas pengurusan gaji pusat tuh tanggal 15, kalo lewat dari tanggal itu ya bakal telat, dan sekarang udah tanggal 14, plus besok adalah hari libur. Jadi..lo tau kan artinya? Gaji kami bakal telat. Okay..makasih lho. Gapapalah..semi-semi gabut ini :p.

Jadinya hari ini gue cuma ke optik buat ganti kacamata gue yang rusak. Sementara Indri dan Dena sore-sore ke pasar bareng Ilyas buat beli barang-barang buat di kosan. Gue sendiri memilih di rumah Ilyas aja buat nulis blog.

Rencana besok adalah ke Pantai dan pastinya ketemu bu Kadis untuk menanti kepastian penempatan kami. Kalo masalah gaji kami udah pasrah..

Stop Press
Tim MTB dan Kep.Aru hari ini sudah diberangkatkan dari Ambon menuju kabupaten masing-masing. Good luck brosis!!!

Kamis, 15 Mei 2014
Pagi ini di rumah Ilyas gue disuguhin pisang goreng dan sambal. Sementara belum ada kepastian kapan dan dimana kita bakal ketemu bu Kadis hari ini. Gue pun nanya ke Pak Usman lewat SMS, dan doi bilang kalo hari ini jadi tapi waktu dan tempatnya belum pasti. Okay..we have to wait.

Karena ketidakpastian ini, jadinya rencana ke pantai hari ini dibatalkan.

Sambil menanti kepastian, sekitar jam 10 pagi gue dan Ilyas pergi ke tengah kota buat nyari sinyal HP yang lebih bagus, soalnya di rumahnya sinyal HP agak ngadat. Ilyas katanya pengen downloan aplikasi di google play, sementara gue pengen update blog yang sedari kemaren gak berhasil-berhasil et causa sinyal buruk. Abis internetan, kami jalan-jalan ke kecamatan Dullah Utara, di sana kami ngelewatin kawasan minapolitan dari perusahaan ikan terbesar di kota Tual, dan pastinya ngelewatin tepi-tepi pantai yang pemandangannya Subhanallah indah-nya. Jalan yang kami lewati ini adalah jalan menuju pantai Difur, namun kami tidak sampai ke sana, karena kami berencana kesana bareng Dena dan Indri juga. Di sepanjang pinggir pantai yang kami lewati banyak terdapat pekuburan, entah kenapa orang-orang sini memilih tempat pemakaman di pinggir laut dan tepi jalan seperti ini.

Sekitar jam 12 siang, kami kembali ke rumah Ilyas. Hari ini bapaknya si Ilyas bakalan datang dari Jakarta sekitar jam 2 siang nanti. Ilyas pun ke Bandara buat ngejemput, sementara gue di rumah nyetrika baju dan tiduran.

Sekitar jam 3 Ilyas dan bapaknya datang, dan kami pun makan siang bareng dilanjutin ngobrol-ngobrol. Di tengah obrolan kami pak Usman ngirim sms kalo malam ini jam setengah 8 kami diminta ke rumah walikota untuk ketemu pak walikota dan bu kadis. Gue pun langsung ngelanjutin info ini ke Ilyas, Dena, dan Indri. Sekitar jam setengah 5, gue dan Ilyas jalan ngejemput Dena dan Indri buat ke Gota Swalayan, karena mereka masih mo belanja.


Gota Swalayan, the biggest and the only supermarket in Tual City


Kelakuan dokter PTT di Gota, wajah pelaku dr.Indri disamarkan karena alasan privasi dan nama baik

Dari Gota kami semua kembali ke rumah Ilyas, makan malam, dan berangkat ke rumah walikota pada jam setengah 8 malam dengan ngejemput pak Usman di hotel Dragon terlebih dahulu. Janjian malam ini ditunda jadi jam 8.

Flash back sedikit..
Saat sampe ke rumah Ilyas dari Gota, si Indri melakukan tindakan aneh bin nyeleneh lagi, apakah itu? Doi nyuruh gue dan Dena buat nyiumin sepatunya, katanya: "wangi nih..ayo cium" sambil nyodorin sepatunya ke hidung gue. Errrgh ogah dah!!! Tapi dari tingkah lakunya yang mulai kembali aneh, kayaknya keceriaannya mulai kembali seperti semula dan udah mulai bisa deal sama masalah yang lagi doi hadapi.

Sementara si Dena sepertinya batuknya udah mulai baikan, setelah minum antibiotik. Alhamdulillah yaa..gue senang dan bersyukur mereka berdua udah kembali "waras" (waras dalam bahasa jawa bermakna "sehat").

Di rumah Walikota Tual
Yang kami bayangkan sebelum ke rumah pak Wali adalah kami disambut dan disuguhkan berbagai macam makanan dan minuman yang enak-enak..hihiy..sampe-sampe pak Usman rela untuk tidak makan malam sebelum ke rumah pak wali karena berharap disana disuguhin makanan. Bagaimanakah kenyataannya??

Lanjut..

Ternyata tamu pak walikota malam ini bukan cuma dokter PTT, pak Usman, dan bu Kadis, tetapi ada juga tim visitasi dari Kemenkes yang datang ke Kota Tual untuk meninjau RSUD Kota Tual yang baru didirikan. Dan nampaknya yang menjadi prioritas pak Wali adalah tamu dari Kemenkes itu (yaeyalah emang kita siapee?), jadinya kami harus menunggu sampai pembicaraan panjang khas birokrat mereka selesai.

Setelah pembicaraan dengan Tim Kemenkes selesai, dan tim kemenkes pulang, barulah kami maju untuk berbincang-bincang dengan pak wali dan bu Kadis. Pada kesempatan ini bu Kadis pun mengumumkan kepastian lokasi penugasan kami. Seperti yang udah diperkirakan, gue dan Ilyas dapat di Pulau Kur, sementara Indri dan Dena di Pulau Tayando. Dan diberitahu juga kalo insentif daerah untuk kedua pulau itu sudah dinaikkan. Yeeey Alhamdulillah. Waktu denger pengumuman penempatan kami, si Indri udah pengen jejeritan kayak anak kecil, tapi untungnya gue tahan..yaeyalah..ntar malu-maluin depan walikota, hihi. Yaa entah kenapa Indri dan Dena mungkin masih belom siap ditempatin di Pulau yang agak terisolasi dan jauh dari Kota, tapi ya mo gimana lagi..namanya juga PTT, mau ga mau harus mau, karena kita sudah memilih jalan ini.


Peta Lokasi Penempatan Kami

Setelah bincang-bincang malam ini, kamipun pergi meninggalkan rumah pak Wali.

