Tampilkan postingan dengan label Sya'ir dan Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sya'ir dan Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Desember 2012

120512

***
Disampingku kini
Terlelap bidadari tanpa sayap
Sejukkan jiwa yang telah lama merindu cinta
Hangatkan raga yang beku

Yaa, dia yang kucintai dan kupilih jadi belahan hatiku
Pasangan hidupku selamanya

Kumencintaimu karena Allah
Tetaplah disampingku
Hingga ujung waktu kita masing-masing

Cipulir, Jak-Sel
Di sisi bidadari kecilku “Istiara Bakti”
12 Mei 2012
 23.52

My Wedding, Jakarta, 12 Mei 2012

Minggu, 24 Juli 2011

Kaki langit

***
Saat langit-Mu berbatas biru-jingga
Kutermenung di kaki langit
Memandangi keagungan-Mu
Dalam damai, pada penantian

Tentang sebuah cinta
Yang bersembunyi
Di balik kemegahan saujana
Di selubung kalbu sang bidadari

Saat gelombang-Mu bergejolak
Kutermangu di atas sampan
Nikmati naik turunnya hidup ini
Dalam sabar, pada sebuah harapan

Tentang sebuah mimpi
Yang digantung di depan mata
Dilempar begitu tinggi
Bukan khayalan di ujung masa

Saat kuasa-Mu Kau hamparkan
Dan nikmat-Mu kurasakan
Tak henti kuucap syukur
Dalam hati yang terus bergetar
Di sini…
Di kaki langit-Mu…

Pulau Tidung (Kepulauan Seribu), 24 Juli 2011
07.22 WIB

Tidung's Sunrise
(Sony Alpha 230; 18-55mm SAM; 1/250s; f/10; ISO 100)

Sabtu, 16 Juli 2011

Syair Seribu Senyum

***
Kala muram menyapa
Dengan tak sopan ia berdengung
Bukan karena hati gelisah
Tapi kelam tak mau pergi
Pada insan dibalik tempurung
Berserakan di tepi zaman

Luruh sudah di penghujung jalan
Bagai musafir yang tak ingin berhenti
Mencari arti dari langkah kakinya
Menuai kisah dari hembusan nafasnya
Yang masih terengah
Dalam pacuan berharap cerah
Pikul cahaya diatas pundaknya
Tak henti-hentinya ia melontar
Satu, dua, dan tiga senyuman
Yang ubah warnanya
Dan tak cukup, maka seribu senyum terlontar
Yang ubah dunianya, ubah segalanya
Karena senyumnya luluhkan hati
Bagi insan-insan tercinta

Mereka takluk dalam keberdayaan
Dan tak mati jiwanya
Sebab senyuman itu
Ialah penawar sang hati yang gundah
Ia hidupkan cinta, yang masih setia untuk bungkam
Sampai tiba waktunya
Saat senyum beradu senyum
Dan syair indah kembali berkumadang
Pada suatu hari yang syahdu

Jakarta, 13 Juli 2011-07-13
22.01

Disini kumenunggumu
(Sony Alpha 230; Sony Lens 18-55mm SAM; 1/80s; f/5.6; ISO 100)

Minggu, 19 Juni 2011

Untukmu

***
Semilir garis waktu yang terus maju
Setapak-setapak terpapar mantap di sepanjang jalan
Telah sisiri bilik-bilik cahaya
Yang telah redup satu demi satu
Dan sisakan satu bilik yang masih benderang
Tak pernah redup sejak muncul

Terpoles mutiara di balik cangkang
Siapa gerangan dibaliknya?
Tempat cinta berlabuh
Hanya tunggu waktu
Saat ombak mulai tenang
Dan kapal siap merapat
Siap disambut dengan gembira
atau dibuat karam dalam samudera

Merekah (Sony Alpha 230; Sony Lens 18-55 SAM; 1/80s; f/5.6; Taken at Sukabumi, 11/06/2011)

Saat embun kasih sayang basahi jiwa
Terus meluap isi kekosongan
Di sekat-sekat terdalam yang tak bicara
Ia hanya berbisik dengan satu nama
Nama indah itu…
Yang lontarkan senyum
Penuh tanya
Dalam diam
Hampir tak kurasa hadirnya
Dan garis waktu semakin mendekat
Paksaku tuk lepas kebungkaman
Seiring genderang perang yang ditabuh
Dengan seruan maju atau hilang

