Selasa, 23 September 2008

Bingkisan Istimewa untuk Saudariku agar Bersegera Meninggalkan Musik dan Lagu

***
Penyusun: Ummu Rumman
Muraja’ah: Ustadz Abu Salman

Suatu ketika seorang akhowat tengah duduk bersama beberapa temannya mengerjakan tugas kuliah. Tak jauh dari mereka, duduk pula seorang teman. Sepertinya ia sedang menunggu kedatangan seseorang. Sang akhowat terheran-heran melihat temannya. Telah satu jam lebih ia duduk tanpa melakukan apapun kecuali ia tampak berkonsentrasi penuh menghafalkan sesuatu yang tertulis dalam kertas yang dipegangnya. Ketika rasa ingin tahunya tak terbendung lagi akhowat tersebut pun bertanya, apakah gerangan yang ia hafalkan? apakah yang tertulis dalam kertas tersebut? Betapa kagetnya ketika ia dapati isi kertas tersebut adalah syair lagu-lagu (musik). Astagfirullah… wal ‘iyyadzubillahi min dzalik.

Ya ukhty, betapa melekatnya musik di kehidupan umat muslim saat ini. Di mana pun, kapan pun, bahkan saat kondisi apapun musik tidak terlepas dari mereka. Ada pendapat yang mengatakan bahwa sesungguhnya musik membantu proses belajar. Orang yang belajar dengan diiringi musik, maka ilmu itu akan lebih mudah terpatri di dalam dirinya. Sebagian lagi menganjurkan kepada wanita yang sedang hamil untuk secara rutin memperdengarkan musik klasik pada usia kehamilan tertentu untuk membantu perkembangan pertumbuhan otak sang jabang bayi. Dan pendapat yang tak kalah jahil adalah perkataan yang menyebutkan bahwa orang-orang yang tidak menyukai musik adalah orang yang kasar hatinya. Subhanallah… Maha suci Allah dari segala apa yang mereka tuduhkan…

Hukum Musik dan Lagu
Allah Ta’ala telah berfirman, “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6) Sebagian besar mufassir (Ulama Ahli Tafsir -ed) berkomentar, yang dimaksud dengan “perkataan yang tidak berguna” dalam ayat tersebut adalah nyanyian. Hasan Al Basri berkata, “Ayat itu turun dalam masalah musik dan lagu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras dan musik.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud). Maksudnya adalah akan datang pada suatu masa di mana beberapa golongan dari umat Islam mempercayai bahwa zina, memakai sutera asli, minum minuman keras dan musik hukumnya halal, padahal semua itu adalah haram. Imam Syafi’i dalam kitab Al Qodho’ berkata, “Nyanyian adalah kesia-siaan yang dibenci, bahkan menyerupai perkara batil. Barangsiapa memperbanyak nyanyian maka dia adalah orang yang dungu, kesaksiannya tidak dapat diterima.”

Ya ukhty, telah jelas haramnya musik dan nyanyian. Maka janganlah engkau menjadi ragu hanya karena banyaknya orang yang menganggap bahwa musik itu halal. “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al-An’am: 116)

Adapun orang-orang yang menyatakan tentang halalnya musik maupun mengatakan tentang berbagai manfaat musik, maka cukuplah kita katakana kepada mereka, apakah engkau mengaku lebih mengetahui kebenaran dan kebaikan daripada Allah dan Rasul-Nya ?
Bingkisan Istimewa untuk Saudariku agar Bersegera Meninggalkan Musik dan Lagu

Ya ukhty, salah satu tanda syukurmu atas nikmat yang diberikan oleh Allah adalah engkau menggunakan nikmat-Nya untuk beribadah kepada-Nya. Serta engkau tidak menggunakan nikmat-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya. Ingatlah bahwa tidak ada sesuatu pun nikmat pada dirimu melainkan nikmat itu berasal dari Allah. Maka janganlah engkau gunakan nikmat-nikmat Allah itu untuk sesuatu hal yang tiada berguna terlebih lagi dengan perkara yang telah jelas keharamannya.