Hmm..sebentar..sebentar..kayaknya ada yang kurang deh, apa tuh?? Haha yup..suguhan makannya mana?

Good question

Dan jawabannya adalah: di rumah pak wali kami gak dikasi apa-apa, aqua gelas pun enggak...wkwkwkw..poor pak Usman.

Gue dan yang lainnya sih biasa aja yaa, soalnya udah makan malam. Yang kasian pak Usman doang, hihi..sabar ya pak, itung-itung diet.

Sepanjang jalan pulang dari rumah pak wali, si Indri dan Dena pun melampiaskan jejeritan dan nangis-nangis boongannya yang tadi sempat tertahan. Yeaaah..tapi jeritan tinggallah jeritan..sekarang tinggal menghitung waktu sampai hari keberangkatan di lokasi penugasan. Semangaaaatttt!!!!

Jum'at, 16 Mei 2014
Waktu bangun pagi gue ragu gue masih ada di kota Tual apa udah pindah ke kutub utara, soalnya dingin beneer. Gue jadinya harus matiin kipas angin yang terus menampar-nampar badan gue dengan sengatan hawa dingin yang membekukan raga (halaaah).

Pagi ini kami berempat harus ke Dinkes buat ngambil SK. Di kantor Dinkes, setelah menunggu beberapa saat dan mendapat sedikit pengarahan yang "tidak jelas" dari pak sekretaris dinkes (gak jelas karena volume suaranya mendekati gelombang suara infrasonik), akhirnya SK kami pun dibagikan. Setelah SK dibagi kami langsung cus ke BRI buat aktifin rekening. Abis dari BRI kami kembali ke rumah Ilyas. Waktu nyampe rumah Ilyas si Indri kembali sedeng maksa kita nyiumin sepatunya lagi yang katanya wangi itu. Ampun dah ni makhluk. Sebenarnya gue sih mau aja nyium sepatunya asalkan doi mau gantian nyium sepatu gue juga, wahahaha (mau gak ndri??)

Di rumah Ilyas kita makan siang bareng, trus gue dan Ilyas shalat jum'at. Sementara Dena dan Indri istirahat.

Sorenya gue nemenin Indri dan Dena belanja di pasar, si Ilyas cuma ngedrop karena ada urusan lain. Gue sebenarnya gak cuma nemenin sih, tapi merangkap jadi porter barang belanjaan mereka. Huuuft...gapapalah, gue gak tega juga melihat partner-partner gue ini kewalahan ngangkat belanjaan di pasar kota yang masih asing ini.


Salah satu sudut pasar Tual

Abis belanja di pasar kami dijemput lagi sama Ilyas dan nganter Indri dan Dena lagi ke Gota buat beli barang yang (kayaknya masih selalu) kurang. Okay bray, jangan bosen denger kata-kata Gota yaa..soalnya ini satu-satunya supermarket di Kota Tual dan Kab.Maluku Tenggara, dan hampir selalu kami kunjungi. Tiada hari tanpa Gota...hahaha

Di gota tadinya gue pengen beli onion ring di CFC, tapi ternyata udah abis, jadinya gue dan Ilyas Beli Gota Ice cream seharga Rp.6.000/ cup.


Gota Ice Cream

Dari Gota kami ngedrop Indri dan Dena di kosan trus kembali ke rumah Ilyas. Malam nanti kita bakal keluar lagi nih bray...soalnya diajakin bokap Ilyas makan ikan bakar. Aseek..

Malemnya sekitar jam 8, gue, Ilyas, Arman (adik bungsu Ilyas), Dena, dan Indri makan malem di warung sari laut jawa yang terletak di dekat RSUD Karel Satsuitubun Kab.Maluku Tenggara. Di warung ini kami milih ikan sendiri, dan gue memilih 1 ikan kerapu gede buat dimakan sendiri..hihihi. Ilyas juga milih 1 ikan gede, sedangkan Dena dan Indri 1 ikan berdua.

Maka kamipun melahap ikan-ikan ini sampe tak berbentuk lagi..tentunya ikannya dimakan dengan sambal colo-colo. Daaan tak lupa difoto juga.





Ikan bakaaaar

Oyaa..si Indri dengan sotoy-nya ngepath foto kami yang lagi makan ikan bakar ini dengan caption: "ikan baronang colo-colo". Hahaha..Please deh..dari ketiga ikan yang kami makan, gak ada satupun ikan baronang..ni orang ngarang darimana coba..

Udah kenyang..maka kembalilah kami ke peraduan masing-masing.

###
Kepastian yang kami nanti telah datang. Berikutnya tinggal menunggu kepastian kapan kami akan diberangkatkan ke Pulau. Sambil menunggu waktu keberangkatan, kamipun berencana untuk rekreasi di Kota Tual ini. Gue pengen ngasi judul: "rekreasi sebelum terisolasi." Seperti apakah rekreasinya..tetap ikutin kisah gue di blog ini.

bersambung...

Rabu, 14 Mei 2014

PTT Notes 007: Welcome to Tual City

Selasa, 13 Mei 2014

Hari ini hanya dua Kabupaten yang berangkat, yakni Kota Tual dan Buru Selatan, menyusul Maluku Tenggara Barat (MTB) dan Kep.Aru akan berangkat besok (14 Mei 2014), sementara Seram Bagian Barat (SBB), dan Seram Bagian Timur (SBT) sampai berita ini diturunkan belum ada kejelasan kapan berangkatnya.

Bangun pagi gue disambut oleh surat cinta lewat BBM yang dikirim istri gue, isinya kayak gini:

Happy anniversary sayang. Semoga jodoh kita panjang dunia akhirat dan diridhoi oleh Allah. Aminn.. kamu ada di tempat yang jauh tp selalu ada di hati aku *nunjuk dada. Pulanglah dengan sehat selamat sampai ke rumah. Jgn sampai tersesat ataupun lupa jalan pulang. Aku menunggumu disini di rumah bersama anak kita, menantimu membawa rezeki dari Allah untuk kami. Lekaslah pulang setelah selesai pengabdianmu, krn aku membutuhkanmu untuk mendidik anak kita dan menua bersama. Love you always Insya Allah -tiara :')

Ngebaca itu gue langsung nangis. Terlebih lagi semalam gue mimpi ketemu dan ngegendong anak gue. Aaarghh..harus kuat, harus kuat. Semua gue lakukan demi keluarga juga kok.

