Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Juli 2009

Sandiwara Langit - Bukan Sekedar Sandiwara

***
Judul : Sandiwara Langit: Sebuah Kisah Nyata Bertabur Hikmah Penyubur Iman
Penulis : Abu Umar Basyier
Penerbit : Shofa Media Publika
Tebal (halaman) : i-xx + 212 + cover

Melihat judulnya sekilas, anda mungkin akan berpikir bahwa ini adalah novel yang berisi cerita fiktif semisal karya-karya Habiburrahman El-Shirazy yang katanya menyejukkan hati. Atau malah buku yang mengupas hukum sandiwara dalam islam. Jawabannya adalah bukan.

Kata sandiwara bagi sebagian orang identik dengan cerita fiktif, padahal tidaklah demikian. Pengertian “sandiwara” dipaparkan pada komentar penduluan yang dibawakan oleh Mahfudz Siddiq, Lc, MA di halaman xv buku ini:

Secara etimologis, kata “sandiwara” berarti drama, kumpulan beberapa babak atau fragmen dalam kehidupan, fiktif ataupun non fiktif.

Pada halaman yang sama, juga dijelaskan maksud dari kata “langit”, yakni:

Sedangkan pengertian langit disini menunjuk kepada “sutradara” yakni yang maha mengatur alam semesta, Allah subhana wa ta’ala.

Buku ini menceritakan kisah nyata seorang pemuda saleh bernama Rizqaan (Semua nama pelaku disamarkan oleh penulis), yang saat berusia 18 tahun (tamat SMA) sangat ingin untuk menikah.

“saya sadar, saya masih terlalu hijau untuk menikah. Tapi saya masih lebih sadar bahwa tanpa menikah, saat ini saya merasa tak kuat menahan godaan syahwat” (hal.2)

Ia pun mendatangi seorang ustadz dan menceritakan keinginannya itu. Ia telah memiliki seorang calon, dan ia ingin melamarnya. Wanita saleha itu bernama Halimah. Namun masih ada satu hal yang mengganjal di hatinya. Ustadz pun menanyakan hal itu, anda pasti bisa menebak apa yang mengganjal di jatinya. Yah..orang tua wanita itu ingin agar suami anaknya adalah lelaki yang sudah mapan, paling tidak telah memiliki sebuah pekerjaan yang layak untuk menghidupi keluarga, sementara ia sama sekali belum memiliki pekerjaan. Sang ustadz pun menjelaskan bahwa syarat yang diajukan oleh orang tua wanita itu logis dan tidak melanggar syariat, karena salah satu kewajiban suami adalah menafkahi istri. Selanjutnya sang ustadz membawakan dalil-dalil dan perkataan ulama, mengenai masalah tersebut.

Singkat cerita, akhirnya orang tua Halimah mengizinkan Rizqaan menikahi putrinya, namun dengan sebuah syarat/tantangan yang bisa dibilang cukup aneh.

Ia menantang, bahwa dalam sepuluh tahun saya harus dapat member penghidupan layak buat putrinya. Kami sudah harus memiliki kehidupan yang berkecukupan. Bila tidak, ia meminta saya menceraikannya. Dan uniknya, dia minta hal itu diucapkan saat akad nikah. Sebagai syarat. (Hal.11-12)

Syarat inilah yang akan menjadi inti dari kisah ini. Mereka pun menikah dan menjalani kehidupan sebagai pasangan suami istri yang berbahagia. Berbagai cobaan, baik suka dan duka mereka lalui, untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Lantas apakah yang terjadi selama sepuluh tahun itu? Dan bagaimana akhir dari kisah ini? Sebaiknya saya tidak menceritakannya disini, silahkan membaca bukunya.

Kisah dalam buku ini diceritakan secara sederhana dan wajar oleh sang penulis, tanpa ada dramatisasi yang berlebihan. Latar belakang penulis yang merupakan seorang ustadz tentu memiliki gaya penulisan yang berbeda dengan seorang novelis. Dalam penulisan buku ini, penulis berkonsultasi langsung dengan pelaku, yakni Rizqaan dan ustadz itu. Kisah ini dituturkan dalam sudut pandang ustadz itu. Dalam proses penulisan, penulis juga meminta pelaku untuk membaca terlebih dahulu manuskrip dari buku ini dan meminta mereka untuk mengoreksi.