Ukhty, engkau telah mengetahui bahwa biasanya kesudahan hidup seseorang itu pertanda dari apa yang dilakukannya selama di dunia, lahir dan batin. Dan diantara tanda seseorang itu husnul khotimah atau su’ul khotimah adalah ucapan yang sering ia ucapkan di akhir hayatnya. Karena itu, demi Allah! Janganlah engkau menganggap remeh masalah musik ini. Engkau mungkin mengatakan, “Ah, aku hanya mendengarnya sekali dua kali saja. aku mendengarnya hanya untuk mengisi waktu senggang atau ketika bosan. Kupikir itu tidak akan berpengaruh pada diriku.” Tahukah engkau ukhty, sesungguhnya pelaku maksiat itu terbiasa karena ia mengizinkan satu dua kali tindakan maksiat. Meskipun hanya sekali dua kali, itu tetaplah maksiat dan bisa mendatangkan murka Allah.

Sekali engkau mendengar atau menyanyikannya, maka sebuah noktah telah kau torehkan pada hatimu. Dan karena telah sekali engkau terlena, engkau pun cenderung melakukannya lagi sehingga makin sulit engkau berlepas diri dari musik dan nyanyian. Dan ketika musik telah menjadi kebiasaan, sungguh dikhawatirkan ia akan menjadi kebiasaan hingga akhir hidup. Betapa sering telinga ini mendengar kisah tentang orang-orang yang mengakhiri hidupnya dengan lantunan musik dan lagu. Mereka tidak bisa mengucapkan syahadat Laailaha illallaah, meski dengan terbata-bata. Justru lantunan musik yang terdengar dari lisan mereka - Na’udzubillahi min dzalik. Meski mungkin mereka pun menginginkan untuk mengucapkan kalimat syahadat, tetapi tenyata lisan mereka terasa ‘berat’ dan telah terlanjur terbiasa dengan musik.

Ukhty, kita memohon pada Allah kesudahan hidup yang baik. Meninggal sebagai muwahid dan syahadat Laailaha illallaah sebagai penutup hidup kita. Aamiin…

Maraji’:
- 70 Fatwa Tentang Al-Qur’an (Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz)
- Berbenah Diri untuk Penghafal Al-Qur’an (Dr. Anis Ahmad Kurzun), Majalah As Sunnah, edisi Ramadhan 06-07/ Tahun XI/ 1428H/ 2007M
- Bersanding dengan Bidadari di Surga (Dr. Muhammad bin Ibrahim An-Naim)
- Hukum Musik dan Lagu, Rasa’ilut Taujihaat Al Islamiyyah, 1/ 514 – 516 (Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu)
- Kiat Mengatasi Kendala Membaca dan Menghafal Al-Qur’an (Haya Ar-Rasyid)
***

Dikutip dari: http://www.muslimah.or.id

Sabtu, 06 September 2008

Seperlima Abad

***
6 September 1988 – 6 September 2008
24 Muharram 1409 – 6 Ramadhan 1429

Tak ada yang istimewa dari diri yang semakin dekat dengan nisan ini. Melangkahi detik-detik yang terpancar warna-warni, melewati batas-batas bawah sadar, menggeliat cari aduan, di tempat asing yang telah temani jasad di sebagian masa.

Bertanya diri tentang lintasan ini, merengkuh titik-titik persinggahan, terukurkah dengan bijak? Atau cuma sekedar cerita tentang kesia-siaan? Tentang diri yang buram melihat bayangan, bahkan buram melihat sang penguasa.

Dimana engkau selama ini sobat? Nafasmu masih berhembus harmonis dengan aliran darahmu. Detak jantungmu masih mampu mengirim darah sampai ke kapiler terkecil di balik korteks serebri. Otakmu masih ciptakan ribuan reaksi kimia dan lonjakan-lonjakan listrik.

Tapi apa jiwamu sesehat ragamu?
Mencari arti memang tak mudah, apalagi di sela sang hidup yang begitu kompleks. Mengiring tawa berbayang lirih pada sya’ir-syai’r kedamaian. Saat sempurna naungi kealpaan akan kasih sayang. Terlupa riuh gema sabda, yang cantik berhias taman-taman rindang. Pada oase penghilang dahaga jiwa yang kering. Bahkan kepahaman tentang arti itu masih dipertanyakan.