###
Gue udah siap berangkat sejak jam 7 pagi, sambil nungguin pak Pai supir mobil sewaan (yang juga kami pakai saat ke pantai), gue ngobrol-ngobrol sama Win. Jam 8 pak Pai pun datang, gue langsung masukin koper dan tas sendiri ke mobil serta bantuin ngangkat koper dan tas Indri dan Dena yang super berat itu, Win juga ikut ngebantu. Tak lupa gue pamitan sama teman-teman kabupaten lain yang belum berangkat. Dalam proses pengangkutan koper ini terjadi kecelakaan kecil, yakni gue gak sengaja nibanin kaki Indri pake kopernya sendiri sampe doi teriak-teriak kesakitan dan hampir nangis, ckckck..sorry sis, gak sengaja, lagian sapa suru koper berat-berat.

Setelah semua koper masuk, gue bertiga pamitan sama Win dan pegawai-pegawai Bapelkes. Setelah itu berangkatlkah kami meninggalkan daerah kudamati yang sudah menemani kami selama seminggu ini. Tujuan kami selanjutnya adalah daerah batumerah buat ngejemput Ilyas. Setelah Ilyas dan barang-barangnya terangkut, langsung meluncur deh ke Bandara.

Sepanjang jalan kami ngobrol-ngobrol dengan pak Pai. Pak Pai ini orangnya sangat baik dan lucu. Alhamdulillah gue sempet minta nomer HPnya pas pulang dari pantai hari sabtu yang lalu, jadi pas butuh mobil rental buat ke bandara ya tinggal nelfon doi. Doi sempet nyeritain kisah hidupnya yang lumayan mengharukan. Jadi doi tuh dulunya adalah seorang mekanik kapal dan mobil, tapi doi resign karena gajinya gak naik-naik (hanya 2 juta per bulan selama 4 tahun). Namun setelah ditelusuri, ternyata harusnya gaji doi itu udah naik sejak setahun kerja menjadi 4 juta, namun kenaikan gajinya itu menurut cerita doi, dipotong dan dimakan oleh orang bagian personalia, jadinya doi hanya menerima gaji yang sama padahal harusnya udah naik. Kalo emang bener seperti itu yaa kasian juga sih. Akhirnya doi pun resign dan mutusin buat jadi supir mobil rental milik kakaknya. Selama resign doi masih dapat banyak tawaran buat jadi mekanik kapal lagi, tapi doi tetap bersikukuh gak mau, dan hanya mau kembali kalo gajinya Rp.12.000.000,-..mantap pak..itu baru namanya berprinsip.

Bandara Pattimura
Sekitar jam 9.30 kami sampai di Bandara Pattimura, kamipun pamit dan bayar biaya rental mobil ke pak Pai. Sebenarnya biaya sewanya Rp. 200.000, tapi karena doi baik jadi kita tambahin jadi Rp. 270.000. Sampai ketemu lagi pak Pai.

Di bandara kami berempat sarapan dulu di sebuah restoran cepat saji, sambil nunggu pak Usman datang.

Jam 11 pak Usman pun datang, dan kami langsung cek in. Seperti yang sudah diduga, bagasi kami over sekitar 71 kg, karena batas maksimal bagasi hanya 10 kg per orang. Praktis kami berempat semuanya mengalami overbaggage, dan penyumbang overbaggage terbesar jatuh kepadaaa...jeng jeng jeng...Indri dan Denaaa...hahaha. Sementara pak Usman gak ada bagasi. Hmm...ngomong-ngomong masalah overbaggage, gue jadi inget masalah lobi-lobi bagasi nih. Katanya bakal dibantu lobi-lobi,,,pffft,,,ternyata itu hanya hoax belalang, eh belaka maksud gue. Jadinya total kita harus ngebayar Rp.1.094.000. Pesan sponsor: jangan terlalu percaya sama janji-janji birokrat

Wings Air Ambon-Langgur (Tual)
Jam 11.55 kami udah dipersilahkan naik ke pesawat ATR72-500 milik wings Air. Pesawat ini adalah pesawat berukuran sedang dengan dua mesin baling-baling eksternal di kedua sayapnya, serta berkapasitas 80 orang penumpang.





Tim Tual dengan background pesawat ATR72-500 Wings Air yang akan membawa kami ke Langgur

Jam 13.30 pesawat kami take off menuju bandara Langgur.

Dalam perjalanan, rasa-rasanya sih gue ngantuk, tapi entah kenapa emang gue jarang banget bisa tidur di pesawat, bagaimanapun kerasnya gue paksain. Tetiba aja gue jadi inget anak gue yang super lucu "Syakirah", mungkin ini kali yang namanya kangen yaah, walaupun baru seminggu. Gak kebayang sih gue bakal gak ketemu dia selama berbulan-bulan. Yaa untungnya semalem gue sempat ketemu Syakirah dalam mimpi, lumayanlah buat ngobatin rindu. Dan gue sekonyong-konyongnya jadi nangis lagi di pesawat, untungnya ga ada yang ngelihat karena teman-teman di kanan kiri gue semua lagi pada tidur. Jadi gak ada yang tau, kecuali lo pada baca tulisan ini, hehe. Yaudahlah..A man does cry, for a reason.

Hmm..dan sekarang gue jadi pengen nulis surat cinta buat anak gue, setelah semalem dapet surat cinta dari istri via BBM. Loh kok balesnya buat anak bukan buat istri? Karena:
1. Sama istri udah bbm-an tiap hari
2. Ditujukan buat anak, tetep aja uang baca dan ngebales ya istri-istri gue juga, orang anak gue masih 10 bulan, mana bisa baca? Hehe.

Oke, ini suratnya:

Surat Cinta untuk Syakirah
Bismillahirrahmanirrahim

Dear my little Angel "Syakirah"

Apa kabar nak? Gimana rasanya seminggu tanpa papa? Papa ga tau kamu udah bisa ngerasain yang namanya kangen apa belum, tapi yang jelas papa kangen berat sama kamu. Disini gak ada yang nangis minta nenen tengah malem, ga ada yang minta digendong dan jalan-jalan, ga ada yang papa gantiin popoknya, ga ada yang papa kejar-kejar setengaj mati buat nyuapin makan, ga ada yang papa anterin ke RS buat imunisasi, ga ada yang manjat-manjat badan papa, ga ada yang narik-narik kacamata papa, ga ada yang nyium papa sampe saliva-nya nempel, yaaah..pokoknya ga ada tawa dan tangismu yang gemesin.

Naik, baik-baik ya di rumah, jangan nakal, dengerin kata mama. makannya yang banyak dan jangan milih-milih, insya Allah semua yang kamu makan itu halal kok, gak ada daging babi atau hasil curiannya, hehe. Inget selalu untuk baca dan hafalin doa-doa dan surat-surat pendek yang sering papa dan mama bacain. Hormati kakek dan nenek.