Aku menanti
Di garis terdepan
Untukmu…
Yang kucintai dalam diam

Jakarta, 19 Juni 2011
20.23 WIB

Senin, 31 Januari 2011

Sang Selimut Hati

***
Seperti halnya hidup-hidup yang lain, aku masih menikmati gelombang-gelombang dibawah perahu kecilku, yang menyisir ramah sisi kewarasan. Setelah menyapu habis kerikil-kerikil tajam yang telah sempat merobek telapak kaki, sang hidup masih terus berkelana dalam kehampaan yang sedikit-sedikit mulai pecah dengan hujaman cahaya terik, bersanding dengan wangi bunga di kanan kirinya, terus menanjak mencari tempat terdamai, di suatu puncak nan sejuk.

Aku duduk termangu memandang luas dunia, disamping api semangat yang takkan pernah padam tuk pacu diri ini. Ku tersadar akan banyak hal, dari terminal-terminal singgah tempatku meniti bibit-bibit kehidupan, tentang apa yang tersembunyi dan apa yang terlihat. Mungkin takkan pernah datang lagi bisikan-bisikan yang semilir menghentak jiwa, bangunkan ketertiduran dan kealpaan yang berulang. Terus merasuk sumsum tulang terdalam, tapi siapa yang dapat menjaganya di dalam sana?

Saat aku sadar bahwa roda hidup terus berputar, jiwa ini terhempas lepas dalam badai gelisah, ditemani bayang hampa yang terus hantui setiap sudut khayalan, dan genderang perang pun kembali di tabuh. Hampa yang coba menyerang, ternyata mudah saja ditebas oleh senandung merdu nan lembut, mengalir dari lumen-lumen kasih sayang, mendekap jiwa dan menerbangkannya kembali ke altar cinta, pada lorong-lorong dengan wangi melambai, dan cahaya lilin-lilin kesetiaan, semuanya terajut dalam jalinan-jalinan indah, selimuti dan isi kekosongan ini.

Engkaulah sang selimut hatiku, teruslah selimutiku dalam hangatmu…
Dalam hangatmu…

Salemba, 31 Januari 2011
23.56

Sabtu, 27 November 2010

Karena aku lebih mencintai Allah

Karena aku lebih mencintai Allah

Sesosok insan sekelebat melewati dinding-dinding pusara makna
Pecahkan konsentrasi sang tuan berdetak
Mengalir sejenak diantara derasnya aliran pembawa nafas
Kusadari dan kusambut dengan manisnya
Sampai datang sebuah bisikan yang begitu kukenal
Kumencintainya
Namun kutepikan ia
Karena aku lebih mencintai Allah
Kutanggalkan semua atribut-atribut cinta selain kepada-Nya
Kuletakkan semuanya jauh dibelakang tabir agung-Nya
Kubungkus rapih, dan takkan kubiarkan mereka terbang bebas lagi
Kaburkan hati yang meniti jalan lurus
Akupun mencintai yang pantas kucintai
Dia…
Dan akupun mencintai karena-Nya
Karena Dia…
Yang membolak-balikkan hatiku ditangan-Nya yang suci

Disini
Kuberikrar, ditengah terjangan hujan badai
Tak peduli berat dan berlikunya jalan yang menanti
Karena aku lebih mencintai Allah

(Selesai ditulis pada pukul 21.05, pada suatu malam di Salemba)

Jumat, 20 Agustus 2010

Waktu Itu Akan Datang

***
Tak terasa memang, waktu dengan begitu sombongnya membuang muka acuhkan kita, yang terus berlomba, adu cepat dengannya. Satu demi satu khalayak mimpi yang bersemi terputus dengan paksa atau keluar dengan selamat pada buaian yang dinantinya. Kegelisahan terasa mencekik dalam lipatan-lipatan perenungan. Dalam makna ada tanya, dalam tanya ada samar, dalam samar ada tenang, dan dalam tenang ada jawaban.

