Jumat, 30 April 2010

Keputusan


***
Ketika lelah berkunjung dalam raga yang tak berdaya ini, ku tertegun melihat hantaran mengejutkan nurani yang masih berbisik lirih akan rasa itu. Memaksanya untuk memutuskan satu hal, tapi jiwa ini tak sanggup mengangkat beban sejenis ini, yang baru pertama kali hinggap di selasarnya, tak sempat tuk mengenal, dan ia datang tiba-tiba, menghujam tanpa tahu diri, tanpa tahu apa isi hati ini. Ia tak mendengar derap tertatih saat jiwa ini merangkak mencari arti dan memeluk gelisah. Ia tak melihat goresan-goresan indah berseri yang melayang singgahi pelupuk yang mungkin berkaca-kaca. Karena itulah ia mencoba membidik, dan aku berada di bidikan itu.

Di ujung persimpangan ini, terasa jalan yang semakin berat, semakin menguji kedewasan dan kepahamanku akan hidup ini. Dan setetes demi setetes hikmah tetap mengalir di hati yang masih terus berbolak balik ini. Merekapun berlomba dengan tetesan-tetesan kelabu yang coba disuntikkan oleh gerangan-gerangan di balik tabir hitam pekat tak terlihat.

Sungguh meniti jalan ini adalah sebuah ujian yang nikmat, walau berat berliku. Kesabaran yang bisa membuatnya indah dan rupawan, hiasi kebisingan dunia yang terus menarik ke kanan dan ke kiri, tak tahu arti akan sempurnanya jalan ini. Jalan yang telah dilalui insan-insan luar biasa. Sungguh kumerindukan mereka di tengah segala nyaman maupun penat.

Dan kukembali pada bidikan tadi, memaksaku tuk putuskan sesuatu, yaah, memutuskan sesuatu, dan aku pun memutuskan untuk tidak memutuskan apa-apa.

Ruang Putih Salemba
Sabtu, 1 Mei 2010
00.33

Jumat, 16 April 2010

Sebelum Kau Terlelap


بسم الله الرحمن الرحيم

Oleh: Abu Hanifah Al-Furqon Al-kindary

Pendahuluan

Saudaraku yang kucintai, semoga Allah senantiasa merahmati kalian. Begitu banyak nikmat dan karunia Allah yang diberikan kepada manusia, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Terkadang manusia lupa akan nikmat dan karunia tersebut. Salah satu nikmat dan karunia Allah ‘azza wajalla adalah tidur. Tak ada seorangpun manusia yang sanggup hidup tanpa tidur, ia telah menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi oleh manusia untuk dapat bertahan hidup. Ia merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala , sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” [Ar-Rum (30):23]

Allah subhanahu wa ta’ala juga telah menjadikan tidur untuk istirahat bagi manusia:

“Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” [Al-Furqon (25):47]

“dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan” [An-Naba (78):9-11]

Berkata Syaikh Muhammad Nashir As-Sa’di ketika menfasirkan surat An-Naba ayat 9-11 diatas: “Dan kami jadikan tidurmu untuk istirahat dan menghentikan kesibukan-kesibukan kalian. Apabila kamu terus sibuk, maka itu akan merusak badanmu. Maka Allah menjadikan malam dan tidur yang meliputi manusia agar gerakan-gerakan yang membayakan dapat terhenti sehingga menghasilkan istirahat yang bermanfaat” [1]

Subhanallah, begitu cinta dan sayangnya Allah kepada makhluknya hingga menciptakan tidur rasa kantuk untuk kita, agar kita dapat beristirahat dan terhindar dari gerakan-gerakan yang berbahaya.

Sebagai wujud rasa syukur kita terhadap nikmat Allah yang begitu besar ini, sungguh sangat bermanfaat jika kita mempelajari hal-hal apa saja yang dianjurkan untuk dilakukan sebelum tidur. Sungguh agama ini telah sempurna, dan untuk masalah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkannya kepada kita, melalui hadits-haditsnya yang mulia.