Doain papa biar selamat dan sukses, dan bisa ngasi rejeki yang halal buat kamu dan mama. Doain juga mamanya biar cepet lulus supaya bisa punya lebih banyak waktu untuk kamu. Papa akan pulang segera begitu ada rejeki dan kesempatan, walaupun sebentar.

Oyaa..papa nanti di kota Tual akan bertugas bareng om dr.Ilyas, tante dr.Indri, dan tante drg.Dena. Semuanya orangnya baik-baik kok. Insya Allah gak akan gangguin atau nyakitin papa.

Nanti papa bakal ditempatin di pulau terpencil yang jauh dari kota, dan mungkin ga ada sinyal HP. Jadi papa minta maaf kalo nanti gak bisa nelfon atau ditelfon. Tapi papa janji kalo lagi di Kota dan ada sinyal insya Allah bakal nelfon mama dan kamu.

Udah dulu ya sayang, jadi anak baik dan shalihah. Semoga Allah senantiasa menjaga kalian berdua. Barakallahu fiikuma.

With Love,



Papa


###

Lega juga nih abis nulis surat cinta buat Syakirah, sekarang tinggal nunggu pesawat ini mendarat di Bandara Langgur.

Welcome to Tual City
Pesawat ATR72-500 ini Alhamdulillah mendarat dengan selamat di Bandara Langgur pada pukul 14.00. Sebelum mendarat, kamu sudah disambut dengan pemandangan gugusan pulau yang sangaat indah. Setelah turun dari pesawat gue sempetin ngambil foto, dan setelah itu ngambil bagasi.




Pemandangan Kepulauan Kei yang menyambut kami sebelum mendarat di Langgur

Kami dijemput orang dinkes, plus drg.Pretty dan drg.Idham yang merupakan dokter PTT pendahulu kami. Ilyas juga dijemput oleh keluarganya. Gue pun ikut mobil Ilyas ke rumahnya, sementara Dena dan Indri diantar oleh orang dinkes ke kos-kosan.




Bandara Langgur > Love the Sky

Kamipun meluncur ke tujuan masing-masing. Bandara Langgur ini berlokasi di kabupaten Maluku Tenggara. Maka kami bergerak menuju kota Tual yang hanya dibatasi oleh jembatan dengan kabupaten Maluku Tenggara. Kota Tual terlihat cukup sunyi dan kecil, sangat jauh berbeda dengan kota Ambon. Untuk sampe ke rumah Ilyas hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam.

Di rumah Ilyas, gue dipersilahkan menempati kamar dan diajak makan siang serta minum teh dan kue-kue. Abis itu gue shalat, trus nyuci pakaian kotor gue yang udah cukup numpuk dari Bapelkes kemaren. Abis nyuci gue diajak ke supermarket "GOTA" buat belanja logistik pribadi yang belum ada atau udah mo habis.

Malemnya setelah makan malam gue diajak ke rumah om-nya si Ilyas yang merupakan orang yang cukup penting di Kota Tual, om-nya ini sekarang menjadi kepala bagian penanggulangan bencana. Oleh om-nya Ilyas yang kalo ga salah namanya pak Muh, gue diceritain tentang keadaan di pulau-pulau terpencil seperti Tayando dan Kur, karena doi sangat sering keliling pulau-pulau. Alhamdulillah setelah denger cerita pak Muh jadi lebih tenang.

Abis dari rumah pak Muh, gue dan Ilyas menuju ke kos-kosan Dena dan Indri, kami mo ngejemput mereka buat ke supermarket, karena mereka juga mo belanja. Setelah belanja, Indri bilang kalo mereka pada belom makan malam, jadinya kita ngajakin mereka ke rumah Ilyas buat makan malam dan sekalian nginep. Karena memang di rumah Ilyas udah disiapin kamar buat mereka juga. Jadinya dari supermarket kita ke kosan dena dan indri buat ngambil pakaian mereka, baru kembali ke rumah Ilyas.

Udah hampir jam 11 malem, Dena dan Indri akhirnya makan malem. Gue ngeliat mereka berdua agak stres beberapa hari ini. Dena masih aja batuk, dan Indri tingkat keceriaan dan kehebohannya semakin hari semakin menurun. Doi sempet cerita kalo memang lagi ada sedikit masalah pribadi yang bikin doi jadi pengen pulang, waduh, bertugas aja belom, jangan dong sis :D, dan nampaknya mereka berdua masih pusing mikirin gimana-gimananya nanti selama PTT. Yaa memang sangat benyak yang harus dipersiapkan untuk bisa bertahan hidup di negeri orang ini, gue pun sempet pusing mikirinnya, tapi gue mencoba tetep tenang dan stay cool aja 8), hehe..gak usah banyak mikir, ketika waktunya datang kita pasti tau akan berbuat apa.

Yup, inilah cerita gue di hari ini..

I try to enjoy Tual City..

NB:
1. Untuk teman-teman PTT yang lain, tetap semangat dan tetap fokus. Jangan menyerah! Ketika lo berpikir untuk menyerah, inget lagi kenapa lo memulai dan milih jalan ini. Mengabdilah dengan tulus dan ikhlas, walaupun keadaan sering gak mendukung. Semoga Allah azza wajalla memberikan ganjaran yang lebih baik.
2. Thanks buat Dena untuk foto-fotonya, dan buat Ilyas untuk tumpangan mobil dan rumahnya.

Bye..nantikan kisah selanjutnya.

bersambung...

PTT Notes 006: From Ambon with Love

Senin, 12 Mei 2014

Hari ini hari yang istimewa buat gue dan istri, karena hari ini tepat dua tahun usia pernikahan gue. Karena jarak jauh, mau gak mau gue gak bisa ngerayainnya bareng istri, yaa biasanya sih gak ada perayaan yang macem-macem, sederhana aja, paling makan-makan. So, gue cuma bisa bikin photo grid sederhana, dari foto-foto lama dan foto-foto yang gue ambil di Ambon. Dua foto yang gue ambil di Ambon memang udah gue rencanakan sebelum berangkat. Dua foto itu adalah tulisan Iroel love Tiara di atas pasir pantai Natsepa, dan tulisan From Ambon with Love di atas pasir pantai Liang. Photo grid yang udah gue bikin itu pun gue post di path dengan ngetag istri gue.