Aku disorot lampu-lampu kota impian, dengan sudut tak beraturan. Bayanganku ingin marah pada cahaya bias, bias sebias distraksi kata-kata yang terus mengalir, bak aliran darah segar di dalam arteri carotis, menggebu terbangkan pasir, pecahkan kawanan ombak, mengiris cakrawala dengan dentuman supersoniknya.

Teriaklah!teriak…
Di balik sunyi, diam inilah yang jadi teriakmu. Bahkan mutiaramu di dasar laut sana lirih mendengar, nyanyian cantiknya berbalas sapa dengan teriakmu. Ia berbisik dalam makna, sungguh jauh dari jawaban.

Mimpi ini begitu panjang, lelah, tak berujung, tak kenal jalur-jalur kerikil tajam, yang dengan mudahnya menghujam kulit-kulit yang kerja keras melawan sang alam, untuk hidup, untuk menghidupi, dan untuk memulai sebuah kehidupan.

Aku masih berdiri di depan sorot fokusmu, masih memperhatikan rudal-rudal keserakahan yang menghujam tanah negeri, masih melihat topeng-topeng palsu yang mencari mukanya yang hilang, masih melihat kehormatan-kehormatan yang dijual murah, dan masih melihat permata dalam cangkang yang tak tersentuh, tak tersentuh oleh siapapun, bahkan aku.

Dan aku masih berdiri di depan barisan ini, menggenggam erat bendera kemenangan, yang akan kutancapkan dipuncak nanti, tunggu aku,…karena waktu itu akan segera datang.

Salemba, 21 Agustus 2010
00.12 WIB

Sabtu, 31 Juli 2010

Pulau Seribu Masjid

***
Kupandangi setapak-setapak di atas laju angin
Buatku kagum dan terpesona
Pada untaian-untaian mutiara putih
Berbaris rapi susuri hati
Ditemani seruan agung yang bersahut-sahutan
Memanggil dan mencari
Mutiaraku
Yang jauh disana
Seberangi lautan indah dan gunung menjulang
Kini…
Disini…
Di pulau seribu masjid ini
Kuluapkan cintaku, untuknya…

Ditulis di Pulau Seribu Masjid (Tidore),
pada akhir-akhir kegiatan Kersos 2010 FKG UI
Tanggal 29 Juli 2010
Pukul 06.56 WIT

Pulau Maitara (Kiri) dan Tidore (Kanan)

Kamis, 24 Juni 2010

Dialog dengan Kesetiaan

***
Entah ada apa dengan jiwaku akhir-akhir ini, ia terus mempertanyakan sesuatu yang mungkin belum seharusnya dipertanyakan, tapi terus membebani bagai ilalang rimbun di pekarangan luas. Imaji pun turut serta membangunkan hasrat-hasrat bersayap manis, terbang kesana kemari, menyusuri dan merasuk dalam relung-relung dunia mikroskopik, yang tak terlihat dengan mata telanjang, tapi semua merasakan keberadaannya.

Sejuk, nyaman, dan damai, diri ini masih terlena dengannya, tanpa kata atau isyarat, hanya mengalir seiring alunan riuh merdu, lelapkan hati dalam buaian senyum, senyum yang luluhlantahkan sadar berjuta makhluk, karena indahnya, atau karena sesuatu dibalik tabir itu.

Malam ini, kucoba memulai kembali sebuah dialog, dengan seorang tamu agung yang selama ini selalu bersembunyi di balik gelisah, gelisah semua orang, termasuk aku, dan orang-orang yang memujanya. Dialah kesetiaan, yang selalu disematkan dalam setiap janji, disisipkan di setiap komitmen, dan dijadikan kunci rantai pengikat cinta. Yah, semua orang memuja dan mengagung-agungkannya, walaupun banyak pula yang mempertanyakannya, dan aku mengenal satu diantaranya. Ia bertanya tentang kesetiaan, tentang eksistensinya, tentang seseorang yang tak kutahu, dan apapun tentang kesetiaan itu. Ia seperti angin yang menebarkan pasir-pasir di gurun, menyapu hati setiap insan dengan luapan gembira yang kadang menampakkan diri dengan samar dan dingin, sedingin kutub di ujung bumi. Aku tak paham kepada siapa ia melempar pertanyaan, apakah kepada kesetiaan itu sendiri? kepada orang yang ia percayakan sebuah kesetiaan? Atau malah kepada dirinya sendiri?