Secara umum, saya bisa mengatakan bahwa buku ini sungguh luar biasa. Sebuah kisah nyata yang mengharukan, sampai-sampai saya berkali-kali tak dapat menahan tangis. Namun bukan sekedar kisah yang mengharukan, tapi juga banyak pelajaran hidup dan pelajaran agama. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya nukilan ayat Al-Qur’an dan hadits yang diselipkan pada dialog-dialognya. Karenanya berbagai pelajaran dan hukum yang ada terkesan mengalir dan mudah ditangkap oleh pembaca. Kesannya mungkin akan lain, bila pelajaran tadi disuguhkan tidak dalam bentuk cerita. Bagi orang awam, kisah seperti ini tentu terasa lebih menarik, karena terdapat sisi hiburan dan nilai-nilai agama sekaligus.

Silahkan membeli bukunya di toko buku terdekat, atau kalau gak mau, silahkan pinjam pada orang yang punya…Selamat membaca.

Yogyakarta, 19 Juli 2009
06.34

Senin, 16 Februari 2009

Mayat-Mayat Cinta (Sebuah Risalah Penegur Jiwa)

***



Alhamdulillah, setelah tertunda beberapa lama karena ke(“sok”)sibukan saya, akhirnya resensi buku ini selesai juga saya tulis. Buku ini saya beli pada tanggal 17 Dzulqaidah 1429 H / 15 November 2008, setelah ta’lim di mesjid Al-I’tishom, Dukuh Atas. Dan telah sempat saya ceritakan di posting blog saya yang berjudul Back to ta’lim…Alhamdulillah . Selamat membaca dan berkomentar.





Data Teknis Buku

Judul : Mayat-Mayat Cinta (Sebuah Risalah Penegur Jiwa)

Penulis : ‘Amr bin Suroif Al-Indunisy

Penerbit : Toobagus publishing

Tebal : i-viii + 240 halaman + cover

Dimensi(p x l x t) : (21 x 14 x 1,2) cm





…dan orang-orang yang beriman lebih mencintai Allah ta’ala…(QS.Al-Baqarah:165)





Mendengar judulnya, mungkin anda mengira buku ini adalah buku yang penuh dengan kengerian. Atau mungkin anda mengira buku ini adalah plesetan dari novel Ayat-Ayat Cinta, karangan Habiburrahman El-Shirazy, yang disebut-sebut sebagai novel fenomenal itu.

Sabar-sabar…jangan terburu-buru menjustifikasi. Saya akan menjelaskan beberapa isi pokok buku ini.





Secara umum, buku ini mengandung beberapa poin,yakni:

Pertama, Penjelasan tentang cinta dari sisi syar’i. Baik definisi, jenis-jenis, dll





Kedua, Penjelasan tentang Al-Isyq, yakni salah satu jenis cinta yang tidak baik. Yakni cinta yang berlebihan dan mengandung syahwat, dan ini merupakan sebuah penyakit. Buku ini cukup gamblang dan terperinci dalam membahas masalah Al-Isyq ini, sehingga pembahasannya ada pada 6 bab.





Ketiga, Setelah menjelaskan panjang lebar tentang Al-Isyq, penulis lalu memaparkan obat dan terapi dari penyakit Al-Isyq. Diantara obat itu adalah: menundukkan pandangan mata, Ikhlas, Al-Qur’an, Doa, dan tentunya…..MENIKAH





Keempat, Kisah orang-orang bertakwa yang terhindar dari godaan wanita





Kelima, Ada satu bab khusus yang berjudul sama dengan bukunya, yakni “MAYAT-MAYAT CINTA”, berisi tentang kisah-kisah tragis para pemuja cinta.





“Wahai Adinda,…

Kupersembahkan hidup dan matiku,…Hanya untuk-Mu

Bila engkau mati,…Aku pun mati”

(Hal.176)





Yah, dikarenakan rasa cinta yang berlebihan, kisah-kisah cinta mereka berakhir dengan kematian yang mengerikan. Na’udzu billahi min dzalika.