Hidup ini berbatas sobat…
Engkau tak lebih hanya menunggu akhir hidupmu. Menunggu jiwamu diambil, dan engkau terbujur kaku di liang sempit, menanti saat berjumpa penciptamu. Mungkin itu akan menjadi taman surgamu, atau malah menjadi ruang kesengsaraanmu. Yah…semuanya kembali pada catatan-catatan di lintasanmu, pada tinta yang telah engkau torehkan…

Mengalir dan terus mengalir, hanya syukur dan pujian tertinggi untuk yang maha tinggi. Seperlima abad ini masih menjadi otoritasku atas izin-Nya. Entah kapan otoritas ini akan dicabut. Mereka-reka pastinya bukan hal yang baik. Hanya konstruktor kebaikan yang harus terus bekerja tanpa henti, hingga tak sanggup lagi mengalir pada untaian ayat-ayat maha sempurna. Dan destruktor keburukan yang juga mau bekerja layaknya konstruktor kebaikan tadi.

Tangis jiwa ini masih terdengar samar-samar. Sesak sesal jadi hiasan yang terkadang datang hibur diri, kala jiwa dan raga tak mau kompromi. Menahan asa dan memeluk gelisah, memetik sari suci dan merajut kapas tapak cinta, hanya temani diri, bukan tak mau pergi, terus merangkak, panjat tanjakan berduri, terluka dan tertatih dalam jeram…Inilah…inilah sang hidup. Terus pekik suara lembut, manusia tak peduli padanya, berbisik tolak kegelapan, tapi manusia malah halangi dan giring kegelapan itu mendekat. Semakin terasing, tak tahu hitam putih mereka. Diri hendak teranginya, dan musuh tetap pada kegelapannya. Inilah…inilah sang hidup, di terminal ke dua puluh.
Ingin terus ku berdiri di lintasan ini, yang terang memberi petunjuk, pada diri ini, dan diri-diri lain yang selalu di hati, dengan cinta-Nya, sampai akhir nafas ini, sampai kafan menutupi tubuh ini.

Ya Allah…
Ampuni aku atas kesia-siaan yang kulakukan di seperlima abad hidupku
Jadikan tahun-tahunku berikutnya lebih baik dan lebih berarti
Berikan aku ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, dan rezeki yang berkah
Tetapkanlah aku pada istiqomah dan kesabaran di jalan-Mu
Dan jika hidupku harus berakhir, maka matikanlah aku sebagai syuhada di jalan-Mu

Ya Allah…
Aku tak tahu, apa aku akan merasakan 6 September 2009, atau tidak
Semua dari-Mu, dan akan kembali pada-Mu…

Jakarta, 6 September 2008
01.53
Di tahunku yang ke-20

Minggu, 31 Agustus 2008

Dua Tahun Di Kampus Perjuangan:Sebuah Kilas Balik

Seperti cuma sekali mengedipkan mata, tak terasa langkahku telah menginjak titian panjang. Dua tahun di kampus perjuangan ini benar-benar tak terasa. Kampus perjuangan, sebuah julukan yang bagi sebagian besar mahasiswa UI adalah sebuah hal yang membanggakan, termasuk aku, pada awal-awal kedatanganku di kampus ini. Bagaimana tidak, pada masa-masa awal itu, berbagai suntikan doktrinasi tentang pergerakan dan perjuangan mahasiswa yang katanya luar biasa, sangat sering aku dapatkan. Kegiatan-kegiatan awal mahasiswa baru di UI tak pernah luput dari hal itu, sebut saja P3A, OKK, PSAU, MABIMWA, dan lain-lain. Seakan-akan image dan eksistensi dari mahasiswa perguruan tinggi yang menyandang nama bangsa ini, hanya dilihat dari sejauh mana mahasiswanya mau bergerak, mau turun ke jalan untuk menyuarakan suara rakyat. Sehinga tak heran, jika aku sempat terpengaruh dengan doktrinasi ini, yang membuatku rela berlelah-lelahan di jalan raya, di depan gedung DPR, di depan istana negara, di panas terik Jakarta yang membakar.


Tapi itu dulu, sekarang aku telah benar-benar menyadari, bahwa semua hal itu, hanyalah idealisme yang terlalu berlebihan dari mahasiswa. Idealisme yang tak terkontrol oleh norma yang hakiki. Idealisme yang tak pernah dipertimbangkan dengan timbangan yang paling adil dan paling benar: Al-Qur’an dan As-Sunnah. Perjuangan seorang muslim yang sebenarnya adalah perjuangan di jalan Allah, perjuangan yang tak melenceng dari apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.