Photo Grid 2nd wedding anniversary

Terjebak dalam "OSPEK" di ruang makan
Hari ini kita dapat tugas ikut acara hari kesehatan dunia di lapangan merdeka, katanya sih acara ini bakal dihadiri bu Menkes. Jadinya kita disuru siap di lapangan merdeka jam 8. Sekitar jam 7, baru gue dan Win yang siap, sementara cewe-cewenya ya biasalah, pada nyantai dan mandinya lama. Gue dan Win akhirnya mutusin untuk sarapan duluan.

Di ruang makan udah banyak anak-anak sekolah keperawatan Aru beserta pembimbing mereka yang juga sedang sarapan. Gue perhatiin selama gue di Bapelkes ternyata pembimbing/pendamping mereka itu super galak, disiplin  dan ala-ala militer, hihi serem juga. Mereka pada sering banget diomelin, baik di asrama maupun di ruang makan, tak terkecuali pagi ini. Jadilah gue dan Win terjebak dalam "OSPEK" mini di ruang makan.

Gue dan Win udah selesai sarapan, tiba-tiba Win minta kunci kamar dan balik ke kamar, jadilah gue sendirian dalam "OSPEK" ini. Sejurus kemudian setelah Win ninggalin gue, datanglah ibu pembimbing SPK menghampiri gue beserta seorang mahasiswi-nya, jeng...jeng...jeng...ada apa ini? bukan aku yang melakukannya!!! Aaaargh...dan doi pun berkata:

"dok, ini siswa saya lagi sakit, katanya sakit-sakit pinggang waktu buang air, bisa tolong dicek dan kalo ada obat bisa dikasi" (nah lho)

Gue: (dengan sedikit bingung dan nyengir-nyengir) "Oh iya bu, sebentar ya tunggu teman saya balik ke sini, saya dokter gigi, nanti temen saya yang dokter umum yang ngecek"

"Oh iya dok"

dan sang pasien (Mrs.X) pun duduk di samping gue di satu meja makan, dan krik..krik..krik pun terjadi. Gue bingung juga mo ngomong apa, dan doi juga diem aja, jadi..yaudahlah, tunggu Win aja. Beberapa saat kemudian Win pun datang dan gue langsung nunjukin pasiennya buat di anamnesis. Dari hasil anamnesis Win, doi menyimpulkan kemungkinan pasien menderita infeksi saluran kencing, jadinya doi disuru cek urin, kalo positif akan diberi antibiotik.

Setelah sesi pasien kilat di ruang makan, muncullah Indri, Dena, dan Shella. Setelah mereka selesai sarapan, kami berlima berangkat duluan, karena waktu udah menunjukkan jam 8 lewat dikit, sementara ciwi-ciwi yang lain belom pada siap. Kami berlima pun berangkat naik angkot menuju lapangan Merdeka. Abis naik angkot, kita pada jalan kaki lewat jalan-jalan tikus dengan panduan Shella yang sebelumnya udah pernah ke Ambon. Sampailah kita di lapangan merdeka, nunggu teman-teman yang belum datang, dan akhirnya duduk di tenda.

GJ to the max
Sorry to say, acara ini agak-agak GJ (Gak Jelas) dan fungsi kami hadir pun GJ. Daaan yang bikin kesel adalah bu Menkesnya ga jadi hadir dan udah pulang kemaren. Heey, padahal keberangkatan kami ditunda katanya karena nunggu dia. Acara ini gak ada hubungannya sama PTT.  Sementara banyak hal yang berhubungan dengan PTT, misalnya pemberkasan yg berhub.dengan penggajian nanti, serta kepastian kapan kami akan diberangkatkan ke kabupaten.

Setelah acara GJ ini selesai, kami ke ACC (lagi) buat makan siang dan belanja. Gue juga harus beli kacamata renang buat gantiin kacamata renang Shella yg gue ilangin waktu ke pantai, hikz... Setelah makan siang di Solaria (gue gak mesen I Fu mi lagi kok), gue bareng Shella ke sport station buat beli kacamata renang.

Dari ACC, gue bareng dena, Indri, dan Shella ke toko bangunan di samping ACC. Lah buat apa? Hehe..Indri dan Dena pada mo beli pelampung, buat persiapan kalo ditempatin di pulau. Sementara gue gak beli lagi karena bakal dapat pinjeman dari senior gue yang lagi PTT di Maluku Tenggara. Tapi ternyata pelampung yang bagus tinggal 1, jadinya cuma Indri yang dapet pelampung. Dena masih harus nyari-nyari lagi.

Dari ACC, kami kembali Bapelkes dan istirahat sebentar. Abis itu gue nelfon pak Usman buat mastiin keberangkatan ke kabupaten. Pak Usman pun nyuruh kami kumpul di Dinkes Provinsi jam 6 nanti. Gue pung ngabarin ke semuanya dan nyuruh siap-siap, kita bakal berangkat jam setengah enam nanti.

Jam setengah enam Alhamdulillah semuanya udah siap dan gak ada yang ngaret. Kami pun berangkat pake angkot charteran.

Yang paling ditunggu-tunggu
Di dinkes provinsi yang ditunggu-tunggu pun datang, apa itu? Hehe jelaas, pembagian duit transpor. Jadi besok yang bakal berangkat ke kabupaten hanya dua kabupaten, yakni kota Tual dan kab.Buru Selatan. Tim kota Tual juga diberikan tiket pesawat, untuk keberangkatan besok jam 12.30 menggunakan wings air. Oya, katanya sih overbaggage nanti akan dilobi oleh pendamping, entah dalam bentuk apa, mungkin kortingan, atau pembebasan (ngarep). Kebetulan pendamping tim Tual adalah pak Usman sendiri.

Bagi-bagi duit dan tiket beres, pada pulang deh tuh ke bapelkes, kecuali gue, dena, dan gabby. Gue diminta nemenin ngambil pelampung buat Dena ke seniornya gabby yang ada di Ambon. Gak mungkin juga mereka keluar sendiri malem-malem di kota Ambon ini. Maka janjianlah kami di Istana Roti dan Es Hilyah Bakery yang berada di daerah Batumerah. Untuk nyampe ke sana kami naik angkot ditemenin Odi yang orang Ambon asli. Sampe di sana, kita langsung duduk dan mesen makanan sambil nungguin Kak Ai senior. Ada banyak makanan di tempat ini, namun yang mendominasi adalah roti dan kue (yaeyalah namanya juga istana roti). Gue, Dena, dan Gabby semuanya  mesen roti kuah ayam. Untuk minumnya gue mesen es campur, dena mesen jeruk nipis anget (soalnya msh batuk), dan gabby es jeruk nipis.