Wahai engkau yang bertanya tentang kesetiaan, sungguh engku tak perlu risau, karena engkau mungkin hanya diganggu oleh perasaanmu sendiri, perasaan yang mungkin belum engkau telusuri lebih jauh. Hanya satu yang ingin kukatakan padamu, lihatlah lebih dekat, maka kau akan memahaminya.

Tak perlu dialog panjang dengan sang kesetiaan, karena ia tak perlu banyak kata, dan ia tak dirajut dari kata-kata. Ia hanya perlu dua teman, aku dan kau…


Salemba, 25 Juni 2010
00.44

Jumat, 30 April 2010

Keputusan


***
Ketika lelah berkunjung dalam raga yang tak berdaya ini, ku tertegun melihat hantaran mengejutkan nurani yang masih berbisik lirih akan rasa itu. Memaksanya untuk memutuskan satu hal, tapi jiwa ini tak sanggup mengangkat beban sejenis ini, yang baru pertama kali hinggap di selasarnya, tak sempat tuk mengenal, dan ia datang tiba-tiba, menghujam tanpa tahu diri, tanpa tahu apa isi hati ini. Ia tak mendengar derap tertatih saat jiwa ini merangkak mencari arti dan memeluk gelisah. Ia tak melihat goresan-goresan indah berseri yang melayang singgahi pelupuk yang mungkin berkaca-kaca. Karena itulah ia mencoba membidik, dan aku berada di bidikan itu.

Di ujung persimpangan ini, terasa jalan yang semakin berat, semakin menguji kedewasan dan kepahamanku akan hidup ini. Dan setetes demi setetes hikmah tetap mengalir di hati yang masih terus berbolak balik ini. Merekapun berlomba dengan tetesan-tetesan kelabu yang coba disuntikkan oleh gerangan-gerangan di balik tabir hitam pekat tak terlihat.

Sungguh meniti jalan ini adalah sebuah ujian yang nikmat, walau berat berliku. Kesabaran yang bisa membuatnya indah dan rupawan, hiasi kebisingan dunia yang terus menarik ke kanan dan ke kiri, tak tahu arti akan sempurnanya jalan ini. Jalan yang telah dilalui insan-insan luar biasa. Sungguh kumerindukan mereka di tengah segala nyaman maupun penat.

Dan kukembali pada bidikan tadi, memaksaku tuk putuskan sesuatu, yaah, memutuskan sesuatu, dan aku pun memutuskan untuk tidak memutuskan apa-apa.

Ruang Putih Salemba
Sabtu, 1 Mei 2010
00.33

Kamis, 04 Maret 2010

Dialog pedang bermata dua

***
بسم الله الرحمن الرحيم

Entah bagaimana lagi kuharus menyikapi makhluk yang selalu berbolak-balik ini, di saat ia kembali diuji dengan pedang bermata dua. Saat pilihan benar-benar ada di genggaman, dan pedang itu mesti terhunus dengan salah satu matanya, bukan keduanya. Aku tak memahami, apakah telah sampai waktu yang ditunggu itu, sementara jiwa raga terlalu tidak siap untuknya. Kucoba mengambil cermin jernih dan kuhadapkan pada diri pemikir ini, dan kuurai jaring-jaring gelisah menjadi hiasan terang di depan pelupuk mata, dan ia pun mencoba jadi pelitaku tuk menilai bayangan yang coba goncangkan hati.

Samar terang silih berganti tentang bayangan bidadari hiasan kalbu. Diri ini hampir tak sanggup menahan frekuensi gelombang yang dipancarkannya, luluhlantahkan saraf-saraf sensitif yang menerawang cari aduan. Akhirnya berangan akan bahagia dalam langkah derap rapi, terbang damai bersama angan, jauh susuri belantara mimpi indah.