Itu sedikit curahan pikiranku tentang idealisme mahasiswa, sekarang aku ingin mengambil cermin diriku, dan merefleksikannya kembali ke masa-masa awal kehadiranku di kampus ini, alias masa-masa menjadi Mahasiswa Baru (MaBa), yang tentunya penuh dengan sejuta kenangan yang tak bisa terlukiskan oleh apapun kecuali khayalan. Inilah beberapa event yang aku lalui beserta tanggal-nya yang masih sempat tersimpan di otakku. Aku membaginya menjadi dua bagian secara umum, yakni masa ketika aku masih di depok (2 bulan pertama), dan masa ketika aku telah di Salemba.


KEGIATANKU SELAMA DI DEPOK


Matrikulasi : 6 Juli - 5 Agustus 2006

Pekan Penyambutan Penghuni Asrama (P3A) : 5 Juli - 26 Agustus 2006


Orientasi Belajar Mahasiswa (OBM) : 22 - 25 Agustus 2006


4 Juli 2006

  • Pertama kali aku menginjakkan kakiku di kampus UI Depok, untuk menanyakan informasi tentang registrasi PPKB dan asrama U

5 Juli 2006

  • Registrasi PPKB
  • Hari pertama masuk di Asrama UI Depok
  • Briefing Matrikulasi, yang merupakan bagian dari rangkaian acara P3A (Pekan Penyambutan Penghuni Asrama)

6 Juli 2006

  • Pre test matrikulasi: Bahasa Inggris, matematika, dan Fisika

9 Juli 2006

  • Mentoring Fakultas (Rangkaian P3A)

10 Juli 2006

  • Upacara Pembukaan Matrikulasi
  • Matrikulasi Bahasa Inggris hari pertama, aku masuk di kelas i.

11 Juli 2006

  • Matrikulasi matematika dan fisika hari pertama
  • Mentoring Daerah (Rangkaian P3A)

12 Juli 2006


  • Kunjungan ke Perpustakaan pusat UI
  • Pemberian tugas Project Work matikulasi bahasa inggris (majalah dan performance)

19 Juli 2006

  • Mentoring Psikologi (Rangkaian P3A)

20 Juli 2006

  • Pemilihan PaKu (Bapak Suku), dan BuKu (Ibu Suku) à Rangkaian P3A. Aku menjadi salah satu calon kuat PaKu, namun akhirnya mengundurkan diri.

22 Juli 2006


  • Nonton Bareng “9 Naga” (Rangkaian P3A)

23 Juli 2006

  • Culture Day (Rangkaian P3A)

25 Juli 2006

  • Mentoring Organisasi (Rangkaian P3A)

3 Agustus 2006

  • Ramah Tamah Keluarga Asrama (Rangkaian P3A)

4 Agustus 2006


  • Student Performance (Matrikulasi Bahasa Inggris) à Kelas-ku (Kelas i) menampilkan sebuah drama, dan aku berperan sebagai BATMAN.

6 Agustus 2006


  • C U Salemba: Perpisahan maba Salemba dengan maba Depok (Rangkaian P3A)

7 - 10 Agustus 2006


  • Pemeriksaan Kesehatan MaBa di PKM

8 Agustus 2006

  • English Day (Rangkaian P3A)

14 Agustus 2006

  • Orientasi Kehidupan Kampus (OKK) à Aku tidak ikut
  • Foto bareng FKG UI angkatan 2006 di UI-Wood (Tugas PSAU)

15 - 16 Agustus 2006


  • Pengenalan Sistem Akademik Universitas (PSAU) à Di Kampus UI Salemba, setelah itu aku kembali ke Depok untuk mengikuti kegiatan selanjutnya.

