Tampilkan postingan dengan label Islam - Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam - Akhlak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Januari 2010

Sebab-sebab datangnya kebahagiaan (Ringkasan nasehat-nasehat Syaikh Abdur Rozaq Al-Abbad Al-Badr Hafidzohulloh)

Berikut ini adalah beberapa poin nasehat yang disampaikan oleh Syaikh Abdur Rozaq Al-Abbad Al-Badr Hafidzohulloh, yang disampaikan dalam tabligh akbar, ahad, 17 Januari 2009 di mesjid Istiqlal. Poin-poin ini hanyalah sebagaian kecil dari yang disampaikan oleh syaikh yang sempat saya catat, semoga dapat bermanfaat bagi yang belum sempat hadir, atau yang telah hadr namun belum sempat mencatat:

a. Semua orang menginginkan kebahagiaan, namun banyak orang yang mencari kebahagiaan dengan cara yang diharamkan Allah (maksiat), maka cara seperti ini tidak akan mendatangkan kebahagiaan melainkan kesengsaraan

b. Segala maksiat kepada Allah tidak akan pernah mendatangkan kebahagiaan

c. Kebahagiaan tidak dapat dicapai kecuali melalui jalan-jalan yang telah ditetapkan oleh Allah subhana wa ta’ala dan Rasul-Nya

d. Seorang muslim yang mendapat taufik, yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa kebahagiaan hanya di tangan Allah dan tidak bisa diperoleh kecuali dengan ketaatan kepada Allah

e. Beberapa tanda-tanda orang yang mendapat kebahagiaan disebutkan oleh Allah subhana wa ta’ala: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (Al-Lail:5-10)

f. Al-Qur’an adalah sumber kebahagiaan. Allah subhana wa ta’ala berfirman: “Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (Al-Baqarah:38). Yang dimaksud dengan petunjuk ialah Al-Qur’an.

g. Dan Allah subhana wa ta’ala juga berfirman: “Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah” (Thahaa:2)

h. Maka orang yang bahagia ialah para ahli Al-Qur’an

i. Yang dimaksud dengan ahli Al-Qur’an tidak harus hafal Al-Qur’an, karena setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menghafal Al-Qur’an, namun ia adalah orang selalu terikat dengan Al-Qur’an, berusaha memahami dan mengamalkannya.

j. Ingatlah, semakin banyak kita mengambil bagian dari Al-Qur’an, maka akan semakin banyak kebahagiaan yang akan kita peroleh

k. Intisari dari kebahagiaan adalah iman dan amal saleh, dan dalam hal ini tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Allah subhawa wa ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl:97)

l. Orang yang paling kaya dan paling sehat, belum tentu menjadi orang yang paling bahagia

m. Ada 3 perkara yang merupakan tanda-tanda kebahagiaan (menurut Ibnul Qoyyim Al-Jauziah):

1. Bersyukur

2. Bersabar

3. Istighfar

Hal ini disebabkan karena setiap manusia tidak pernah lepas dari tiga keadaan, yakni: mendapat nikmat, mendapat cobaan, dan berbuat dosa. Orang yang berbahagia ialah orang yang ketika mendapat nikmat ia bersyukur, ketika mendapat cobaan, ia bersabar, dan ketika berbuat dosa, ia beristighfar.

n. Maka berhati-hatilah kita jika merasa telah berada dalam tiga perkara tersebut, karena itu semata-mata adalah karunia Allah, dan Allah-lah yang menanamkannya ke dalam hati-hati kita, dan bukan tidak mungkin Allah akan akan mencabutnya sewaktu-waktu.

o. Inti dan tempat kembali segala sesuatu ialah keimanan, maka kadar kebahagiaan seseorang sesuai dengan kadar keimanannya.

p. Ibnul Qoyyim Al-Jauziah mengatakan: Tanda kebahagaiaan seseorang ialah jika dia meletakkan kebaikan-kebaikannya di belakang punggungnya, dan kejelekan-kejelekannya berada di depan dadanya, sedangkan tanda kesengsaraan seseorang ialah jika dia meletakkan kebaikan-kebaikannya di depan dadanya, dan kejelekan-kejekannya di belakang punggungnya

q. Hendaklah segala sesuatu yang kita kerjakan hanya untuk mengaharap ridah Allah, dan bukan untuk mengharap balasan atau ucapan terima kasih. Allah subhana wa ta’ala berfirman: “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (Al-Insan:9)

r. Syaikh menutup nasehat-nasehatnya dengan menukil perkataan Ibnul Qoyyim Al Jauziah dalam kitab Za’adul Ma’ad, tentang sebab-sebab datangnya kebahagiaan, yakni:

1. Tauhid

2. Ilmu

3. Kembali/cinta kepada Allah

4. Senantiasa mengingat Allah

5. Memberi manfaat kepada orang lain

6. Keberanian

7. Menghilangkan penyakit-penyakit hati

8. Meninggalkan sikap berlebih-lebihan dalam segala hal

Demikianlah beberapa nasehat-nasehat syaikh kepada kaum muslimin di Indonesia, semoga kita dapat memperoleh kebahagiaan yang hakiki, dan semoga Allah memberikan kesehatan dan umur yang panjang kepada Syaikh Abdur Rozaq agar senantiasa dapat mengamalkan ilmunya, sehingga dapat bermanfaat bagi kaum muslimin. Barakallahu fiikum ya Syaikh…

Sabtu, 29 Agustus 2009

RAMADHAN UNDERCOVER: MENGUNGKAP TABIR SYUBHAT DI BULAN PENUH HIKMAH

***
Teman-teman sekalian rahimakumullah, setelah vakum beberapa lama dari dunia blog dan notes, karena laptop yang mati suri, kini saya kembali meramaikan dunia maya untuk berbagi ilmu. Oke, kali ini saya mengambil judul “Ramadhan Undercover”. Sebenarnya judul ini direncanakan akan dijadikan tema IRAMA BPI (Indahnya Ramadhan bersama BPI-->sebuah rangkaian acara ramadhan yang rutin di adakan oleh BPI FKG UI) tahun ini, namun karena ditolak mentah-mentah oleh dosen, gak jadi deh…hehe. So,daripada gak terpakai sama sekali, mending dijadiin judul artikel aja. Selain itu, momennya pun sangat tepat untuk menjelaskan beberapa syubhat (kerancuan) yang muncul menjelang maupun selama bulan ramadhan. Syubhat-syubhat ini telah lama muncul dan telah mendarahdaging di masyarakat, bahkan telah diyakini memiliki keutamaan-keutamaan

Saya mengangkat tema ini, karena melihat masih sangat banyak saudara-saudara kita yang belum paham tentang masalah ini, sehingga masih sering mengamalkannya. Sehingga sebagai seorang muslim, wajib bagi kita untuk mengingatkannya.

Tulisan ini merupakan suat bentuk tashfiyah (pembersihan) dari amalan-amalan yang salah. Namun, bukan untuk menjatuhkan pribadi-pribadi yang melakukan atau meyakini kebenaran amalan-amalan tersebut.

Baiklah, mari kita bahas satu persatu syubhat-syubhat yang dimaksud:

1. Maaf-maafan sebelum masuk Ramadhan

Sudah menjadi hal yang hampir pasti, bahwa setiap menjelang ramadhan, inbox handphone kita jadi FULL dengan sms kata-kata mutiara nan indah, yang intinya adalah mohon maaf lahir dan batin sebelum ramadhan, begitu juga di message atau wall facebook kita. Di dunia nyata pun demikian, satu persatu kerabat kita datang menghampiri kita untuk meminta maaf. Bahkan kadang-kadang orang yang tidak kita kenal pun datang dan tiba-tiba minta maaf (nah lo, kenal aja nggak, ngapain minta maaf mas? Hehe). Hmm…pernahkah teman-teman bertanya atau memikirkan darimana kebiasaan ini berasal? Saya sendiri pun baru saja tahu di awal ramadhan tahun ini, dan sekarang saya akan memberitahu, bahwa kebiasaan ini muncul dari sebuah hadits yang berbunyi:

Menjelang bulan ramadhan, Jibril berdoa kepada Allah: “Ya Allah, tolong abaikan puasa umat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan ramadhan dia belum meminta maaf kepada kedua orang tuanya, bermaafan antara suami istri, dan bermaafan dengan orang-orang sekitarnya”. Kemudian Rasulullah mengamininya 3 kali.

Wah, ternyata ada haditsnya loh…namun sayang sekali bahwa hadits ini adalah hadits maudhu’ alias palsu. Dan hadits palsu sudah jelas tertolak dan tidak boleh diamalkan sama sekali. Hadits ini tidak pernah ditemukan di kitab-kitab hadits manapun, maka entah siapa yang mengarangnya. Yang jelas, setiap hadits palsu itu selalu datang dari pihak-pihak selain islam, yang ingin menghancurkan islam dari dalam, dengan mengacaukan syariat-syariatnya. Yah, hadits palsu, bagi orang yang tidak paham akan menyebabkan ia melakukan suatu amalan yang tidak pernah disyariatkan, ataupun melakukan amalan yang disyariatkan dengan cara atau keyakinan yang salah. Kalau syariat kita udah kacau, maka akan sangat mudah untuk diserang.