Sunnah-Sunnah yang Dianjurkan Sebelum Tidur

Berikut ini adalah beberapa sunnah sebelum tidur yang saya rangkum:

1. Tidur Dini
Hal ini berdasarkan hadits yang bersumber dari `Aisyah Radhiallahu'anha "Bahwasanya Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam tidur pada awal malam dan bangun pada pengujung malam, lalu beliau melakukan shalat". (Muttafaq alaih) [2]

2. Berwudhu Sebelum Tidur
Barra' bin Azib berkata, "Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Apabila kamu datang ke tempat tidurmu (hendak tidur), berwudhulah seperti wudhumu untuk shalat, kemudian kamu tidur miring pada bagian kanan …” (HR.Bukhari) [3]

3. Mengibaskan Sprei Tiga Kali
Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiallahu'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Apabila seorang dari kamu akan tidur pada tempat tidurnya, maka hendaklah mengibaskan kainnya pada tempat tidurnya itu terlebih dahulu, karena ia tidak tahu apa yang ada di atasnya..." Di dalam satu riwayat dikatakan: "tiga kali". (Muttafaq `alaih) [2]

4. Makruh Tidur Tengkurap
Abu Dzar Radhiallahu'anhu menuturkan :"Nabi Shallallahu'alaihi wasallam pernah lewat melintasi aku, dikala itu aku sedang berbaring tengkurap. Maka Nabi Shallallahu'alaihi wasallam membangunkanku dengan kakinya sambil bersabda :"Wahai Junaidab (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya berbaring seperti ini (tengkurap) adalah cara berbaringnya penghuni neraka".(H.R. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani). [2]

5. Menutup Pintu, Jendela dan Memadamkan Api dan Lampu Sebelum Tidur
Dari Jabir radiallahu ‘anhu diriwayatkan bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam telah bersabda: "Padamkanlah lampu di malam hari apa bila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman". (Muttafaq'alaih)[2]

6. Shalat Witir Sebelum Tidur
Dari Jabir bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa khawatir tidak bangun pada bagian akhir malam, hendaknya ia sholat witir pada awal malam…” (HR.Muslim)[4]


Doa dan Zikir Sebelum Tidur

Berikut ini adalah beberapa doa dan zikir sebelum tidur yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perlu diketahui bahwa ada banyak doa dan zikir sebelum tidur yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun sengaja saya memilih yang ringkas agar mudah untuk diamalkan oleh kita semua.

1. "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bila hendak tidur maka membaca, “Dengan Nama-Mu ya Allah, Saya mati dan hidup.” (Bismika Allahumma Amuutu wa Ahya) . Apabila bangun dari tidur maka membaca, “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nya tempat kembali.” (Al Hamdulillahil-Ladzi Ahyaanaa Ba'da Maa Amaatanaa wa Ilahin-Nusyuur)

[HR. Al-Bukhari 11/113 dengan Fathul Baari dan Muslim 4/2083; Hishnul Muslim No.105] [5, 6]

Catatan Penting!
Harap diperhatikan lafazh doa sebelum tidur tersebut. Selama ini kita mengenal lafazh yang berbeda, yakni: “bismika allahumma ahya wa amuutu” . Saya belum menemukan referensi tentang riwayat lafazh ini, namun setahu saya, lafazh ini berasal dari riwayat yang dha’if. (Mungkin teman-teman ada yang bisa membantu memberikan referensi, monggo di sharing…)

2. Mengumpulkan dua tapak tangan. Lalu ditiup dan dibacakan Qul huwal-lahu ahad, Qul a’uudzu birabbil falaqi dan Qul a’uudzu birabbin naas. Kemudian dengan dua tapak tangan mengusap tubuh yang dapat dijangkau dengannya. Dimulai dari kepala, wajah dan tubuh bagian depan tiga kali.

[HR. Al-Bukhari dalam Fathul Baari 9/62 dan Muslim 4/1723; Hishnul Muslim No.99][6]

3. Membaca ayat kursi, karena memiliki keutamaan sebagaimana hadits:
“Siapa yang membacanya (ayat kursi) saat hendak tidur, maka sesungguhnya dia selalu berada dalam perlindungan Allah dan tidak didekati setan hingga pagi hari”

[HR.Bukhari dalam Fathul Baari 4/487; Hishnul Muslim No.100][6]

4. Membaca Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, Allahu Akbar 33x. “Siapa yang membacanya saat hendak tidur, maka hal itu lebih baik baginya dari (memiliki) seorang pembantu”

[HR. Al-Bukhari 7/71 dalam Fathul Baari dan Muslim 4/209; Hishnul Muslim No.106][6]

5. Membaca 2 ayat terakhir surat Al-Baqarah (Al-Baqarah 285-286). “Siapa yang membaca kedua ayat tersebut, maka keduanya akan mencukupinya”

[HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bari 9/94 dan Muslim 1/554; Hishnul Muslim No.101] [6]

6. Membaca surat As-Sajdah dan Surat Al-Mulk. Sebagaimana hadits:
"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tidak tidur hingga membaca (Alif laam miim tanziil) [Qs. As-Sajdah/1209], dan [Tabarakal-Ladzi biyadihil Mulku]."