21 Agustus 2006

  • Success Story: Talkshow dengan Mapresnas 2006 (Rangkaian P3A)

22 - 25 Agustus


  • Orientasi Belajar Mahasiswa (OBM)

26 Agustus 2006


  • Test Bahasa Inggris (EPT)
  • Closing Ceremony P3A à Disini aku terpilih menjadi Mahasiswa Baru (Maba) terbaik, bersama Novika Grasiaswaty (Psikologi)

31 Agustus 2006

  • Gladi Bersih Wisuda dan Penyambutan Mahasiswa Baru

2 September 2006

  • Wisuda dan Penyambutan Mahasiswa Baru
  • Hari terakhir di Asrama, malamnya aku meninggalkan asrama yang penuh dengan sejuta kenangan, menuju tempatku yang sebenarnya: SALEMBA

KEGIATANKU SETELAH DI SALEMBA


4 September 2006

  • Pembukaan Mabimwa (Masa Bimbingan Mahasiswa) 2006
  • Kuliah pertama-ku di FKG UI (Blok 1: Ilmu Kesehatan Masyarakat)

8 September 2006

  • Kuliah MPK Seni (Teater) Pertama

22 September 2006


  • Demonstrasi pertama (Astaghfirullah)

29 September - 1 Oktober

  • Forum Ilmiah Remaja dan Dauroh Studi Islam (FIRDAUS), di Ciloto, Puncak

14 Oktober 2006

  • Mabim Rohani (Buka Puasa Bareng)

2 - 3 desember 2006


  • Jejak Satria (Rangkaian MABIMWA 2006)

Ini mungkin masih sebagian kecil dari peristiwa-peristiwa yang aku lalui bersama teman-teman seperjuanganku angkatan 2006, baik yang se fakultas maupun tidak. Harap maklum jika kurang lengkap atau bahkan tidak sesuai dengan catatan teman-teman. Memori otakku mungkin terlalu lemah untuk mengingat semuanya secara detail dan menyeluruh. Apa yang kutulis diatas hanyalah apayang aku jalani dan aku ingat. Dan seperti yang aku bilang diawal, semua kenangan ini tak dapat dilukiskan dengan apapun, termasuk tulisan ini. Tap aku yakin, teman-teman bisa melukiskannya di otak kanan masing-masing ketika membaca tanggal dan peristiwa di atas.


Masa itu sungguh menarik dan luar biasa. Yah…mungkin kita bisa menyebutnya: “SEBUAH KISAH KLASIK YANG AKAN KITA RINDUKAN.”


Semoga teman-teman tidak melupakan masa-masa itu, hingga kelak kita bercerita saat tubuh ini telah renta :’-)

Kamis, 21 Agustus 2008

PRAKTIKUM ORTHODONSIA BLOK 9

***
Praktikum ortho pertama akan dilaksanakan pada kamis, 28 Agustus 2008. Pukul 08.00

Alat-Alat yang harus dipersiapkan:
  1. Tang Potong --> Tang biasa, yang dipake ma tukang
  2. Tang 3 Jari
  3. Tang 2 Jari Bulat
  4. Tang 2 Jari kotak

Hmm,,,untuk masalah ujian masuk, ternyata materinya itu adalah materi baru, tapi tenang aja, ujian gak akan dilakukan selama buku panduan belum dibagiin, katanya sih buku panduannya bakal dibagiin hari kamis, 28 Agutus. Tapi semoga sih gak ada tes-tesan segala. Amin.

Oke, semangat, dan sampai ketemu di praktikum pertama. Semoga praktikumnya menyenangkan dan kejadian buruk di blok 5 dan 6 tidak terulang lagi di blok ini. HAHAHA ^_^.

Karena ‘Cantik’ Aku Memilihmu


Data Teknis Buku
Judul : Karena ‘Cantik’ Aku Memilihmu
Penulis : Asadulloh Al-Faruq
Penerbit : Mumtaza
Tebal : i-x + 154 halaman + cover
Dimensi : (25 x 13 x 8) cm

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah.” (HR.Muslim)

Saudariku muslimah! Anda ingin menjadi perhiasan dunia terindah? Anda ingin menjadi pengantin putri tercantik? Anda merindukan suami yang sholih kepribadiannya? Jadilah wanita sholihah, itulah pilihan yang harus anda genggam erat-erat! Kesholihan dirimu akan mendesain jiwamu demikian elok dan cantiknya. Sehingga para lelaki sholih pun akan berebut mempersuntingmu. Subhanallah!