Tidak diragukan lagi, bahwa meminta maaf atas kesalahan-kesalahan kita kepada manusia adalah perbuatan yang baik dan terpuji. Ia juga merupakan salah satu syarat diterimanya taubat seseorang kepada Allah. Karena dosa kepada manusia hanya bisa terhapus jika kita minta maaf kepada orang tersebut, tidak cukup hanya dengan bertaubat kepada Allah.

Untuk mengkhususkan meminta maaf setiap menjelang ramadhan, diperlukan dalil dari Al-Qur’an atau Hadits. Kenyataannya tidak ada satupun ayat maupun hadits shahih yang menerangkannya, dengan kata lain, Rasulullah صلی الله عليه وسلم beserta pada sahabatnya tidak pernah mencontohkannya. Padahal merekalah orang-orang yang paling paham ilmu agama. Jika perbuatan itu baik, tentu mereka akan mendahului kita dalam melaksanakannya.

Adapun waktu yang paling tepat untuk meminta maaf adalah sesegera mungkin setelah kita berbuat salah, atau sesegera mungkin setelah kita ingat pernah berbut salah, jadi gak perlu nunggu ramadhan. Kalau jauh sebelum ramadhan Allah memanggil kita (baca:meninggal), sementara kita belum sempat minta maaf, dan orang itu belum memaafkan kita, kan bisa repot tuh. Jadi saran saya, kalo punya salah sama orang lain, segeralah minta maaf, jangan nunggu besok.

Sekarang pilihan ada di tangan kita, apakah kita tetap mau melestarikan kebiasaan yang berasal dari hadits palsu ini? Atau mulai mencoba meninggalkannya karena Allah, sebagai bentuk penolakan kita terhadap seruan hadits palsu, dan sebagai bentuk kehati-hatian kita dalam beragama.

Catatan: Saya sendiri masih sedikit mengamalkannya di awal ramadhan ini, karena belum tahu. Namun alhamdulillah, Allah memberi saya pemahaman atas masalah ini melalui jalan yang tidak disangka-sangka, dan ini baru saja terjadi, di awal-awal ramadhan ini.

2. Ziarah Kubur Sebelum Masuk Ramadhan

Secara umum, ziarah kubur memang disyariatkan, sebagaimana sabda Rasulullah صلی الله عليه وسلم

زُوْرُوا الْقُبُوْرَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ اْلآخِرَةَ

"Ziarahilah kuburan karena sesungguhnya itu bisa mengingatkan kalian kepada akhirat."
[HR. Muslim dalam Al-Jana'iz (108-976)]

Namun, nabi صلی الله عليه وسلم tidak pernah mengkhususkan suatu waktu untuk berziarah kubur, bahkan beliau melarang untuk berziarah kubur secara rutin:

“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, dan janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai ‘ied (sesuatu yang dikujungi berulang-ulang secara rutin). Bershalawatlah kalian kepadaku, karena sesungguhnya shalawat kalian disampaikan kepadaku di mana pun kalian berada”
[HR. Abu Dawud dalam Al-Manasik (2042), Ahmad (2/367)]

Yang dimaksudkan dengan ‘ied disini adalah kegiatan yang berulang secara teratur, misalnya setahun sekali, sebulan sekali, 2 minggu sekali, dll. Inilah mengapa hari raya ummat islam disebut dengan ‘ied, karena ia berulang setiap tahun. Maka perhatikan hadits yang mulia ini, jika kuburan nabi saja dilarang untuk dikunjungi secara rutin, maka terlebih lagi kuburan manusia biasa.

Apabila kita menetapkan berziarah kubur setiap awal bulan ramadhan, maka berarti kita telah menjadikan kuburan sebagai ‘ied, dan ini dilarang, berdasarkan hadits diatas.

3. Melafadzkan Niat Setiap Malam Bulan Ramadhan

Kebiasaan ini telah diajarkan kepada kita sejak duduk di bangku SD. Biasanya setiap selesai shalat tarawih, imam berkata: marilah kita sama-sama berniat untuk berpuasa besok. Kemudian dibacalah niat puasa yang telah kita hafal (bahkan telah dijadikan nyanyian oleh Afgan :-] ), yakni: Nawaitu shaumaghadin ‘an ‘ada’ifardhu syahri ramadhana hadzihissanati lillahi ta’ala.