[HR. Tirmidzi dan An-Nasai, dan lihat Shahihul Jami’ 4/255; Hishnul Muslim No.110] [5, 6]

Penutup
Demikianlah tulisan singkat ini. Semoga bermanfaat dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dan semoga tidur anda lebih bermakna…

Ingatlah, dengan melaksanakan amalan-amalan ringan sebelum tidur yang telah dipaparkan diatas, kita dapat meraih keutamaan yang luar biasa dari Allah azza wa jalla. Maka janganlah kita menyia-nyiakannya. Wahai saudaraku, tubuhmu masih sehat dan kuat, maka laksanakanlah sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mulai dari yang kecil dan mudah untuk engkau kerjakan.

Barakallahu fiikum.

Maraji’:

1. Muhammad Nashir As-Sa'di, Tasirul karimir Rahman Fii Tafsiri Kalamil Manan p. 906. www.almeskhat.net
2. Abdul Aziz bin Abullah bin Baaz, Al-Qismu Al-Ilmi (Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari): Dar Al-Wathan.
3. Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Kitab Wudhu, Bab 78: Keutamaan Orang yang Tidur Malam dengan Berwudhu, Hadits No.146, in Ringkasan Shahih Bukhari, SalafiDB. http://sites.google.com/site/salafidb/
4. Ibnu Hajar Al-Asqalani, Kitab Shalat, Bab Shalat Thathawwu, Hadits No.414, in Bulughul Maram min Adillatil Ahkam
5. Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Bab 506:Doa-doa yang Dibaca ketika Beranjak ke Tempat Tidur in Shahih Adabul Mufrad Imam Al-Bukhari
6. Sa'id bin wahf Al-Qahthani, Bab 28: Bacaan Sebelum Tidur, in Hishnul Muslim (Kumpulan Do'a dari Al-Qur'an dan Hadits)


TULISAN BERIKUTNYA (INSYA ALLAH): Setelah Kau Terlelap…

Kamis, 04 Maret 2010

Dialog pedang bermata dua

***
بسم الله الرحمن الرحيم

Entah bagaimana lagi kuharus menyikapi makhluk yang selalu berbolak-balik ini, di saat ia kembali diuji dengan pedang bermata dua. Saat pilihan benar-benar ada di genggaman, dan pedang itu mesti terhunus dengan salah satu matanya, bukan keduanya. Aku tak memahami, apakah telah sampai waktu yang ditunggu itu, sementara jiwa raga terlalu tidak siap untuknya. Kucoba mengambil cermin jernih dan kuhadapkan pada diri pemikir ini, dan kuurai jaring-jaring gelisah menjadi hiasan terang di depan pelupuk mata, dan ia pun mencoba jadi pelitaku tuk menilai bayangan yang coba goncangkan hati.

Samar terang silih berganti tentang bayangan bidadari hiasan kalbu. Diri ini hampir tak sanggup menahan frekuensi gelombang yang dipancarkannya, luluhlantahkan saraf-saraf sensitif yang menerawang cari aduan. Akhirnya berangan akan bahagia dalam langkah derap rapi, terbang damai bersama angan, jauh susuri belantara mimpi indah.


Cinta…saat semua orang memuja keagungan dan eksistensinya, aku justru mempertanyakannya. Kaki ini telah jauh melangkah, arungi berbagai jalan kehidupan yang penuh misteri. Layaknya sebelumnya, ini adalah jalan yang telah kulalui berulang kali, tapi aku selalu lemah dibuatnya, belum cukupkah pelajaranku tentang ini? Apa perlu aku kembali belajar pada jejak-jejak referensi yang kutulis sendiri? Atau kumenyerah lagi saja padanya?
Oh tidak kawan, itu terlalu mengerikan, hidupmu adalah pelajaranmu, dan kau lebih tahu akan hal itu. Maka engkau terlalu lemah dan hina jika menyerah di ujian ini, di ujian yang telah engkau lalui berulang kali.

Maka pergulatan ini pun terus berlanjut sampai rangkaian kata-kata ini lahir, semakin tak paham, dan kubutuh wasit yang dapat menengahi. Terlalu indahkah ia hingga menyilaukanmu tuk berpikir realistis dan benar? Jawabannya mungkin ia kawan, yah…ia sangat indah, tapi sadarkah kau akan waktumu? sadarkah kau akan dirimu yang belum siap, maka ambillah pedang tadi, dan hunuskanlah sesuai nuranimu!