Keenam, Nah..bab 23, bisa jadi bagian yang paling menarik dari buku ini, yakni berisi: Nasehat untuk Habiburrahman El-Shirazy. Nah lo?? Emangnya ada apa dengan kang abik? Atau lebih spesifik, ada apa dengan Novel Ayat-Ayat Cinta?





Untuk menjawabnya, berikut penjelasan dalam buku ini:





Bab ini dibuka dengan ayat:





“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS.Al-Ashr:1-3)





Dan hadits:





Dari Abu Ruqoyah Tamim Ad Daari radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Agama adalah nasehat, kami berkata : Kepada siapa ? beliau bersabda : Kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan kepada pemimpan kaum muslimin dan rakyatnya. (Riwayat Bukhori dan Muslim)





Yah…itu adalah dalil yang menyatakan wajibnya saling menasehati.





Dan nasehat penulis kepada kang Abik adalah (kutipan berikut tidak sama persis dengan tulisan di bukunya, untuk mempersingkat dan memberi penjelasan):





Nasehat pertama: Hendaklah engkau ikhlas.

Ini merupakan nasehat umum, yang tentunya patut kita nasehatkan kepada siapa saja.





Nasehat kedua: Dalam novelmu tedapat talbis (Pengaburan) Al Haq bil Bathil dan menyembunyikan kebenaran.





Syubhat pertama

“Tidak mudah untuk membid’ahkan suatu perbuatan terpuji yang tiada larangan dalam Al-Qur’an dan Sunnah”. (Novel AAC hal.116)

Padahal kejadian sebenarnya ialah:”…ibu-ibu di desa (itu) rayakan tanda neptu untuk menyenangkan anak kecil. Karena kanjeng Nabi ialah teladan. Beliau paling suka menyenangkan hati anak kecil”. (Novel AAC hal.115 – 116)





Jawabannya

Masalah membid’ahkan sesuatu itu mempunyai kaidah-kaidah yang disandarkan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan untuk masalah ini, sebenarnya perlu penjelasan yang panjang lebar, terutama bagi orang-orang yang belum mengenal apa itu bid’ah.





Oke, saya (iroel) akan sedikit menjelaskan masalah ini:

Definisi Bid’ah secara syar’i adalah segala perbuatan/perkara baru yang dianggap ibadah, namun tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah.







Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa syarat diterimanya amal ibadah seseorang ada dua, yakni: Ikhlas dan mengikuti contoh/petunjuk Rasulullah. Nah, jadi segala bentuk ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah merupakan bid’ah yang sesat. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits Irbadh bin Sariyah:





“…dan berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru dalam agama, karena setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR.Tirmidzi, Nasa’I, dll)





Amalan-amalan bid’ah juga tertolak, sebagaimana dalam hadits:





Dari Ummul mukminin, Ummu 'Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu 'anha, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak".



(Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat Muslim : “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai urusan kami, maka dia tertolak”)

[Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718]





Ya, selain itu, agama islam merupakan agama yang telah sempurna, sebagaimana Allah berfirman:





“Pada hari ini telah kusempurnakan untukmu agamamu.” (QS.Al-Maidah:3)





Karena islam telah sempurna, maka cukuplah ajaran Rasulullah yang menjadi pegangan kita. Apa yang menjadi bagian dari agama pada saat itu (Zaman Rasulullah), maka ia akan tetap menjadi bagian dari agama pada saat ini, dan sampai akhir zaman nanti. Begitu pula sebaliknya, apa yang tidak menjadi bagian dari agama pada saat itu, maka tidak akan menjadi bagian dari agama selama-lamanya.





Adapun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memang paling senang membuat hati anak-anak kecil menjadi senang, dan ini tidak diragukan lagi. Tetapi apakah caranya dengan merayakan acara neptu? Tentu yang demikian adalah perkara baru dalam agama ini.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya tidak pernah merayakan acara neptu untuk membahagiakan hati anak kecil walaupun mereka anggap baik. Tetapi kebaikan dan keburukan itu ada timbangannya, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara bid’ah yang diada-adakan dalam islam.





Syubhat kedua

Tentang kemerdekaan beragama: “Kita harus memanusiakan manusia tanpa menyentuh sedikitpun kemerdekaannya. Meyakini agama yang dianutnya. Tak lebih dan tak kurang.” (Novel AAC hal.83)





Jawabannya

Yaa Shirazy kemanakah ilmumu? Bukankah kamu orang yang berpendidikan agama? Sudah menghafal Al-Qur’an! Bukankah Allah سبحانه و تعالى menceritakan tentang orang-orang yahudi dan nasrani dalam Al-Qur’an, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir dari Islam? Dan mereka termasuk orang-orang yang musyrik!





“Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al masih itu putera Allah". Demikianlah itu Ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS.At-taubah:30)

Dan merekapun dilaknat oleh Allah سبحانه و تعالى:





"Telah dila'nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS.Al-Maaidah:78-79)







Dan mereka adalah sejelek-jelek kaum, bahkan lebih buruk daripada keledai yang tidak paham isi Al-Kitab (QS.Al-Jumu’ah 62:5)





Mereka adalah orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman (QS.Al-Maaidah 5:82)





Lalu kamu mau membiarkan kebebasan beragama?

Ketahuilah bahwa wihdatul adyan (penyatuan agama) mempunyai beberapa kerusakan (Ada 9 poin yang disebutkan).







Kemudian pembahasan poin ini ditutup dengan fatwa Lajnah Daimah yang saat itu diketuai oleh Syaikh bin Baaz, tentang propaganda penyatuan agama: Pemikiran tersebut tertolak menurut syar’i dan haram hukumnya berdasarkan dalil-dalil syar’i dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijma’.





Kontroversi dalam novelmu

Kisah seorang santri salaf, yang bertalaqi Al-Qur’an dan Qiro’ah Sab’ah hafidzul Qur’an, makan bersama perempuan yang bukan mahram di restauran, menyimak lagu sambil menikmati perempuan yang memainkan biola kemudian dia diajak berdansa dan menolaknya.





“Maafkan aku Maria. Maksudku aku tidak mungkin bisa melakukannya. Ajaran Al-Qur’an dan Sunnah melarang aku untuk bersentuhan dengan perempuan kecuali dia istri atau mahramku…” (Novel AAC hal.133)





Ucapanmu benar bahwa ajaran Al-Qur’an dan Sunnah melarang bersentuhan, berbicara, bertatapan muka, menikmati keindahan wanita apalagi jalan berdua dengan wanita yang bukan mahram. Tetapi kenyataannya jauh berbeda. Sayangnya ia sendiri tidak mempraktekannya. Ucapannya pun ia langgar sendiri.





Nasehat ketiga: Berhati-hatilah engkau dengan fitnah perempuan





Dari Usamah bin Zaid, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “dan tidaklah fitnah yang paling berbahaya setelah hidupku terhadap kaum laki-laki adalah perempuan” (HR.Bukhari dalam kitabun nikah no.67)





“Dan sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah telah menjadikan kalian sebagai pemimpin di muka bumi, maka Dia (Allah) melihat segala perbuatan kalian. Maka hati-hatilah kalian dengan wanita. Sesungguhnya awal fitnah yang menimpa Bani Israil adalah perempaun.” (HR.Muslim no.7124)





Mencegah terjadinya fitnah lebih mudah daripada penyembuhannya. Dan Allah dan Rasul-Nya telah menerangkan hal tersebut. Allah berfirman:





"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat".

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (QS.An-Nur:30-31)





Nasehat keempat:Haramnya menampilkan gambar bernyawa (terdapat gambar wajah wanita dalam cover bukumu)





Dari Abu Hurairah رضي الله عنها berkata bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah سبحانه و تعالى berfirman:





“Tidak ada orang yang lebih zalim daripada orang-orang yang menggambar dan menciptakan seperti ciptaan-Ku. Hendaklah mereka menciptakan semua semut kecil. Dan hendaknya mereka menciptakan biji-bijian atau biji gandum” (HR.Bukhari)





Seorang yang menggambar makhluk hidup seperti apa-apa yang diciptakan Allah سبحانه و تعالى, baik itu gambar manusia atau binatang yang, maka hal tersebut sudah menyerupai dan menandingi ciptaan Allah سبحانه و تعالى. Hal tersebut akan menjadi azab bagi pelakunya di hari kiamat, sebagaimana Rasulullah shlallahu ‘alaihi wasallam bersabda:





Dari Aisyah radiallahu ‘anha:

“Seberat-berat siksaan manusia pada hari kiamat adalah orang-orang yang menyerupai dengan penciptaan Allah” (HR.Bukhari no.5953 dan Muslim no.2016)





Orang-orang tersebut akan diperintahkan oleh Allah سبحانه و تعالى untuk menghidupkan dan memberikan ruh tapi tidak mampu untuk menghidupkannya. Maka ia diazab dengan azab yang pedih sebagaimana Rasulullah shlallahu ‘alaihi wasallam bersabda:





“Setiap orang yang menggambar berada di dalam neraka. Orang tersebut akan diperintahkan untuk menghidupkannya dan diperintahkan untuk memberikan ruh, dia pun diazab dalam api neraka” (HR.Muslim no.5662)





“Barangsiapa yang menggambar (yang bernyawa) di dunia. Dia akan diperintah meniupkan ruh padanya dan dia tidak mampun untuk menghidupkannya” (HR. Bukhari no.5963, dan Muslim no.2110)





Sehingga yang demikian termasuk dosa-dosa besar karena diancam dengan api neraka. Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah memerintahkan kepada Ali bin Abi Thalib radiallahu ‘anhu agar menghapus seluruh gambar.





Dari Abu Hayaj, bahwa Ali radiallahu ‘anhu pernah berkata kepadaku:

“Maukah kamu aku utus sebagaimana aku diutus oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam? Jangan kamu biarkan gambar (yang bernyawa) melainkan kamu hapus. Dan janganlah kamu biarkan kuburan yang tinggi (melebihi satu jengkal) kecuali engkau ratakan!” (HR Muslim No.2287)





Nah…untuk masalah gambar ini, sebenarnya perlu pembahasan khusus yang lebih terperinci. Penjelasan di atas hanya penjelasan singkat saja. Insya Allah akan kita bahas di lain kesempatan.





Ungkapan berlebihan dalam novel AAC

Di dalam novel ini, terdapat ungkapan yang berlebihan bahkan sampai tingkatan kesyirikan seperti:





Ucapan seorang wanita: “… saat kau baca suratku ini anggaplah aku ada di hadapanmu dan menangis sambil mencium telapak kakimu karena rasa terima kasihku padamu yang tiada taranya.” (Novel AAC hal.165)





“..Anggaplah saat ini aku sedang mencium kedua telapak kakimu dengan ait mata haruku. Kalau kau berkenan dan Tuhan mengizinkan aku ingin jadi abdi dan budakmu dengan penuh rasa cinta. Menjadi abdi dan budak bagi orang saleh…” (Novel AAC hal.166)





Dan ucapan “Seorang santri salaf yang belajar talaqqi Qiro’ah sab’ah”. Berkata kepada istrinya:

“Cintaku kepadamu seperti cintanya seorang penyembah kepada sesembahannya” (Novel AAC hal. 382)





Ucapan diatas merupakan sebuah bentuk kesyirikan dalam mahabbah (cinta). Yah…kita tidak boleh menyamakan cinta kita kepada Allah dengan cinta kepada makhluk.





Penutup

Buku ini ditutup dengan nasehat penulis kepada seluruh membaca untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk beribadah dan beramal saleh.

Semoga Allah menjaga kita dari su’ul khatimah dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mencintai karena Allah سبحانه و تعالى. Amin.





Catatan dari saya[iroel]:

- Tujuan saya menulis resensi ini sama dengan tujuan penulis buku, yakni memberikan nasehat. Karena sebagian dari kita mungkin belum tahu tentang hal-hal yang diungkapkan dalam buku ini.

- Ini juga memberikan pelajaran kepada kita, agar berhati-hati dalam memilih bacaan. Walaupun terlihat bagus, namun karena keterbatasan ilmu, kita kadang-kadang tidak bisa melihat hal-hal yang syubhat (samar) dalam sebuah buku. Maka disinilah pentingnya, mengapa harus ada buku seperti Mayat-Mayat Cinta ini.

- Saya juga berharap agar kita lebih mengutamakan membaca Al-Qur’an, Al-Hadits, serta buku-buku agama yang baik, dibandingkan novel, yang hanya merupakan cerita fiktif.