Cinta…saat semua orang memuja keagungan dan eksistensinya, aku justru mempertanyakannya. Kaki ini telah jauh melangkah, arungi berbagai jalan kehidupan yang penuh misteri. Layaknya sebelumnya, ini adalah jalan yang telah kulalui berulang kali, tapi aku selalu lemah dibuatnya, belum cukupkah pelajaranku tentang ini? Apa perlu aku kembali belajar pada jejak-jejak referensi yang kutulis sendiri? Atau kumenyerah lagi saja padanya?
Oh tidak kawan, itu terlalu mengerikan, hidupmu adalah pelajaranmu, dan kau lebih tahu akan hal itu. Maka engkau terlalu lemah dan hina jika menyerah di ujian ini, di ujian yang telah engkau lalui berulang kali.

Maka pergulatan ini pun terus berlanjut sampai rangkaian kata-kata ini lahir, semakin tak paham, dan kubutuh wasit yang dapat menengahi. Terlalu indahkah ia hingga menyilaukanmu tuk berpikir realistis dan benar? Jawabannya mungkin ia kawan, yah…ia sangat indah, tapi sadarkah kau akan waktumu? sadarkah kau akan dirimu yang belum siap, maka ambillah pedang tadi, dan hunuskanlah sesuai nuranimu!

Aku tercengang dengan jawaban itu, maka kuambillah pedang itu, namun belum kuhunuskan, menunggu nurani reda dalam berkobar, menunggunya semakin bijak, menunggunya bicara tentang kebenaran.

Jakarta, 17 Februari 2010
00.38


Minggu, 03 Januari 2010

Titik akhir

***
Hari ini kami akhiri perjalanan kami
Dalam langkah mencari ridha-NYA
Bukan akhir segala-galanya, tapi awal untuk titik yang lebih cerah
Dengan lentera cahaya yang mnyejukkan jiwa.
Dengan insan-insan yang baru,insan-insan yang hatinya terisi ilmu, bukan sekedar logika dan hawa nafsu.
Kami masih berdiri di belakang tirai.
Untuk jadi pemegang lentera ini, tak berucap banyak kecuali dengan hikmah.
Kami masih disini, disamping nakhoda, untuk jadi navigator bahtera ini,untuk bersama menuju pulau kemenangan.
Di ujung sana, yang terang benderang, sisihkan samar-samar yang mengganggu, dan ikutkan ia bersama kami, dalam bahagia dan kemenangan yang nyata.

Anyer,27 des 09
11.41




Senin, 14 Desember 2009

Tiga Kelopak

***
Di taman ini
Kupijakkan kaki dengan tenang dan damai
Tanpa lirih senandung kabut yang muram durjakan hati
Hanya hening simfoni mentari yang gegap gempitakan jiwa

Titik titik kesejukan berjatuhan di atas ragaku
Saat kutelusuri labirin-labirin taman ini
Dengan wangi yang tak kalah menusuk pusat saraf olfaktori

Kujelajahi dan terus kukagumi
Sampai kutiba pada sekat tertutup kelam
Dengan bunga-bunga rupawan di depan mata, tapi suram di belakang punggung
Aku tak mengenalnya, walau kudengar kisah tentangnya
Kucoba menjauh namun ia begitu dekat
Hingga kulihat tiga kelopak
Yang coba bermain di tepi balkon kegundahan hatiku
Membuatku sedikit riang berselimut cemas

Ingin kupetik satu kelopak saja
Berwarna putih merekah tenang
Kulihat kilau darinya
Silaukan mata tapi tak butakan hati
Hati bergetar saat berucap
Dengan lidah di balik tabir
Tapi cinta tetap terpancar
Terang menyusur dalam temaram
Tak ada yang tahu, kecuali “kita”

Satu kelopak angkat suara, tentang gundahnya akan cinta
Hingga gundahnya juga gundahku
Namun tetap tunduk pada sang Raja
Dan tetaplah bersemayam disitu, menunggu waktu yang tepat
Ia tersenyum, dalam tanda tanya

Dua kelopak buka topengnya
Entah sadar atau tak sadar
Terlihat sudah layu tangkainya
Di balik jubah terlihat megah

Tiga kelopak yang tersirat...
membiaskan diri bagai keindahan, tapi tak tahu bayang di baliknya.
Haruskah di pangkas dan dibakar? atau dilembutkan dan dibersihkan dengan air sejuk nan mulia? hingga terobek kesamaran darinya...