Aku tercengang dengan jawaban itu, maka kuambillah pedang itu, namun belum kuhunuskan, menunggu nurani reda dalam berkobar, menunggunya semakin bijak, menunggunya bicara tentang kebenaran.

Jakarta, 17 Februari 2010
00.38


Sabtu, 13 Februari 2010

Happy Valentine?

Bismillahirrahmanirrahim

Wah, sebentar lagi tanggal 14 Februari alias hari Valentine, banyak yang bersukacita dan menyambutnya dengan meriah, dan banyak pula yang tidak peduli (salah satunya saya),,hoho, lalu bagaimana penjelasana ulama tentang masasalah ini? Let's check itu out...

Pertanyaan:
Al-Lajnah Ad-Da' imah lil Buhuts Al-'Ilmiyah wal Ifta' ditanya : Setiap tahunnya, pada tanggal 14 Februari, sebagian orang merayakan valentine's day. Mereka saling betukar hadiah berupa bunga merah, mengenakan pakaian berwarna merah, saling mengucapkan selamat dan sebagian toko atau produsen permen membuat atau menyediakan permen-permen yang berwarna merah lengkap dengan gambar hati, bahkan sebagian toko mengiklankan produk-produknya yang dibuat khusus untuk hari tersebut. Bagaimana pendapat Syaikh tentang:

Pertama: Merayakan hari tersebut?
Kedua: Membeli produk-produk khusus tersebut pada hari itu?
Ketiga: Transaksi jual beli di toko (yang tidak ikut merayakan) yang menjual barang yang bisa dihadiahkan pada hari tersebut, kepada orang yang hendak merayakannya?
Semoga Allah membalas Syaikh dengan kebaikan.

Jawaban:

Berdasarkan dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah, para pendahulu umat sepakat menyatakan bahwa hari raya dalam Islam hanya ada dua, yaitu Idul Fithri dan Idul Adha, selain itu, semua hari raya yang berkaitan dengan seseorang, kelompok, peristiwa atau lainnya adalah bid'ah, kaum muslimin tidak boleh melakukannya, mengakuinya, menampakkan kegembiraan karenanya dan membantu terselenggaranya, karena perbuatan ini merupakan perbuatan yang melanggar batas-batas Allah, sehingga dengan begitu pelakunya berarti telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri. Jika hari raya itu merupakan simbol orang-orang kafir, maka ini merupakan dosa lainnya, karena dengan begitu berarti telah bertasyabbuh (menyerupai) mereka di samping merupakan keloyalan terhadap mereka, padahal Allah subhana wa ta’ala telah melarang kaum mukminin bertasyabbuh (menyerupai) dengan mereka dan loyal terhadap mereka di dalam KitabNya yang mulia, dan telah diriwayatkan secara pasti dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda.

"Artinya : Barangsiapa menyerupai suatu kaum, berarti ia termasuk golongan mereka."
[HR. Abu Dawud dalam Al-Libas (4031), Ahmad (5093, 5094, 5634)]

Valentine's day termasuk jenis yang disebutkan tadi, karena merupakan hari raya orang kafir, maka seorang muslim yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir tidak boleh melakukannya, mengakuinya atau ikut mengucapkan selamat, bahkan seharusnya meninggalkannya dan menjauhinya sebagai sikap taat terhadap Allah dan RasulNya serta untuk menjauhi sebab-sebab yang bisa menimbulkan kemurkaan Allah dan siksaNya. Lain dari itu, diharamkan atas setiap muslim untuk membantu penyelenggaraan hari raya tersebut dan hari raya lainnya yang diharamkan, baik itu berupa makanan, minuman, penjualan, pembelian, produk, hadiah, surat, iklan dan sebagainya, karena semua ini termasuk tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan serta maksiat terhadap Allah dan RasulNya, sementara Allah Subhana wa ta’ala telah berfirman.

"Artinya : Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya." [Al-Ma'idah: 2]

Dari itu, hendaknya setiap muslim berpegang teguh dengan Al-Kitab dan As-Sunnah dalam semua kondisi, lebih-lebih pada saat-saat terjadinya fitnah dan banyaknya kerusakan. Hendaknya pula ia benar-benar waspada agar tidak terjerumus ke dalam kesesatan orang-orang yang dimurkai, orang-orang yang sesat dan orang-orang fasik yang tidak mengharapkan kehormatan dari Allah dan tidak menghormati Islam. Dan hendaknya seorang muslim kembali kepada Allah dengan memohon petunjukNya dan keteguhan didalam petunjukNya. Sesungguhnya, tidak ada yang dapat memberi petunjuk selain Allah dan tidak ada yang dapat meneguhkan dalam petunjukNya selain Allah subhana wa ta’ala. Hanya Allah lah yang kuasa memberi petunjuk.

Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

[Fatawa Al-Lajnah Ad-Da' imah lil Buhuts Al-'Ilmiyah wal Ifta' (21203) tanggal 22/11/1420H]


[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Darul Haq]

Sumber: SalafiDB, dengan pengeditan seperlunya.

Minggu, 17 Januari 2010

Sebab-sebab datangnya kebahagiaan (Ringkasan nasehat-nasehat Syaikh Abdur Rozaq Al-Abbad Al-Badr Hafidzohulloh)

Berikut ini adalah beberapa poin nasehat yang disampaikan oleh Syaikh Abdur Rozaq Al-Abbad Al-Badr Hafidzohulloh, yang disampaikan dalam tabligh akbar, ahad, 17 Januari 2009 di mesjid Istiqlal. Poin-poin ini hanyalah sebagaian kecil dari yang disampaikan oleh syaikh yang sempat saya catat, semoga dapat bermanfaat bagi yang belum sempat hadir, atau yang telah hadr namun belum sempat mencatat:

a. Semua orang menginginkan kebahagiaan, namun banyak orang yang mencari kebahagiaan dengan cara yang diharamkan Allah (maksiat), maka cara seperti ini tidak akan mendatangkan kebahagiaan melainkan kesengsaraan

b. Segala maksiat kepada Allah tidak akan pernah mendatangkan kebahagiaan

c. Kebahagiaan tidak dapat dicapai kecuali melalui jalan-jalan yang telah ditetapkan oleh Allah subhana wa ta’ala dan Rasul-Nya

d. Seorang muslim yang mendapat taufik, yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa kebahagiaan hanya di tangan Allah dan tidak bisa diperoleh kecuali dengan ketaatan kepada Allah

e. Beberapa tanda-tanda orang yang mendapat kebahagiaan disebutkan oleh Allah subhana wa ta’ala: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (Al-Lail:5-10)

f. Al-Qur’an adalah sumber kebahagiaan. Allah subhana wa ta’ala berfirman: “Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (Al-Baqarah:38). Yang dimaksud dengan petunjuk ialah Al-Qur’an.

g. Dan Allah subhana wa ta’ala juga berfirman: “Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah” (Thahaa:2)

h. Maka orang yang bahagia ialah para ahli Al-Qur’an

i. Yang dimaksud dengan ahli Al-Qur’an tidak harus hafal Al-Qur’an, karena setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menghafal Al-Qur’an, namun ia adalah orang selalu terikat dengan Al-Qur’an, berusaha memahami dan mengamalkannya.

j. Ingatlah, semakin banyak kita mengambil bagian dari Al-Qur’an, maka akan semakin banyak kebahagiaan yang akan kita peroleh

k. Intisari dari kebahagiaan adalah iman dan amal saleh, dan dalam hal ini tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Allah subhawa wa ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl:97)

l. Orang yang paling kaya dan paling sehat, belum tentu menjadi orang yang paling bahagia

m. Ada 3 perkara yang merupakan tanda-tanda kebahagiaan (menurut Ibnul Qoyyim Al-Jauziah):

1. Bersyukur

2. Bersabar

3. Istighfar

Hal ini disebabkan karena setiap manusia tidak pernah lepas dari tiga keadaan, yakni: mendapat nikmat, mendapat cobaan, dan berbuat dosa. Orang yang berbahagia ialah orang yang ketika mendapat nikmat ia bersyukur, ketika mendapat cobaan, ia bersabar, dan ketika berbuat dosa, ia beristighfar.

n. Maka berhati-hatilah kita jika merasa telah berada dalam tiga perkara tersebut, karena itu semata-mata adalah karunia Allah, dan Allah-lah yang menanamkannya ke dalam hati-hati kita, dan bukan tidak mungkin Allah akan akan mencabutnya sewaktu-waktu.

o. Inti dan tempat kembali segala sesuatu ialah keimanan, maka kadar kebahagiaan seseorang sesuai dengan kadar keimanannya.