Perlu kita ketahui, bahwa Rasulullah صلی الله عليه وسلم beserta para sahabatnya tidak pernah sekalipun melafadzkan niat, baik untuk puasa, shalat, dan ibadah-ibadah lainnya. Adapun lafadz-lafadz nawaitu, ushalli, dll merupakan hal yang diada-adakan oleh manusia. Dan hendaklah kita takut dengan ancaman dari Rasulullah صلی الله عليه وسلم terhadap perbuatan yang diada-adakan dalam agama, sebagaimana dalam hadits:

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيْهِ فَهُوَ رَدٌّ

"Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak."
[Disepakati keshahihannya: Al-Bukhari dalam Ash-Shulh (2697), Muslim dalam Al-Aqdhiyah (1718)]

Dalam riwayat Muslim disebutkan, bahwa beliau bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

"Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak."
[Al-Bukhari menyatakan mu'allaq. Sementara Muslim menyambungnya dalam Al-Aqdhiyah (18-1718)]

Disebutkan pula dalam shahih Muslim, dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari -rodhiallaahu'anhu-, dari Nabi صلی الله عليه وسلم, bahwa dalam salah satu khutbah Jum'at beliau mengatakan,

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرُّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

"Amma ba'du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad صلی الله عليه وسلم, seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan dan setiap hal baru adalah sesat."

An-Nasa'i pun mengeluarkan hadits ini dengan tambahan,

وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

"dan setiap yang sesat itu (tempatnya) di neraka."
[HR. Muslim dalam Al-Jumu'ah (867), An-Nasa'i dalam Al-'Idain (3/118-189)]

Yang benar, niat itu tempatnya di dalam hati, dan tidak ada lafadz tertentu yang disyaria’tkan, walaupun kita menganggap lafadz-lafadz itu baik. Karena sesuatu yang baik harus diletakkan pada tempatnya, dan kebaikan yang hakiki adalah dengan mengikuti tuntunan nabi صلی الله عليه وسلم, bukan berdasarkan pendapat pribadi. Apa yang menurut kita baik belum tentu baik disisi Allah, begitu pula apa yang kita anggap buruk belum tentu buruk di sisi Allah.

Allah سبحانه و تعالى berfirman:
“Bisa jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu padahal sebenarnya itu buruk bagimu, Allahlah yang maha tahu sedangkan kalian tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Sederhananya, kalo ingin selamat dalam beragama, maka ikutilah apa yang berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahamannya para sahabat, karena itu sudah pasti benar dan baik, dan jangan ikuti yang menyelisihinya.

4. Waktu Imsak

Waktu-waktu imsak atau batas akhir sahur, banyak menyebar di jadwal-jadwal imsakiyah ramadhan yang biasa dibagi-bagikan kepada masyarakat, dan sering juga terlihat di TV-TV. Waktu imsak biasanya ditetapkan sekitar 10-15 menit sebelum azan subuh.

Penetapan waktu imsak ini juga tidak pernah ada di jaman nabi صلی الله عليه وسلم. Syekh Utsaimin rahimahullah, ulama besar saudi arabia, ketika ditanya tentang masalah imsak menjawab:Hal ini termasuk bid’ah, tiada dalilnya dari sunnah, bahkan sunnah bertentangan dengannya, karena Allah berfirman di dalam kitabnya yang mulia,

“Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang merah dari benang putih yaitu fajar”
(Al-Baqarah : 187)

dan Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan di malam hari, makan dan minumlah sampai Ibnu Umi Maktum mengumandangkan adzan, karena dia tidak beradzan sampai terbit fajar”
[Diriwayatkan oleh Bukhari : Kitab Shaum/Bab Sabda Nabi صلی الله عليه وسلم. “Janganlah mencegah kalian benar-benar …” (1918) dan Muslim : Kitab Shiyam/Bab Keterangan bahwa masuknya waktu puasa ditandai dengan terbit fajar …” (1092)]

Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda:

"Jika salah seorang kalian mendengar adzan padahal gelas ada ditangannya, janganlah ia letakan hingga memenuhi hajatnya."
[HR Abu Daud (235), Ibnu Jarir (3115), Al-Hakim (1/426), Al-Baihaqi (2/218), Ahmad (3/423), dari jalan Hamad dari Muhammad bin Amr dari Abi Salamah dari Abu Hurairah sanadnya HASAN]

Jadi yang benar, batas waktu untuk makan dan minum adalah sampai terbit fajar, atau sederhananya ketika azan subuh. Itupun kita masih diberi keringanan jika makanan atau minuman kita belum habis(tinggal dikit, nanggung), maka masih diperbolehkan menghabiskannya.

Orang yang mendukung imsak ini kebanyakan berdalih bahwa hal tersebut dilakukan untuk kehati-hatian. Maka kita katakan kepada mereka: itu bukanlah suatu kehati-hatian tapi sesuatu yang berlebih-lebihan, bahkan cenderung tidak mau memanfaatkan keringanan yang diberikan oleh Allah, padahal Allah tidak ingin menyulitkan kita dalam beribadah.