Buku ini akan menyadarkan anda bahwa kecantikan hakiki seorang wanita terletak pada kesholihan hatinya. Bukan semata karena keelokan tampilan fisiknya. Buku ini juga akan menuntun anda dalam menapaki hari-hari pernikahan anda. Sehingga suami anda akan selalu terpikat berat oleh suguhan kesholihan yang terpancar dari kepribadianmu. Dan, bibir suamimu pun tak akan henti-hentinya mendesiskan sebuah bisikan indah: “Beruntunglah aku, karena memilihmu!”
(Back Cover)

Itu tadi sedikit petikan dari back cover buku ini. Mungkin secara umum sudah cukup menggambarkan isi dari buku ini. So, Siapa yang ingin jadi perhiasan dunia terindah?

Just Read this book…

“Wanita dinikahi karena empat hal: hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah wanita yang beragama, niscaya kamu akan beruntung.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Rabu, 20 Agustus 2008

PRAKTIKUM PROSTHODONSIA BLOK 9:GIGI TIRUAN CEKAT

***
DIBERITAHUKAN KEPADA MAHASISWA FKG UI ANGKATAN 2006, BAHWA UNTUK PERSIAPAN PRAKTIKUM GIGI TIRUAN CEKAT PERIODE SEPTEMBER - OKTOBER 2008, DIBUTUHKAN:

1. GIGI

Elemen Gigi:
Rahang Atas:
- Insisif Sentral (I1) Kiri dan Kanan
- Caninus kiri / kanan
- Premolar dan Molar:
a.) P1 / P2;
b.) M1 / M2;
-->RA kiri / RA Kanan
-->RB kiri / RB kanan

Penjelasan:
Gigi-gigi:
- 1.1 dan 2.1 (2 Buah)
- 1.3 atau 2.3 (1 buah)
- 1.4 dan 1.6 / 1.5 dan 1.7 (2 buah), atau regio yang lain

2. ALAT PENGASAH / BUR

a. Pointed Tappered Sylindrical diamond
b. Champer end atau round end (Sylindrical diamond)
c. Oblong / Flame type diamond




UNTUK PRAKTIKUM TANGGAL 1 SEPTEMBER 2008

Selasa, 19 Agustus 2008

Dua Hari yang Berbeda

***
Sorot lampu pijar berwarna kekuningan, remang-remang menerangi setiap sudut kamar ini. Aku telah merebahkan tubuhku di kasur tanpa sprei, tepatnya di rumah saudaraku di Bogor. Saat sedang menuliskan daftar pemasukan dan pengeluaran pribadi di notes kecil yang ku beli di Banjarmasin, tiba-tiba timbul niat untuk menuliskan hal-hal yang telah kualami sejak hari jum’at, sampai hari ini (ahad). Oh ya, ngomong-ngomong masalah membuat laporan keuangan pribadi. Itu sudah menjadi kebiasaanku sejak menjadi mahasiswa. Yah, menjadi mahasiswa menuntutku untuk hidup lebih teratur dan mandiri. Pada awalnya, aku membuat buku khusus, semacam buku kas untuk mencatat semua aktivitas keuanganku setiap hari. Namun mulai tahun 2008 ini, aku memanfaatkan aplikasi Microsoft Excel untuk mengatur keuanganku. Hal ini cukup membantu, karena aku tak perlu repot-repot menghitung, cukup menggunakan formula, seperti pada gambar di bawah ini:



Formula untuk baris paling pertama:

=C4



Formula untuk baris ke-2 dan seterusnya:
=IF(C5=0,E4-D5,E4+C5)



Di komputerku, aku menyimpannya dengan nama LKP08.xls, singkatan dari Laporan Keuangan Pribadi tahun 2008. Aku biasa membuat laporan keuangan harian setiap malam sebelum tidur. Namun terkadang aku lupa atau kecapekan, sehingga tidak membuatnya. Akibatnya aku harus membuatnya pada keesokan malamnyam atau bahkan 3 hari sampai seminggu setelahnya. Tentu saja itu sangat sulit karena aku harus mengingat-ingat aktivitas keuanganku yang telah lama berlalu. Hmm…kalau aku sudah putus asa tak bisa mengingat telah kupakai untuk apa uangku, kutulis saja “xxx”.