Plang Menu


Roti kuah ayam


Es Campur

Roti kuah ayam itu bentuknya gak kayak roti sih sebenarnya..hmm lebih kayak adonan tepung yang direbus dengan bentuk tak beraturan (mirip roti jala, tapi gak beraturan), terus disiram kuah kari ayam plus ayamnya satu potong. Porsinya lumayan banyak dan bikin kenyang. Tadinya gue pikir ini buat cemilan, tapi ternyata ini makan malam gue. Rasanya maknyoos. Recommended!

Sedangkan es campurnya itu berisi buah cocktail nanas dan pepaya, agar-agar jelly warna ijo dan merah, serta kacang merah yang buanyak, disajikan dengan air sirup merah dan ditambah susu kental manis cokelat. Rasanya juga seger dan enak. Sekitar jam 8 malam kak Ai datang, mesen makan dan ngobrol-ngobrol serta ngasi pelampung buat Dena. Doi juga nraktir kami bertiga...waduuh..ga enak nih, tapi Alhamdulillah sih hehe. Jam 9 kurang kami kembali Bapelkes.

Nyampe Bapelkes gue langsung mandi, shalat, dan fiksasi packing-an untuk keberangkatan besok. Kami berencana berangkat jam 8.00 dari Bapelkes.

Hmm..gak sabar nih pengen ngeliat kabupaten penugasan, tapi sedih juga udah harus berpisah sama teman-teman PTT Maluku yang udah seminggu ini bersama. Yaa tapi itulah pengabdian. Teman, tempat, dan tugas baru telah menanti di kabupaten penugasan masing-masing. Selamat bertugas dan mengabdi teman-teman!

bersambung...

Minggu, 11 Mei 2014

PTT notes 005: walking inside the city

Minggu, 11 Mei 2014

Hari ini gak ada jadwal apa-apa. Pagi-pagi gue hanya ngerapihin foto-foto untuk postingan blog. Sementara si Win ke Gereja bareng Gabby dari jam 9-10.30

Jam 11an Dena dan Indri ngajakin ke KFC buat nyari Wi-Fi. Tujuan nyari Wi-Fi adalah si Dena pengen nge-Download driver sound laptopnya yang bermasalah (suaranya gak keluar), tentunya dengan bantuan gue, karena doi gak ngerti, kikikikikik. Akhirnya gue, Win, Dena, Indri, dan Shella berangkat ke KFC naik angkot. Karena trayek angkotnya ga ngelewatin KFC secara langsung, kita pada diturunin di persimpangan dan harus berjalan sekitar 100 meter untuk sampai ke KFC. Di KFC, ternyata Wi-Fi-nya lg gak berfungsi, so, kita balik arah dan nyari tempat lain. Akhirnya ketemu lah restoran kopitiam, di situ sih ada tulisan free Wi-Fi, Dena pun nanya mas-masnya buat mastiin. Ternyata Wi-Finya bisa, tapi orang yang ngurusin Wi-Finya masih ke gereja, dan baliknya sekitar jam 1an. Okey, sambil nunggu mas-mas Wi-Fi datang, kita jalan lagi menuju restoran Coto Makassar,,,wiiih geelaa gue udah hampir 2 abad gak makan coto...sekaranglah saatnya membalas dendam!!!! Wuaahahahaha *diiringi gemuruh petir*

Maka makan sianglah kita di warung coto dua saudara, cotonya lumayan enak bro,,,gue makan coto + 1 buras + 1 ketupat + minum Aqua botol dingin. Total yang gue bayar adalah Rp. 37.000,-

Setelah MaLoCo (Makan Lontong pake Coto :p), kita kembali ke KFC, karena Indri masih lapaar (Masya Allah), dan ini bukan yang pertama loh yaa,,untuk yang kesekian kalinya makhluk ini menunjukkan keberingasannya dalam makan, wkwkwkwk (Still Black Campaign). Teman-teman di bapelkes juga ada yang nitip KFC, jadinya mo sekalian dibeliin. Pesen makanan di KFC ternyata cukup menyita waktu, karena pelayanannya yang super slow alias lelet bin lambat, jadinya ini gak tepat disebut Restoran Fast Food namun lebih tepat disebut Slow Food. Di KFC gue gak mesen apa-apa karena udah cukup kenyang dengan coto.

Dari KFC kita kembali lagi ke kopitiam, ternyata mas-mas Wi-finya udah datang. Kita pun duduk. Indri, dena, dan shella mesen minum dan snack. Sementara gue masih sibuk ngedit postingan blog.

Dena pun diberitahu password koneksi wi-fi oleh mas-masnya. Dan masaa yaaah..password wi-fi-nya rada-rada 4L4y g1tu d3cH. Dan setelah dicoba ternyata gak konek-konek, sampai akhirnya datang mas-mas lain yang datang memberitahi password baru yang tetep 4L4Y (please deh), daaan akhirnya bisa konek.

Gue mulai nyari driver sound laptopnya si Dena, sambil ngedit-ngedit postingan blog. Sambil ngerjain laptop ini, Dena nyuruh gue mesen minum (hahay aseek ditraktir), maka gue pun mesen Es teh tarik.

Setelah beberapa kali nyoba, akhirnya ketemu lah driver yang pas, gue download, install dan Alhamdulillah suara laptopnya bisa kembali (thanks to me denaa!!)

Beranjak dari kopitiam, kita kembali berjalan menuju minimarket terdekat untuk membeli beberapa pesanan teman-teman di bapelkes. Sebelumnya kita juga singgah di toko peralatan rumah tangga buat beli-beli logistik yang kurang. Disitu gue beli sikat cuci dan hanger.

Selama berjalan-jalan (literally jalan kaki ya) di salah satu sisi kota Ambon ini, gue tentu saja gak lupa jeprat-jepret, walaupun gak banyak. Berikut foto-foto yang gue ambil:


Salah satu sudut kota Ambon


Tugu Trikora


Penampakan wanita misterius di tugu Trikora (siapa kah dia?)


Setelah dari mini market, kita kembali berjalan sampe tugu trikora untuk nunggu angkot yang menuju kudamati (daerah tempat Bapelkes berada). Selama nunggu angkot gue juga sempat ngambil beberapa foto di tugu trikora (fotonya lihat di atas).

Angkot kudamati pun datang dan kami kembali ke Bapelkes.