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (Al-Baqarah:185)

Dan ketika Allah memberi kita keringanan, maka hal itu diibaratkan seperti manusia yang bersedekah. Kita tentu senang jika sedekah kita diterima oleh orang. Begitu pula Allah akan senang jika sedekahnya diterima oleh hamba-Nya, dan sedekah Allah berupa keringanan-keringanan dalam beribadah (misalnya: shalat jamak qashar, tidak wajib puasa bagi orang sakit, dll)

Ditambah lagi ada contoh dari Rasulullah صلی الله عليه وسلم dan para sahabatnya yang membolehkan makan dan minum sampai tiba azan subuh. Apakah kita merasa lebih baik dan lebih paham masalah agama dari Rasulullah dan para sahabatnya. Padahal sekali lagi, merekalah orang yang paling paham tentang ilmu agama.


5. Doa berbuka puasa

Doa berbuka puasa yang benar adalah:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ
Dzahabazhoma‘u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insyaa Allahu

“Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala akan tetap, insya Allah.”
[HR. Abu Dawud (2/306), Baihaqi (4/239), Al Hakim (1/422), Ibnu Sunni (128), Ad Daraquthni III/1401 no. 2247. hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Irwaa-ul Ghaliil no. 920. Lihat Hisnul Muslim Bab Doa Buka Puasa]

Sementara doa yang diajarkan kepada kita sejak SD, berasal dari sebuah hadits:

Dari Mu'adz bin Zuhrah, bahwasannya telah sampai kepadanya, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi was sallam apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan:
"Allahumma lakasumtu wabika amantu wa’ala rizqika afthortu …”
[HR Abu Dawud no. 2358, Baihaqi 4/239 dan lainnya]

Hadits tersebut di atas dikatakan mursal karena Mu’adz bin Zuhrah adalah
seorang tabi’in bukan seorang sahabat, jadi ada sanadnya yang terputus antara sahabat dan tabi'in sehingga haditsnya dikategorikan dha’if.

Nah…ini dia sedikit penjelasan tentang hal-hal tentang ramadhan yang selama ini kita anggap biasa, namun ternyata salah dalam timbangan syari’at. Tentu saja ini baru sebagian kecil yang saya ketahui. Masih banyak lagi hal-hal semacam ini yang belum sempat dijelaskan. Maka saya sarankan untuk banyak-banyak mencari tahu, dengan bertanya kepada orang yang berilmu atau dengan membaca. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dan manfaat. Wallahu ta ‘ala a’lam bishawab.

Referensi:
1. Al-Qu’anul Karim
2. Sifat Puasa Nabi. Syaikh Salim Bin Ied Al Hilaly dan Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid
3. Hishnul Muslim. Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qahtani
4. Artikel:Hukum Menziarahi Kuburan dan Membacakan Surat Al-Fatihah Di Kuburan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz. E-Book SalafiDB
5. Artikel:Hukum mengusahakan berziarah ke kuburan nabi صلی الله عليه وسلم oleh: Syaikh Abdullah Bin Abdurrahman Al-Jibrin. E-Book SalafiDB
6. Artikel:Apakah imsak memiliki dalil dari as-sunnah ataukah merupakan bid'ah? Oleh: Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin. E-Book SalafiDB
7. Hadits Dha'if dan Hasan Tentang Doa Berbuka Puasa. http://www.mail-archive.com/manhaj-salaf@yahoogroups.com/msg00413.html
8. Hadits shahih dan dho’if Seputar Puasa Ramadhan. http://al-ilmu.web.id/index.php/category/ahlussunnahwebid/page/7/

Jumat, 08 Mei 2009

Kontras

***
Cerita singkat
Ahad, 8 Jumadi Awal 1430/3 Mei 2009

Aku, adi, dan addys berencana belajar bersama untuk menghadapi ujian hari selasa (5 Mei 2009). Addys pun mengajak belajar di salah satu restoran cepat saji di bilangan Jl.MH Thamrin, tentu saja dia yang mentraktir.

Kami pun berangkat dari tempat kos-ku. Aku dibonceng adi dengan Honda Supra Fit-nya, dan Addys membawa motor Yamaha Crypton-nya tanpa membonceng siapa-siapa. Sesampainya di tempat parkir restoran itu, kami cukup tercengang dengan pemandangan yang kami lihat. Adi yang pertama kali menunjukkannya padaku dan Addys. Dia menunjukkanku sebuah sepeda motor kawasaki ninja yang katanya harganya sekitar Rp.60 juta. Lantas apa yang membuat kami tercengang? Bukan sekedar kawasaki ninja, namun apa yang berada di samping sepeda motor itu. Yaah...pemandangan yang kontras dan memilukan. Seorang ibu yang berusia sekitar 35-40 tahun tidur di samping motor itu dengan hanya beralaskan kardus bekas. Apakah dia tidak punya rumah? kami juga tak tahu. Siapkah dia? Yang jelas dia bukan pemilik sepeda motor itu. Adi langsung mengingatkanku tentang foto jurnalistik, aku pun mengambil handphone dan memotretnya, walaupun kualitasnya kurang begitu bagus...