Oke, itu sedikit cerita tentang kebiasaanku. Silahkan menirunya, jika anda merasa ini adalah kebiasaan yang baik. Sekarang, lanjut ke intinya, kisahku selama dua hari ini:

Jum’at, 8 Agustus 2008

Ba’da Jum’at dan makan siang, aku menghabiskan waktu untuk membaca buku Be an Absolute Genius, karangan Sutanto Windura, hingga ashar.
Ba’da ashar, aku bersantai sebentar sambil minum teh panas dan makan roti tawar pandan yang kuberi keju dan susu kental manis cokelat. Minum teh juga merupakan salah satu kebiasaanku, karena menurutku ia bisa menenangkan pikiran, disamping manfaatnya sebagai antioksidan. Katanya sih, kandungan antioksidan secangkir teh itu lebih banyak dari yang dimiliki delapan buah apel. Hal ini tentu sangat bermanfaat, terutama untuk orang-orang yang tinggal di Jakarta, yang sehari-harinya sangat sering terpapar oleh polusi, pemicu radikal bebas.

Aktivitasku kulanjutkan dengan menghafal hingga pukul 17.30. Setelah itu, aku mandi dan shalat maghrib di mesjid Al-Muhsinin yang berjarak hanya 10 meter dari tempat kos-ku.

Ba’da maghrib, Gugun mengajakku untuk keluar. Katanya, Agus mau mentraktir kami. Aku pun mengiyakan, hitung-hitung mendinginkan kepala. Kami berenampun berangkat: Aku, Gugun, Faiz, Opiq, Agus dan Yaqub. Kami menggunakan mobil Opiq, namun Agus yang menyetir. Tujuan kami adalah Muara Karang / Muara Angke. Waw…kebetulan sekali, sudah lama aku tak makan seafood.

Setibanya disana, kami terlebih dahulu membeli hewan-hewan laut mentah. Kami membeli ikan baronang, lobster kecil, kepiting, dan kerang hijau. Setelah itu, barulah kami menuju ke salah restoran yang berjejer di situ dan memberikan hewan-hewan laut yang lucu-lucu tadi untuk dimasak.

Kami pun makan dengan lahapnya. Alhamdulillah.
Namun yang mengecewakan, ternyata lobster kecil tadi tidak ada dagingnya. Huuh, sepertinya kami tertipu.

Aku tiba kembali di kosan sekitar pukul 23.30, aku langsung shalat isya dan tidur.

Oh ya, ditengah perjalanan menuju Muara Karang, aku sempat chatting melalui handphone dengan Wahyu, teman SMA-ku yang sekarang kuliah di IPB. Sama sepertiku, ia merupakan seorang penuntut ilmu syar’i. Aku sangat kagum padanya karena ke-istiqomah-annya yang sangat stabil sejak dulu (jangko GE-ER bos ^_^). Ia memberitahuku bahwa besok pagi ada pengajian akbar bersama Syeikh dari Timur Tengah di Mesjid Al-I’tishom, mesjid yang belakangan ini sering aku kunjungi setiap sabtu pagi hingga ba’da dzuhur untuk mengikuti pengajian rutin. Pekan lalu, pengajian di mesjid itu sempat diliburkan, karena ada Dauroh Akbar di Yogyakarta yang mendatangkan empat syeikh dari Timur Tengah.

Setelah mendapat informasi dari Wahyu, aku pun berencana ingin mengikutinya. Kapan lagi bisa mendapat ilmu dari Ahlul Ilmi yang telah datang dari jauh.

Sabtu, 9 Agustus 2008

Aku pun berangkat ke mesjid Al-I’tishom, yang terletak di jalan Jenderal Soedirman, tepatnya di dekat gedung BNI Dukuh Atas. Aku diantar oleh Faiz dengan menggunakan sepeda motor.

Setibanya di mesjid, aku sedikit melihat-lihat buku-buku yang di jual di halaman mesjid, yang mulai penuh oleh para thalibul ilmi, kemudian aku pun mengambil wudhu.



Wahyu telah datang, kami pun ngobrol sebentar, sebelum akhirnya masuk ke ruang utama mesjid. Seperti yang disunnahkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, kami terlebih dahulu melakukan shalat tahiyatul masjid 2 rakaat. Setelah itu kami pun mengambil tempat untuk duduk.