Sorenya gue agak lapar. Akhirnya gue jalan-jalan sore keluar Bapelkes buat nyari cemilan. Gue pun nemuin penjual ubi dan singkong rebus di depan RSUD DR.Melkianus Haulussy. Satu buah ubi dihargai 3rb dan 1 potong besar singkong dihargai 4rb. Gue pun beli 2 ubi dan 1 singkong (total 10rb). Gue kembali ke kamar dan nawarin ubi dan singkong yang gue beli ke teman-teman yg lain melalui grup WhatsApp, dan yang tertarik buat makan adalah...Indri (tetep) dan Dena. Si Indri katanya udah lapar lagi (buset). Mereka akhirnya datang buat "nyicipin".

Still Cakalang
Gue gak setuju dengan tulisan besar di teluk Ambon yang bertuliskan: Ambon the City of Music, menurut gue yang tepat adalah: Ambon the City of Cakalang. Wkwkwk..becanda brosis. Yup..kenapa gue bilang begitu? Karena malam ini menunya Nasi Padang dengan Lauk C.A.K.A.L.A.N.G. Bayangkan bro, tujuh hari gue di kota Ambon, gak ada satu hari pun yang absen dari menu cakalang. Hahahay, sebenarnya sih gue fine-fine aja karena emang gue seorang Ikan Mania Mantapp (mancing mania kalee), gue kasian aja sama temen-temen yang lain yang udah mulai bosen dan (agak) alergi. Ya begitulah, gue pribadi sih nerima-nerima dan mensyukuri aja, namanya juga kepulauan, suu pasti banya ikan.

Okey, segitu dulu catatan gue hari ini.

Besok itu akan ada acara peringatan Hari Malaria Sedunia yang akan dihadiri bu Menkes. Dokter-dokter PTT dapat tugas jaga stand informasi Malaria.

Sampe jumpa besok Insya Allah..

bersambung..

Sabtu, 10 Mei 2014

PTT NOTES 004: Beach Time

Sabtu, 10 Mei 2014

Setelah bangun dan shalat subuh, gue gak tidur lagi, akhirnya gue posting catatan tgl 6-9 Mei ke blog ini, mumpung subuh-subuh jaringan masih lancar banget.

Setelah posting gue mandi dan siap-siap. Hari ini ceritanya kita bakalan jalan-jalan ke Pantai. I miss the beach so much, gue mo berenang...hahay, jadinya gue nyiapin baju ganti buat renang.

Pagi ini, si Indri dan Dena numpang ngejemur pakaian di kamar gue, karena hanya di kamar gue yang ada jemuran darurat kreatif ala orang kreatif (baca: gue dan win), hihihi. Agak-agak gimana gitu yaa ada pakaian cewe di dlm kamar, tapi untungnya yang dijemur cuma pakaian luar saja, yang lain-lain enggak kok :D.

Abis itu lanjut sarapan dengan "Nasi kuning Cakalang" (Again!!!! *sambil nangis*)

Untuk jalan-jalan pagi ini akan ada dua mobil yang mengangkut kami, yakni mobil si faisal dan 1 mobil sewaan.

Waktu udah menunjukkan jam 10.30, Faisal udah siap nungguin kami, tapi 1 mobil sewaan belum jg datang. Akhirnya diputuskan sebagian dari kami berangkat duluan bareng Faisal, sementara yang lain nunggu mobil sewaan. Maka berangkatlah Faisal, Ilyas, Gabby, Tia, dan Nurul menuju pantai Natsepa.

Sekitar jam 11, mobil sewaan yang sudah berisi Ona dan Odi pun datang. Gue, Win, Dena, Indri, Shella akhirnya naik dan berangkaaaat. Ups, tapi mo berangkat ke mana?? Ya ke pantai! Ke pantai mana? Nah, ternyata ada miskomunikasi lagi nih cuy. Ternyata pantai tujuan kita tuh gak cuma Natsepa tapi ada pantai lain yang lebih dekat dari Bapelkes yang harusnya kita kunjungi lebih dahulu, yakni pantai Pintu Kota. Tapi karena si Faisal, dkk  sudah menuju Natsepa, dan pantai Pintu Kota arahnya berlawanan, jadinya kami yang ada di mobil sewaan mutusin untuk ke pantai Pintu Kota dulu, baru ke Natsepa (maaf ya kawan-kawan yang udah jalan duluan, gak maksud -___-).

Akhirnya kami berangkat menuju pantai pintu kota. Daaaan Subhanallah...pemandangan menuju pantai ini sungguh indah, kami menyusuri tepi-tepi teluk Ambon dengan jalan-jalan yang berkelok-kelok dan naik turun. Indri pun mulai mabok darat. Jalan menuju pantai pintu kota lumayan mulus namun agak sempit, dan beberapa ada yang rusak akibat banjir.


Pantai Pintu Kota
Tak lama kemudian, mata gue tertuju ke papan kecil sederhana bertuliskan Pantai Pintu Kota dengan tanda panah ke kanan, jalan masuk yang dituju panah itu belum beraspal, mobil Avanza Velos putih yang kami sewa pun masuk menerjang jalan masuk itu. Dan sampailah kami di pantai pintu kota. Kami berada di atas tebing pantai dan pemandangannya Subhanallah yaa, gak bisa dilukiskan dengan kata-kata, biarkan foto aja yang berbicara gan. Ini baru di tebingnya, untuk menuju pantainya kita harus turun dari tebing menggunakan tangga. Gue yang sangat semangat pengen lihat pantainya akhirnya turun tangga sambil berlari daaaan terpeleset..ternyata tangganya licin, jadinya gue pun turun pelan-pelan.

Sampailah gue dkk ke pantainya, pantai ini adalah pantai karang, tanpa pasir, dan yang menjadi ciri khasnya adalah batu besar berlubang yang menyerupai pintu gerbang laut. Batu ini inilah yang menyebabkan pantai ini disebut Pintu Kota. Batu besar ini adalah bagian dari tebing besar yang kita injak di atas tadi. Pantai ini gak terlalu besar dan seluruh permukaannya adalah batu karang. Gue dan yang lainnya foto-foto sebentar di sini dan naik kembali ke atas. Naik tangganya ternyata lebih memakan energi dibanding turun tangga tadi, semuanya pada ngos-ngosan sesampenya di atas, dan Indri jadi tambah mabok, doi pusing dan mual, akhirnya doi istirahat sebentar di warung yang ada di sana, dan minum obat. Ckckck...ini nih dokter PTT Maluku yang ngomong dan makannya paling buanyak (peace ndri), hanya mabok darat yang bisa membuat doi "Silent" sejenak, hihihi. Gue yang msh ngos-ngosan + haus akhirnya beli minuman mijon di warung itu, harganya ga kuat bo, Rp.10.000,-. Tp mau ga mau, haus soalnya. Setelah semuanya lumayan stabil, kita pun naik kembali ke mobil dan ngelanjutin perjalanan menuju pantai Natsepa. Faisal dkk udah menunggu di sana. Keluar dari pintu kota kami harus membayar Rp.20.000,-/ mobil.