Foto yang kuambil pada saat pertama kali tiba (Pukul 22.40)


Foto yang kuambil pada saat kami akan pulang, terlihat ibu ini telah memakai penutup badan (sejenis sarung). Mungkin karena udara yang semakin dingin, maklum, waktu telah menunjukkan pukul 00.19


Hmm...saat itu aku tak bisa berbuat apa-apa kecuali berdoa, semoga Allah memberi kelapangan bagi setiap muslim dalam menjalani kehidupan, dan bagi yang belum mendapat kelapangan tersebut, semoga diberi kesabaran. Dan semoga ulil amri kita selalu diberi kebaikan oleh Allah, agar lebih peka dan memperhatikan kaum-kaum fakir dan miskin (kalo kata Addys:kaum yang termarginalkan).

Apa cuma itu yang bisa kita lakukan? tentu tidak...banyak hal konkret yang bisa kita lakukan, cukup sederhana. Yaah, tidak lain adalah menyisihkan harta kita untuk mereka. Itulah tabungan yang balasannya berlipat ganda dan penghapus dosa.

"Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian" (QS.Adz-Zariyat:51:19)

"...sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta..." (QS.Al-Baqarah:2:177)

"dan shadaqoh itu dapat menghapuskan dosa sebagimana air dapat memadamkan api" (HR.Tirmidzi)

Abu Hurairah رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Tidak satu hari pun seorang hamba memasuki pagi harinya melainkan dua malaikat turun. Lalu, salah satu dari keduanya berdoa, 'Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang menginfakkan (hartanya).' Malaikat yang lain lagi berdoa, 'Ya Allah, berikanlah kehancuran kepada orang yang menahan (infak)." (HR.Bukhari, Kitab Zakat, Bab 28, Hadits No.718)

Hal itu jauh lebih mulia dibanding kita hanya berbicara lantang dan memaki-maki ulil amri kita karena tak memperdulikan rakyat kecil. Tindakan konkret yang sederhana. Silahkan hitung pengeluaran kita setiap harinya...Apakah tidak ada yang bisa kita sisihkan untuk mereka???

Malam itu aku mendapat pelajaran yang luar biasa. Aku disadarkan oleh kenyataan yang kutemui tepat didepan mataku. Jadi teringat sudah berapa banyak uang yang kukeluarkan untuk hal yang sia-sia, dan bandingkan dengan yang sudah kita sedekahkan. Sungguh malu diri ini kepada Allah.

So, kita-kita yang masih sering menggunakan uang untuk hal yang tidak begitu penting. Lihatlah sekeliling kita, masih adakah orang-orang yang sejenis dengan ibu tadi? Apakah kita hanya akan membiarkannya?

Maka renungkanlah...

Kamis, 02 April 2009

Ketika cinta harus diam

“Cinta tak hanya diam…”

Ketika mendengar syair lagu milik grup band Padi tersebut (astaghfirullah, teringat masa-masa jahiliyah, saat masih ngeband), kebanyakan orang mungkin berpikir bahwa perasaan cinta harus diungkapkan. Termasuk saya, yang dulunya juga berpikir seperti itu. Tapi malam ini saya benar-benar merasa ditampar oleh argumen ini. Baru saya sadari kalau pernyataan ini tidak sepenuhnya benar. Kenapa?
Begini ceritanya:

Sebelumnya saya ingin mengucapkan Maha Suci Allah yang memberikan cinta di hati setiap insan, termasuk saya dan jutaan orang di seluruh jagat raya ini. Inti permasalahan disini adalah manajemen perasaan. Bagaimana seorang muslim harus menyalurkan perasaan cintanya kepada lawan jenis. Sebenarnya islam telah memberi solusi untuk hal ini dengan menikah, dan bagi yang belum mampu, hendaknya berpuasa. Bukannya dengan berpacaran. Karena pacaran pada dasarnya memiliki banyak mudharat, bla…bla…bla…(saya nggak mau ngebahas pacaran, soalnya udah jelas kan?). Namun masalahnya, bagaimana jika kita memiliki perasaan cinta kepada lawan jenis, kita nggak mau pacaran, dan kita juga belum mampu nikah, tapi kita ingin banget ngungkapin perasaan itu ke dia. Gimana solusinya? Boleh nggak kita ngungkapinnya?
Kebanyakan orang mungkin akan menjawab boleh aja lah, kan cuma ngungkapin doang.