Ada dua syekh yang akan mengisi pengajian hari ini, yakni:

Asy-Syaikh Dr. Khalid azh-Zhafiri (Kuwait)
Asy-Syaikh Abdullah ibn Shalfiq azh-Zhufairi (Saudi Arabia)

Syekh masih dalam perjalanan, sehingga kami harus menunggu sekitar setengah jam, sampai syekh pertama datang. Tepat jam 10, Syekh Abdullah ibn Shalfiq azh-Zhufairi pun datang, bersama beberapa orang ustadz. Ia langsung shalat tahiyatul masjid, kemudian duduk menempati tempat yang telah disediakan. Penerjemah duduk di sampingnya. Mesjid telah penuh sesak, hampir tak ada celah. Aku sangat kagum pada semangat thalibul ilmi ini untuk menuntut ilmu syar’i. Subhanallah.

Syekh pertama ini memberi nasehat kepada seluruh ikhwan, inti dari ceramahnya adalah tentang tauhid. Walaupun aku tak paham apa yang beliau sampaikan, kecuali melalui penerjemah, tapi mendengar dan melihat seorang ahlul ilmi berbicara, sungguh sangat menenangkan hati. Aku jadi ingin bertemu dengan ulama-ulama salaf kontemporer, seperti Syekh Albani, Syekh Utsaimin, Syekh bin Baaz, , dan lain-lain. Sayangnya mereka telah berpulang ke Rahmatullah. Kalau saja mereka masih hidup, mungkin merekalah yang akan datang saat ini.

Ceramah dari Syekh Ibn Shalfiq berakhir pada pukul 11.30. Setelah itu pengajian di break sampai ba’da dzuhur. Aku kemudian makan siang lalu shalat dzuhur berjama’ah.

Ba’da dzuhur, pengajian pun dilanjutkan oleh syekh kedua yakni Syekh Khalid azh-Zhafiri, asal Kuwait. Inti ceramahnya juga mengenai Tauhid dan nasehat-nasehat untuk para penuntut ilmu syar’i. Seperti syekh pertama, syekh kedua ini juga tak lupa mengingatkan kami untuk berhati-hati terhadap perkara-perkara bid’ah, karena “setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. Tirmidzi, Nasa’i, dll)

Aku sangat kagum pada kedua syekh ini, saat berceramah, mereka tidak memegang sebuah kitab pun atau bahkan sehelai kertas pun. Mereka begitu fasih dalam berbicara, tanpa tersendat sedikitpun. Setiap ayat dan hadits yang mereka ucapkan telah dihafal di luar kepala.

Setelah ta’lim, aku langsung menuju ke Depok untuk mengikuti acara Simba (Silaturahmi Mahasiswa Baru) yang diadakan BPI (Badan Pengkajian Islam) FKG UI. Acara ini diadakan di Mesjid Ukhuwah Islamiyah (MUI), kampus UI Depok. Kegiatan ini rutin dilakukan setiap tahun untuk menyambut mahasiswa baru muslim. Hmm…namun ketika aku menjadi mahasiswa baru, aku tidak mengikuti acara ini.



Aku tiba kembali di kosan sekitar jam 9 malam.

Dua hari ini aku mendapat dua pengalaman baru, yang pertama: makan seafood di tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Cukup menarik memang, tapi mungkin tak begitu penting, yang paling penting adalah pengalaman kedua, yakni ta’lim dengan dua orang Syekh, Ulama yang datang jauh-jauh untuk menghilangkan dahaga para pencari ilmu syar’i. Semoga Allah merahmati mereka.

Terakhir, aku ingin memperingatkan kepada kita semua untuk tiada henti-hentinya menuntut ilmu, melalui hadits berikut:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu , katanya: "Saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Ingatlah, sesungguhnya dunia itu dilaknat, dilaknat pula segala sesuatu yang ada di dalamnya, melainkan berzikir kepada Allah dan apa-apa yang menyamainya, juga orang yang alim serta orang yang menuntut ilmu."

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
(Dikutip dari kitab Riyadushalihin, Al-Imam Nawawi, Hadits ke-475)

Wallahu A’lam Bishawab

Bogor, 10 Agustus 2008, Pukul 23.00
Ruang BEM FKG UI, 19 Agutus 2008, Pukul 14.28