Jakarta, 14 Desember 2009
23.38




Sabtu, 05 September 2009

1/5 abad + 1 tahun

***
ﺑﺴﻢاﷲﺍﻟﺮﺣﻤﻦﺍﻟﺮﺣﻴﻢ

6 September 1988 – 6 September 2009
24 Muharram 1409 – 16 Ramadhan 1430


Semakin merangkak saja hari ini. Dengan tangis atau tawa yang memekak terombang-ambing. Hari-hari ini terus bergulir, tanpa minta izin, tanpa berbisik setitik kata. Aku masih menunggangi waktu, tak tahu kapan berhenti, hanya siapkan bekal tuk berhenti. Karena hati tak ingin merintih di ujung jalan sepi.

Sang waktu itu semakin sombong, ia tak menoleh ke belakang kecuali hanya sedikit…mudah saja membuatku mengejar-ngejarnya, seperti budak lapar yang mengejar makan. Ah…Jiwa kerdil ini semakin tak berdaya di tepi zaman. Saat refleksi kembali bercerita, ia kembali bertutur tentang sepi kami di jalan terang, ditengah picingan mata orang-orang tak berhikmah, namun kami tetap merajut pondasi jiwa manusia dengan tangan-tangan kami yang hampir lunglai, kami tetap berlari mengejar mimpi tertinggi dengan kaki-kaki kami yang hampir merangkak, kami tetap memikirkan kebaikan-kebaikan dengan hati kami yang selalu berbolak-balik. Bukan…bukan karena ketidakpahaman kami, tapi karena kelemahan kami akan serangan tentara-tentara yang bergerilya dibalik topeng syubhat. Semoga mereka bergabung di jalan terang, atau binasa tanpa arti.

Kuingat akan ketidaktahuan pada hari ini, saat itu…di waktu yang sama. Ternyata Engkau menyampaikanku pada hari ini, maka tak ada tutur yang paling benar, selain maha suci Engkau dan segala puji hanya untuk-Mu. Dan kini ku kembali bertanya tentang hal yang sama, apakah pit stop selanjutnya masih boleh kusinggahi, atau ini adalah yang terakhir. Maka kumohon waktu yang berkah dan manfaat, untukku dan semua orang.

Kuucap doa dalam temaram, di persinggahan sementara ini. Sedetik kedepan adalah misteri, tak tahu seperti apa. Jiwa-jiwa makin tertunduk, ratapi kesiapan maupun kesia-siaan. Tak guna raungan sesal yang menggema di pelataran hati, jika raungan-raungan itu meronta ingkari terbijak. Hanya bisik sesal yang mengalun lembut di sisi sutra, yang pantas terucap, karena tak lain kita sedang mengkritisi kebodohan kita sendiri.

Langkah-langkah terus berdetak seiring jejak. Terus cari bekal dan buang kekosongan, karena tak ada lagi yang dapat kau lakukan, di saat misteri itu…yakni, saat nisan satu jengkal di depan matamu.

Jakarta, 6 September 2009 (01.04 WIB)
١٦ ﺭﻣﻀﺎن ١٤٣٠ ﻫ

Amirul Ihlas Hiroshi / Abu Hanifah Al-Furqan bin Hiroshi Al-Kindary
ٲﻤﻲﺭﻭﺍﻹﺨﻼﺹ ﺤﻴﺭﺍﺼﻲ / ﺃﺒﻭ ﺤﻨﻴﻔﺔ ﺍﻠﻔﺮﻗﺎﻥ ﺒﻦ ﺤﻴﺭﺍﺼﻲ ﺍﻠﻜﻴﻨﺪﺍﺮﻱ


Selasa, 30 Juni 2009

Ketika Cinta...

***

Ketika aku mencari eksistensi kecintaan kepada makhluk. Maka aku tidak menemukan apa-apa kecuali angan-angan dan kekosongan.

Namun ketika aku mengenal kecintaan kepada sang Khalik. Maka disitulah aku menemukan arti cinta yang sesungguhnya.