Yah, sepintas sih saya juga setuju dengan argumen ini. Tapi…masih ada hal yang perlu kita perhatikan.
Hmm, sebenarnya ini hasil diskusi saya dengan salah seorang partner akhwat yang luar biasa. Eits, jangan su’udzan dulu, saya diskusinya pake perantara media kok, nggak berkhalwat. Tenang aja. Berikut ini beberapa poin yang saya tarik dari diskusi tersebut:

Jadi, ngungkapin perasaan itu pada dasarnya hampir sama mudharatnya dengan pacaran. Lho kok? Gini loh, seandainya kita ngungkapin perasaan itu, truz orang yang kita cintai itu ternyata gak punya perasaan yang sama dengan kita, mendingan lah ya, paling-paling salah satunya bakalan sakit hati, kecewa, stress, dll. Nah, tapi gimana kalo ternyata dia mempuyai perasaan yang sama? Pasti butuh kelanjutan kan? Walaupun itu bukan pacaran, tapi apa bedanya? Cuma beda nama doang. Biasanya sih dikenal dengan HTS (Hubungan Tanpa Status). Yupz, ini sama aja parahnya dengan pacaran, bahkan lebih parah, soalnya orang yang ngejalaninnya terkesan munafik. Gak mau pacaran, tapi menyerupai orang pacaran.

Okelah, saya gak mau terlalu panjang berargumen, tapi saya pengen ngasih solusi untuk permasalahan diatas, Insya Allah bisa menyelamatkan kita. Gini loh, pada dasarnya yang namanya perasaan cinta itu adalah fitrah yang dianugerahkan Allah kepada semua manusia, nah, jadi memiliki perasaan kepada lawan jenis adalah 100% wajar, namun yang menjadi masalah adalah bagaimana kita menyalurkan perasaan itu. Solusi yang saya tawarin adalah: titipkanlah dia pada Allah. Jika titipan itu memang untuk kita, Allah pasti akan mengembalikannya. Ngungkapin perasaan ke dia bukanlah solusi yang tepat. Malah akan semakin memperkeruh hati kita dari mengingat Allah. Yang terpenting adalah kita mencintai dia karena Allah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

“Ada tiga hal, jika seseorang berada di dalamnya, niscaya ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya; tidaklah ia mencintai seseorang kecuali karena Allah; dan ia takut kembali kepada kekufuran, setelah Allah menyelamatkannya daripadanya, sebagaimana ia takut dilemparkan ke api neraka” (HR.Bukhari dan Muslim)

Manisnya iman bo’…semanis-manisnya gula, saya yakin manisnya iman itu jauh lebih nikmat. Dan ingat, cinta Allah hanya untuk orang-orang yang saling mencintai karena-Nya. Kalo kita emang mencintai dia karena Allah, maka titipkanlah ia kepada Allah. Gak pantas dong, masa kita mencintai karena Allah, tapi melakukan sesuatu yang dibenci Allah pada orang yang kita cintai itu. Yakin deh, Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita. Kalo emang dia jodoh kita ya Alhamdulillah, tapi kalo nggak, pasti Allah udah nyiapin yang jauh lebih baik dari dia.

Tapi bukan berarti kita sama sekali gak akan ngungkapin perasaan kita. Ungkapkanlah perasaan itu ketika kita sudah siap untuk membangun bahtera rumah tangga alias menikah. Itu akan jauuuuuuh lebih mulia, dan jauh lebih menjaga kehormatan kita. So, cinta emang seharusnya diam, sampa tiba waktunya. Dan ingatlah untuk selalu berdoa. Kalo saya sih udah punya doa yang mak-nyus, yakni puisi saya yang judulnya “doa untuk cinta.” Saya juga masih yakin kalo kekuatan cinta itu lahir dari kekuatan hati, maka jagalah hati, terangilah ia dengan cahaya Ilahi, insya Allah ia kita akan membawa kita menuju cinta sejati, cinta yang syar’i, cinta yang diridhai Allah.

Hmm…ngomong-ngomong, emang gak enak sih mendem perasaan, tapi saya yakin itu jauh lebih baik dibanding mudharat yang ditimbulkan kalo kita ngungkapinnya sebelum waktunya.

salah seorang ulama berkata:
"bersabar untuk menahan diri dari syahwat adalah lebih mudah daripada bersabar ketika mendapatkan akibat dari syahwat (adzab jika maksiat dikerjakan)"

Semua orang punya potensi, so, asah dan gunakan potensi yang kita miliki untuk mengalihkan perasaan kita. Daripada capek mikirin perasaan yang tak terbendung, mending kita beribadah, zikrullah, zikrul maut, baca, nulis, belajar, dan banyak hal-hal positif lain yang bisa kita lakukan.
Ingat! Laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik, begitu pula sebaliknya. Jadi perbaikilah diri kita, insya Allah akan diberikan pasangan yang baik pula.