- Dalam beragama, hendaklah kita tidak mengedepankan akal dan perasaan, namun yang kita kedepankan adalah dua hal yang mulia yakni: Al-Qur’an dan As-Sunnah. Apa yang mencocoki keduanya, maka termalah. Dan apa yang menyelisihinya, maka tinggalkanlah.





Wallahu ta’ala A’lam bishawab.



Barakallahu fiikum.





Kamis, 21 Agustus 2008

Karena ‘Cantik’ Aku Memilihmu


Data Teknis Buku
Judul : Karena ‘Cantik’ Aku Memilihmu
Penulis : Asadulloh Al-Faruq
Penerbit : Mumtaza
Tebal : i-x + 154 halaman + cover
Dimensi : (25 x 13 x 8) cm

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah.” (HR.Muslim)

Saudariku muslimah! Anda ingin menjadi perhiasan dunia terindah? Anda ingin menjadi pengantin putri tercantik? Anda merindukan suami yang sholih kepribadiannya? Jadilah wanita sholihah, itulah pilihan yang harus anda genggam erat-erat! Kesholihan dirimu akan mendesain jiwamu demikian elok dan cantiknya. Sehingga para lelaki sholih pun akan berebut mempersuntingmu. Subhanallah!

Buku ini akan menyadarkan anda bahwa kecantikan hakiki seorang wanita terletak pada kesholihan hatinya. Bukan semata karena keelokan tampilan fisiknya. Buku ini juga akan menuntun anda dalam menapaki hari-hari pernikahan anda. Sehingga suami anda akan selalu terpikat berat oleh suguhan kesholihan yang terpancar dari kepribadianmu. Dan, bibir suamimu pun tak akan henti-hentinya mendesiskan sebuah bisikan indah: “Beruntunglah aku, karena memilihmu!”
(Back Cover)

Itu tadi sedikit petikan dari back cover buku ini. Mungkin secara umum sudah cukup menggambarkan isi dari buku ini. So, Siapa yang ingin jadi perhiasan dunia terindah?

Just Read this book…

“Wanita dinikahi karena empat hal: hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah wanita yang beragama, niscaya kamu akan beruntung.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Senin, 28 Juli 2008

Ya Allah, Aku Jatuh Cinta!


Data Teknis Buku
Judul : Ya Allah, Aku Jatuh Cinta! Mengelola Cinta Tanpa Harus
Terkena Dosa
Penulis : Burhan Sodiq (http://blog.burhanshadiq.com)
Penerbit : Samudera
Tebal : 178 Halaman + Cover
Dimensi : (18,1 x 12,3 x 0,9) cm

Apakah anda sedang jatuh cinta?
Saya tahu jawabannya dari senyuman yang terlihat di wajah anda saat membaca judul buku ini. Saya yakin anda akan semakin tersenyum bila berani membeli dan membaca buku ini. Lebih ‘kerasa’ lagi kalau anda membacanya sendiri dan mencoba mencocokkan dengan apa yang anda alami saat ini.
(Dikutip dari back cover buku ini)

Hmm…ketika pertama melihat buku ini, saya langsung tertarik dan membaca back cover-nya. Ternyata tebakan penulisnya benar, karena saya langsung tersenyum.

Apakah jatuh cinta dilarang?
Tentu tidak, jatuh cinta adalah fitrah manusia. Namun yang menjadi persoalannya adalah bagaimana mengelola dan menyalurkan cinta itu agar tidak terjerumus ke dalam lembah kemaksiatan kepada Allah.

Islam adalah agama yang mulia, yang telah mengatur bagaimana seharusnya seorang muslim/muslimah (terutama para pemuda) menyalurkan cintanya. Namun terkadang, masalah cinta ini begitu kompleks dan sulit diatasi. Tentu saja, karena masalah cinta merupakan masalah multifaktorial, yang melibatkan sisi psikologis maupun sisi fisiologis manusia.

Buku ini memaparkan beberapa teori dan hasil penelitian psikologi maupun medis tentang masalah cinta. Salah satu teori yang menarik adalah Triangular Theory Of Love atau segitiga cinta, yang dikemukakan oleh Sternberg (1988). Teori ini menghasilkan delapan kombinasi jenis cinta.