Payakumbuh, 27 Juni 2009
21.00





Aku Ingin

***

Aku ingin mengabadikan saat-saat dalam hidupku dengan untaian kata-kata yang indah dan bijak

Aku ingin menulis semua yang aku tahu

Aku ingin orang-orang mengetahui semua yang aku tahu

Aku ingin mereka mengambil pelajaran darinya

Aku ingin meninggalkan lembaran-lembaran ilmu yang bermanfaat, meskipun aku tak lagi di dunia

Aku ingin seperti mereka...para Ulama


Payakumbuh, 27 Juni 2009
00.36




Minggu, 14 Juni 2009

Masih Misteri

Masih Misteri

Senyum itu, tanda apakh?
Menyapa hati, tnpa kata..

Di ujung kasih, masih brtanya, pada siang bnderang
Diantara lelah dan riuh

kuambil tanya, dan jadikan diam.
Jdikan sekat senyum itu, yg msh tertutup.. sbagai misteri, masih misteri..smpai wktu yg dinanti

desa Cikuntul,Karawang,Jabar
14 juni 2009
14.17


Sabtu, 30 Mei 2009

Sang Ahli Bijak

Ia…
Pada malam itu terjaga di sela riuh
Memandang hampa pada terang
Dengan waktu bertarung lelah
Pada sisi bayang melayang

Dialog semu kami bertutur…

Raih saja mereka di sayapmu
Hangatkan mereka dengan darahmu
Bawa mereka diatas pundakmu
Sejukkan mereka dengan kibasmu
Tapi hina tak kenal ampun
Atau menunggu suci dulu

Ia…
Dalam garis yang sama
Memahat ukiran-ukiran kasih sayang
Bersama tanya di pelupuknya
Merangkai untaian indah berseling
Bertanya dimana? dan bagaimana?
Tapi ditepis oleh penjaga
Dan kembali ia berrekursi
Pada titik yang sama

Dialog mendekat kami pekat…

Bijak terlihat angkat suara
Tak pura-pura pada kenyataan
Terulang…
Dialog ini…
Semu…
Senyap…
Cahaya setitik…
Bersama…
Sang ahli bijak…
Yang berbisik…

Jakarta, 30 Mei 2009
3.20




Sabtu, 21 Maret 2009

Di Persimpangan itu


Kuteringat pada suatu masa saat diri merangkak di tengah kepolosan, mencari tahu apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan. Tak peduli akan ini dan itu, hanya bebas menggeliat di sudut terang tanpa pagar pembatas yang kokoh. Masa yang sangat berbeda dengan detik ini, saat jiwa ingin terbang melayang, namun tak sanggup lewati barikade yang siap menjulurkan senapannya tepat di wajahku.

Apa yang terlihat, terdengar, dan terasa, hanya berputar ingin cabut rajutan mimpi, akan rasa yang terus bertanya…tentang jalan di depanmu, ya…persimpangan itu. Persimpangan itu yang bergolak tarik kepelikan masa, bukan sekedar berbicara, tapi mengingatkan dan menguji keteguhan nurani.
Tak samar lagi di pelupuk, hanya tinggal menunggu bijak, untuk hempaskan arah tujuan. Langkah ini memang berat, semua jalan terlihat berkilau, menipu dan terdiam nantikan isyarat.

Jangan pergi sang penyejuk! Senyum riuh masih bergemuruh diatas peraduan, tak ingin tangkal pedih seorang diri, sunyi, merana…hingga merangkak tak kau arti, hingga menggali kubur sendiri, hingga lenyap tak berbunyi, hingga dilupa oleh zaman, tinggal bekas onggok tak guna.

Tidak…
Muara itu terlalu mengerikan. Diri yang miskin tak sanggup, tak sanggup, dan tak sanggup…

Menanti kompas tuk arahi…sebab bukan persimpangan pertama, namun berton-ton lawan menari dan menarik, sambil menampar sesekali, tuk ingatkan angkuh yang muncul. Namun kompas seakan patah dan tak tahu arah. Ia terkapar dan berkata:”ini persimpanganmu.” Maka diri harus bangkit, tanpa harapan pada siapapun, kecuali diri itu sendiri, dan Dia yang maha tinggi.