Pantai Pintu Kota
 

Dalam perjalanan menuju Natsepa yang lumayan panjang (sekitar 45 menit), dalam mobil gak terlalu berisik kayak biasanya. Soalnya biangnya (Indri) lagi mabok dan akhirnya tertidur selama perjalanan. Kalo biangnya tidur, partner-nya (Dena) juga diem. FYI, Indri dan Dena itu kayak Api sama Bensin, kalo ketemu bisa meletup gak karuan, dan membuat semuanya ya begitulah, entah kenapa.

Pantai Natsepa

Panorama View of Natsepa Beach

Sampailah kami di pantai Natsepa, yang bagi orang-orang yang punya kecerdasan Verbal yang agak kurang, sering salah dieja menjadi Nestapa, hihihi (No Offense). Tiket masuknya Rp. 31.000 (satu mobil + 8 orang). View di pantai ini juga gak kalah indahnya, maka hal pertama yang gue lakukan adalah jeprat-jepret mengabadikan keindahan pantai ini, sementara yang lain pada ngaso di warung rujak khas Maluku (atau mungkin lebih tepatnya khas Natsepa mungkin). Abis foto-foto, gue pun ikut bergabung di warung rujak dan mesen rujak potong cabe 3. Selain rujak potong, ada juga rujak serut. Rujak lezat ini bisa dinikmati dengan merogoh kocek Rp.10.000,-/porsi untuk rujak potong, dan Rp.15.000 untuk rujak serut (biaya serutnya 5.000 :p). Selain makan rujak gue juga minum es kelapa muda, buah cempedak goreng, dan kue sagu bakar.






Rujak Ala Natsepa


Setelah puas ngemil, lanjut foto-foto tim dokter PTT Maluku Mei 2014, soalnya belom pernah foto lengkap ber-12. Maka sekaranglah saatnya. Berikut foto-foto yang diambil di pantai Natsepa:

Dokter PTT Maluku MEI 2014 Full Team > Dari kiri ke kanan: dr.Faisal, dr.Ilyas, drg. Tia, dr.Shella, dr.Indri, drg.Dena, dr.Gabby, dr.Odi, dr.Nurul, dr.Ona, drg.Iroel, dr.Winulang


Ef se










Foto-foto diselingi juga sama makan pisang goreng yang diborong sama Faisal. Ada cerita unik saat Faisal beli pisgor ini. Jadi kan ceritanya yang jual pisgor ini adalah anak kecil, yang gue perkirakan berumur 7-8 tahun, doi bawa nampan yang berisi pisgor itu, Faisal pun manggil tuh anak buat beli, kurang lebih seperti dialognya:
(F:Faisal: PG:Penjual Pisgor)

F: Berapa satu?
PG: Dua ribu
F: Sa ambil semua, jadi berapa?
PG: (Terdiam terus ngitung pisgornya dengan agak gak yakin dan ngasal) Sepuluh ribu.
F: Hah? Masa,,coba sa hitung ulang (ngitung pisgornya satu-satu, ternyata ada 10 pisgor) Jadinya 20 ribu, ko salah hitung itu.
PG: (Manggut-manggut)

Ckckck...untung Faisal orangnya jujur, jadi ga ngebego-begoin anak kecil. Waktu denger cerita ini, si Indri bahkan bilang pengen nawar dari 10rb jadi 5rb (jahat kan?)

Udah selese foto-foto, gue pun ganti baju dan berenanaaang, tak lupa pake kacamata renang yang gue pinjem dari kak shella. Gue berenang sebentar doang, soalnya airnya gak terlalu asyik, banyak daun-daunnya, dan di dasarnya juga ada beberapa karang, jd kurang nyaman aja. Selain itu gue cuma berenang sendiri, yang lain gak ada yang turun.

Setelah renang, gue mandi bilas dan ganti baju, dan kami siap-siap cao dari Natsepa. Tujuan selanjutnya adalah pantai Liang. Untuk perjalanan ke Liang, Faisal gak bisa ikut karena doi ada urusan lain. Jadinya orang-orang yang naik mobilnya pada pindah ke mobil kak Ona yang nyusul ke Natsepa. Maka cao lah kita menuju pantai Liang.

Pantai Liang
Pantai ini gak jauh dari Natsepa, hanya sekitar 10-15 menit perjalanan. Masuk ke pantai ini kita harus bayar Rp.20.000,-/ mobil. View di pantai ini menurut gue lebih asyik dan menarik dibanding Natsepa, airnya pun lebih bersih dan jernih. Namun ukurannya lebih kecil dibanding Natsepa. Sesampenya disini waktu udah jam 16.30, gue dan teman-teman muslim yang lain pun shalat dzuhur-ashar (jamak takhir) dulu. Abis itu gue, Indri, dan Dena makan Indomie telor dan teh manis anget, karena belom pada makan siang. Harga makanannya fantastik bo', indomie telor Rp.12.000,- dan teh manis anget Rp.5.000,-. Gak ada makanan lain disini selain Indomie dan pop mie.

Teman-teman yang lain pada berenang, sementara gue udah males karena udah berenang di Natsepa. Agak nyesel sih karena ternyata disini lebih enak buat berenang. Akhirnya disini gue puas-puasin buat hunting foto, ini foto-fotonya:

Panorama View of Liang Beach

Dermaga Pantai Lian

Berangkat bersampan

Photo Inception

Menikmati birunya pantai Liang

Hai, I'm senseiroel

Sekitar pukul 17.30 kami pun meninggalkan pantai Liang. Tujuan selanjutnya adalah toko besi putih khas Maluku, yang terletak di dekat bunderan Trikora. Kita ke sana buat beli cincin. Untuk apa? yup, untuk dipake di jari manis agar terlihat seperti sudah menikah, kalo gue sih emang udah, tapi selama ini gak pernah pake cincin, tapi yang lainnya pengen pake juga biar gak digangguin sama orang-orang di pedalaman nanti, hehe.

Setelah beli cincin, kami pun kembali ke Bapelkes. Di Bapelkes gue mandi, shalat, beli makan NasKunCak (nasi kuning cakalang), makan, bbm-an sama istri, dan tiduuur.

Alhamdulillah hari ini puas banget nikmatin bisa keindahan pantai di Kota Ambon.

Rencana besok: belom ada rencana..hehe

bersambung...