Yang terakhir, buat kamu yang aku cintai (Permasuriku, Bidadari kecilku), yah, kamu, yang lagi baca blogs ini, aku yakin banget kamu baca blog ini. Haha…jangan ge-er lah, sampe senyum-senyum sendiri kayak gitu, lucu banget deh. Aku pengen bilang:
“Demi Allah, aku mencintaimu…Tunggu lamaranku As Soon As Possible. Sampai saat itu tiba, aku cuma bisa menitipkanmu pada Allah. Aku yakin bisa menjaga kamu, bisa menjadi imam kamu di dunia dan akhirat, bisa menjadi pembimbing kamu, bisa menjadi partner sejati untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah untuk mendapatkan ridha Allah menuju surga-Nya.”

“Dan jangan pernah bertanya kenapa aku mencintaimu, karena cinta itu seperti angin, tak terlihat, namun kita rasakan, dan kita yakin akan keberadaannya, walau tak seorang pun bisa menggambarkan bagaimana rupa angin. Seperti itulah cinta.”
Akhir kata, syukron katsiran buat partner diskusi saya malam ini. Malam ini penuh inspirasi, saya kembali sadar, saya belajar banyak, saya merasa bangkit dari hibernasi panjang, dan saya merasa menemukan sebuah jawaban yang selama ini saya cari. Yaah…itu dia. Terima kasih ya Allah.

Subhanallah…
Alhamdulillah…
Allahu Akbar…

“Ketika cinta harus diam, Allah yang berbicara, tentang kebenaran, tentang kemuliaan hati, dan pasangan jiwa sejati”

Jakarta, 11 April 2008
01.51

modified:
Jakarta, 2 April 2009
22.18


Selasa, 31 Maret 2009

Nitip Absen Dong...

***
Tulisan ini terinspirasi dari sebuah fenomena yang bisa dibilang sudah sangat lumrah di kalangan mahasiswa, yakni nitip absen bagi yang tidak hadir kuliah. Saya sendiri juga pernah melakukannya, baik sebagai orang yang minta nitipin absen, maupun orang yang diminta untuk ngabsenin...dan baru aja tadi pagi, seorang teman mengirim sms pada saya untuk nitipin absen, untungnya saya juga gak masuk kuliah...hehehe=)

Nah, setelah berpikir dan belajar agama, saya pun meninggalkannya, karena Allah. Bukan tanpa alasan lho, so, berikut artikel yang saya kutip dari http://www.muslimah.or.id yang berkenaan dengan masalah ini:

Pertanyaan:

Adakalanya teman kuliah saya meminta bantuan saya untuk mencantumkan tanda kehadirannya walaupun sebenarnya ia absen (tidak hadir) yaitu ketika diedarkannya daftar hadir, saya menuliskan namanya. Apakah ini termasuk bantuan kemanusiaan atau merupakan kecurangan dan penipuan?

Jawaban:

Itu memang bantuan, tapi bantuan syaithani, setan cenderung kepada orang yang mencantumkan tanda hadir orang lain yang sebenarnya tidak hadir. Ada tiga catatan dalam hal ini:

Pertama: Bohong

Kedua: Menipu civitas akademika

Ketiga: Menyebabkan orang yang tidak hadir itu berhak terhadap insentif kehadiran (yang sebenarnya tidak dihadiri) sehingga ia mengambil insentif tersebut dan memakannya dengan cara peroleh yang bathil. Satu saja dari ketiga hal ini, cukup untuk mengharamkan perbuatan tersebut yang mungkin dipandang sebagai bantuan kemanusiaan.

Bantuan kemanusiaan tidak mutlak selamanya terpuji, karena yang terpuji hanyalah yang sesuai dengan syariat adapun yang menyelisihinya tentu tercela. Sebenarnya yang menyelisihi syariat, bila disebut bantuan kemanusiaan, berarti penamaan yang bukan pada tempatnya, karena yang menyelisihi syariat itu merupakan perbuatan hewani. Karena itulah Alloh menyatakan perbuatan kaum kuffar dan kaum musyrikin seperti perbuatan binatang, sebagaimana firman-Nya,

“Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad: 12)

Dalam ayat lain disebutkan:

“Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu.” (Al Furqon: 44)

Jadi semua yang menyelisihi syariat itu merupakan perbuatan hewani, bukan manusiawi.

(Fatawa Islamiyyah, Syaikh Ibnu Utsaimin)

Waha Para Mahasiswa sesungguhnya Ujian dan Absen benar - benar merupakan Ujian bagi kejujuranmu …