Kutermenung dan terdiam, masih di hadapan persimpangan ini, sebab bukan sekedar jalan. Menanti bijak tuk memilih…atau tidak memilih sama sekali…

Jakarta, 22 Maret 2009
02.29

Sabtu, 06 September 2008

Seperlima Abad

***
6 September 1988 – 6 September 2008
24 Muharram 1409 – 6 Ramadhan 1429

Tak ada yang istimewa dari diri yang semakin dekat dengan nisan ini. Melangkahi detik-detik yang terpancar warna-warni, melewati batas-batas bawah sadar, menggeliat cari aduan, di tempat asing yang telah temani jasad di sebagian masa.

Bertanya diri tentang lintasan ini, merengkuh titik-titik persinggahan, terukurkah dengan bijak? Atau cuma sekedar cerita tentang kesia-siaan? Tentang diri yang buram melihat bayangan, bahkan buram melihat sang penguasa.

Dimana engkau selama ini sobat? Nafasmu masih berhembus harmonis dengan aliran darahmu. Detak jantungmu masih mampu mengirim darah sampai ke kapiler terkecil di balik korteks serebri. Otakmu masih ciptakan ribuan reaksi kimia dan lonjakan-lonjakan listrik.

Tapi apa jiwamu sesehat ragamu?
Mencari arti memang tak mudah, apalagi di sela sang hidup yang begitu kompleks. Mengiring tawa berbayang lirih pada sya’ir-syai’r kedamaian. Saat sempurna naungi kealpaan akan kasih sayang. Terlupa riuh gema sabda, yang cantik berhias taman-taman rindang. Pada oase penghilang dahaga jiwa yang kering. Bahkan kepahaman tentang arti itu masih dipertanyakan.

Hidup ini berbatas sobat…
Engkau tak lebih hanya menunggu akhir hidupmu. Menunggu jiwamu diambil, dan engkau terbujur kaku di liang sempit, menanti saat berjumpa penciptamu. Mungkin itu akan menjadi taman surgamu, atau malah menjadi ruang kesengsaraanmu. Yah…semuanya kembali pada catatan-catatan di lintasanmu, pada tinta yang telah engkau torehkan…

Mengalir dan terus mengalir, hanya syukur dan pujian tertinggi untuk yang maha tinggi. Seperlima abad ini masih menjadi otoritasku atas izin-Nya. Entah kapan otoritas ini akan dicabut. Mereka-reka pastinya bukan hal yang baik. Hanya konstruktor kebaikan yang harus terus bekerja tanpa henti, hingga tak sanggup lagi mengalir pada untaian ayat-ayat maha sempurna. Dan destruktor keburukan yang juga mau bekerja layaknya konstruktor kebaikan tadi.

Tangis jiwa ini masih terdengar samar-samar. Sesak sesal jadi hiasan yang terkadang datang hibur diri, kala jiwa dan raga tak mau kompromi. Menahan asa dan memeluk gelisah, memetik sari suci dan merajut kapas tapak cinta, hanya temani diri, bukan tak mau pergi, terus merangkak, panjat tanjakan berduri, terluka dan tertatih dalam jeram…Inilah…inilah sang hidup. Terus pekik suara lembut, manusia tak peduli padanya, berbisik tolak kegelapan, tapi manusia malah halangi dan giring kegelapan itu mendekat. Semakin terasing, tak tahu hitam putih mereka. Diri hendak teranginya, dan musuh tetap pada kegelapannya. Inilah…inilah sang hidup, di terminal ke dua puluh.
Ingin terus ku berdiri di lintasan ini, yang terang memberi petunjuk, pada diri ini, dan diri-diri lain yang selalu di hati, dengan cinta-Nya, sampai akhir nafas ini, sampai kafan menutupi tubuh ini.

Ya Allah…
Ampuni aku atas kesia-siaan yang kulakukan di seperlima abad hidupku
Jadikan tahun-tahunku berikutnya lebih baik dan lebih berarti
Berikan aku ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, dan rezeki yang berkah
Tetapkanlah aku pada istiqomah dan kesabaran di jalan-Mu
Dan jika hidupku harus berakhir, maka matikanlah aku sebagai syuhada di jalan-Mu

Ya Allah…
Aku tak tahu, apa aku akan merasakan 6 September 2009, atau tidak
Semua dari-Mu, dan akan kembali pada-Mu…

Jakarta, 6 September 2008
01.53
Di tahunku yang ke-20