p. Ibnul Qoyyim Al-Jauziah mengatakan: Tanda kebahagaiaan seseorang ialah jika dia meletakkan kebaikan-kebaikannya di belakang punggungnya, dan kejelekan-kejelekannya berada di depan dadanya, sedangkan tanda kesengsaraan seseorang ialah jika dia meletakkan kebaikan-kebaikannya di depan dadanya, dan kejelekan-kejekannya di belakang punggungnya

q. Hendaklah segala sesuatu yang kita kerjakan hanya untuk mengaharap ridah Allah, dan bukan untuk mengharap balasan atau ucapan terima kasih. Allah subhana wa ta’ala berfirman: “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (Al-Insan:9)

r. Syaikh menutup nasehat-nasehatnya dengan menukil perkataan Ibnul Qoyyim Al Jauziah dalam kitab Za’adul Ma’ad, tentang sebab-sebab datangnya kebahagiaan, yakni:

1. Tauhid

2. Ilmu

3. Kembali/cinta kepada Allah

4. Senantiasa mengingat Allah

5. Memberi manfaat kepada orang lain

6. Keberanian

7. Menghilangkan penyakit-penyakit hati

8. Meninggalkan sikap berlebih-lebihan dalam segala hal

Demikianlah beberapa nasehat-nasehat syaikh kepada kaum muslimin di Indonesia, semoga kita dapat memperoleh kebahagiaan yang hakiki, dan semoga Allah memberikan kesehatan dan umur yang panjang kepada Syaikh Abdur Rozaq agar senantiasa dapat mengamalkan ilmunya, sehingga dapat bermanfaat bagi kaum muslimin. Barakallahu fiikum ya Syaikh…

Minggu, 03 Januari 2010

Titik akhir

***
Hari ini kami akhiri perjalanan kami
Dalam langkah mencari ridha-NYA
Bukan akhir segala-galanya, tapi awal untuk titik yang lebih cerah
Dengan lentera cahaya yang mnyejukkan jiwa.
Dengan insan-insan yang baru,insan-insan yang hatinya terisi ilmu, bukan sekedar logika dan hawa nafsu.
Kami masih berdiri di belakang tirai.
Untuk jadi pemegang lentera ini, tak berucap banyak kecuali dengan hikmah.
Kami masih disini, disamping nakhoda, untuk jadi navigator bahtera ini,untuk bersama menuju pulau kemenangan.
Di ujung sana, yang terang benderang, sisihkan samar-samar yang mengganggu, dan ikutkan ia bersama kami, dalam bahagia dan kemenangan yang nyata.

Anyer,27 des 09
11.41




Senin, 14 Desember 2009

Tiga Kelopak

***
Di taman ini
Kupijakkan kaki dengan tenang dan damai
Tanpa lirih senandung kabut yang muram durjakan hati
Hanya hening simfoni mentari yang gegap gempitakan jiwa

Titik titik kesejukan berjatuhan di atas ragaku
Saat kutelusuri labirin-labirin taman ini
Dengan wangi yang tak kalah menusuk pusat saraf olfaktori

Kujelajahi dan terus kukagumi
Sampai kutiba pada sekat tertutup kelam
Dengan bunga-bunga rupawan di depan mata, tapi suram di belakang punggung
Aku tak mengenalnya, walau kudengar kisah tentangnya
Kucoba menjauh namun ia begitu dekat
Hingga kulihat tiga kelopak
Yang coba bermain di tepi balkon kegundahan hatiku
Membuatku sedikit riang berselimut cemas

Ingin kupetik satu kelopak saja
Berwarna putih merekah tenang
Kulihat kilau darinya
Silaukan mata tapi tak butakan hati
Hati bergetar saat berucap
Dengan lidah di balik tabir
Tapi cinta tetap terpancar
Terang menyusur dalam temaram
Tak ada yang tahu, kecuali “kita”

Satu kelopak angkat suara, tentang gundahnya akan cinta
Hingga gundahnya juga gundahku
Namun tetap tunduk pada sang Raja
Dan tetaplah bersemayam disitu, menunggu waktu yang tepat
Ia tersenyum, dalam tanda tanya

Dua kelopak buka topengnya
Entah sadar atau tak sadar
Terlihat sudah layu tangkainya
Di balik jubah terlihat megah

Tiga kelopak yang tersirat...
membiaskan diri bagai keindahan, tapi tak tahu bayang di baliknya.
Haruskah di pangkas dan dibakar? atau dilembutkan dan dibersihkan dengan air sejuk nan mulia? hingga terobek kesamaran darinya...

Jakarta, 14 Desember 2009
23.38