Dari segi medis, dipaparkan tentang penelitian yang dilakukan oleh peneliti Universitas London, yang mengungkap tentang keterlibatan hypotalamus dalam masalah cinta. Penelitian lain juga menjelaskan bahwa pada saat jatuh cinta, seseorang mengalami perubahan hormon. Pria yang sedang jatuh cinta mengalami penurunan hormon testosteron, sedangkan wanita mengalami peningkatan hormon testosteron. Teori ini mungkin bisa menjawab statement yang menyatakan kalau pria yang sedang jatuh cinta cenderung menjadi feminim, dan wanita yang sedang jatuh cinta cenderung menjadi maskulin. Selain itu, disebutkan juga dalam buku ini hormon-hormon yang aktif bekerja pada saat seseorang sedang jatuh cinta. Hormon yang paling utama adalah Feniletilamin, disusul feromon, oksitosin, vasopresin, dopamin, dan norepinefrin.

Yang paling penting dari buku ini adalah pembahasan tentang cinta dan manajemennya dalam pandangan islam. Tentunya disertai nash-nash dari Al-Qur’an dan As-sunnah. Juga terdapat pendapat-pendapat dari ulama, misalnya Ibnul Qoyyim Al-Jauziah, yang dalam masalah cinta terkenal dengan kitabnya Ar-Raudhatul Muhibbin . Kitab tersebut telah diterjemahkan dalam bahasa indonesia, yang berjudul Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, terbitan Darul Falah.

Dalam buku ini juga dipaparkan beberap kisah cinta para Salafussaleh. Yah, generasi terbaik islam ini ternyata pernah juga jatuh cinta. Namun, pastinya mereka dapat mengatur cinta itu sesuai dengan koridor syari’at, dan kepada merekalah seharusnya kita belajar.

Ada satu kisah yang sungguh menarik:
Siti Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah, pernah berkata kepada Ali bin Abi Thalib: “Wahai Ali, sesungguhnya sebelum menikah, ada laki-laki di kota Mekkah ini yang sangat aku kagumi.” Lalu Ali berkata: “Jadi engkau menyesal menikah denganku?” “Tentu tidak, karena laki-laki itu adalah kamu…”

Waw…romantis bukan? Namun riwayat dan sanad dari kisah ini tidak disebutkan. Jadi kalau ada yang tahu, tolong beritahu saya.OK

Hal lain yang menarik dari buku ini adalah ciri-ciri orang jatuh cinta, dan yang cukup ‘serem’ adalah tips jitu bila cinta (Lamaran) anda ditolak.

Buku ini disajikan dengan bahasa yang ringan dan sangat mudah dipahami. Jadi tak perlu khawatir. Namun, salah satu kekurangan buku ini adalah tidak disebutkannya riwayat dan sanad beberapa kisah, sehingga mengurangi nilai keilmiahannya. Namun saya yakin kisah-kisah tersebut berasal dari riwayat yang tsiqoh, mengingat penulis yang merujuk pada kitab ulama yang insya Allah terpercaya dan terjaga ilmunya, seperti Ibnul Qoyyim Al-Jauziah.

Pokoknya, buku ini sangat cocok dibaca oleh remaja yang ingin belajar mengelola cintanya agar tidak terjerumus pada dosa.

Tertarik dan Ingin tahu lebih banyak?
Segera beli buku ini di toko-toko buku terdekat. Insya Allah bermanfaat.
Bagi yang berada di wilayah FKG UI, pinjam punya saya juga boleh. Tapi saya sarankan untuk membelinya, karena suatu saat pasti anda ingin membacanya lagi. Terutama jika hati anda sedang bergejolak karena cinta. Tentu saja, karena masalah cinta akan selalu hadir dalam kehidupan kita, kapanpun, dimanapun.

Mutiara Ayat dan Hadits:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS.Ali Imran:14)

“Ada tiga hal, jika seseorang berada di dalamnya, niscaya ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya; tidaklah ia mencintai kecuali karena Allah; dan ia takut kembali kepada kekufuran, setelah Allah menyelamatkan ia daripadanya, sebagaimana ia takut dilemparkan ke api neraka.” (HR.Bukhari dan Muslim)

“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS.Ali Imran:31)

“Mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini Ku naungi mereka, dimana tidak ada naungan yang lain selain naungan-Ku.”(HR.Muslim)

Wallahu A’lam Bishawab

Jakarta, 23 Juli 2008
Pukul 00.09