Kamis, 24 Juni 2010

Dialog dengan Kesetiaan

***
Entah ada apa dengan jiwaku akhir-akhir ini, ia terus mempertanyakan sesuatu yang mungkin belum seharusnya dipertanyakan, tapi terus membebani bagai ilalang rimbun di pekarangan luas. Imaji pun turut serta membangunkan hasrat-hasrat bersayap manis, terbang kesana kemari, menyusuri dan merasuk dalam relung-relung dunia mikroskopik, yang tak terlihat dengan mata telanjang, tapi semua merasakan keberadaannya.

Sejuk, nyaman, dan damai, diri ini masih terlena dengannya, tanpa kata atau isyarat, hanya mengalir seiring alunan riuh merdu, lelapkan hati dalam buaian senyum, senyum yang luluhlantahkan sadar berjuta makhluk, karena indahnya, atau karena sesuatu dibalik tabir itu.

Malam ini, kucoba memulai kembali sebuah dialog, dengan seorang tamu agung yang selama ini selalu bersembunyi di balik gelisah, gelisah semua orang, termasuk aku, dan orang-orang yang memujanya. Dialah kesetiaan, yang selalu disematkan dalam setiap janji, disisipkan di setiap komitmen, dan dijadikan kunci rantai pengikat cinta. Yah, semua orang memuja dan mengagung-agungkannya, walaupun banyak pula yang mempertanyakannya, dan aku mengenal satu diantaranya. Ia bertanya tentang kesetiaan, tentang eksistensinya, tentang seseorang yang tak kutahu, dan apapun tentang kesetiaan itu. Ia seperti angin yang menebarkan pasir-pasir di gurun, menyapu hati setiap insan dengan luapan gembira yang kadang menampakkan diri dengan samar dan dingin, sedingin kutub di ujung bumi. Aku tak paham kepada siapa ia melempar pertanyaan, apakah kepada kesetiaan itu sendiri? kepada orang yang ia percayakan sebuah kesetiaan? Atau malah kepada dirinya sendiri?

Wahai engkau yang bertanya tentang kesetiaan, sungguh engku tak perlu risau, karena engkau mungkin hanya diganggu oleh perasaanmu sendiri, perasaan yang mungkin belum engkau telusuri lebih jauh. Hanya satu yang ingin kukatakan padamu, lihatlah lebih dekat, maka kau akan memahaminya.

Tak perlu dialog panjang dengan sang kesetiaan, karena ia tak perlu banyak kata, dan ia tak dirajut dari kata-kata. Ia hanya perlu dua teman, aku dan kau…


Salemba, 25 Juni 2010
00.44

Jumat, 18 Juni 2010

Optimis (dalam kamus kedokteran gigi)

* sekedar intermezzo *

Pernahkah anda mendengar kata optimis? pernah doong. Dan khusus untuk para dokter gigi maupun calon dokter gigi, pernahkan anda menemukan kata optimis dalam kamus kedokteran gigi? Tentuu sajaa tidaaak, kalo ia hebat bgt tuh kamus, mau dong...hehe

Yayaya, percaya gak percaya, dalam kamus kedokteran gigi versi saya, anda bisa menemukan arti kata optimis, menurut berbagai spesialisasi dalam kedokteran gigi, mau tau? niiih:

Bedah Mulut: Tdk ada gigi yang tidak bisa dicabut
Restorasi: Tidak ada gigi yang tidak bisa ditambal
Endodontik: Tidak ada saluran akar yang tidak dapat dijajaki
Periodonsia: Tidak ada poket yang tidak dapat direduksi
Pedodonsia: Tidak ada anak yang tidak dapat ditaklukkan
Orthodonsia: Tidak ada gigi yang tidak dapat digerakkan
Prostodonsia: Tidak ada gigi hilang yang tidak bisa diganti
Penyakit Mulut: Tidak ada lesi oral yang tidak dapat disembuhkan
IKGM-P: Tidak ada karies yang tidak dapat dicegah
Odontologi Forensik: Tidak ada gigi yang tidak dapat diidentifikasi

Bonus:
General Practioner/Dokter gigi umum: Tida ada mulut yang tidak dapat menghasilkan uang..he3 =))

Catatan:
Jangan menghubung-hubungkan tulisan diatas dengan teori kedokteran gigi yang ada, karena mungkin banyak yang bertentangan dengan teori. Harap maklum, namanya juga intermezzo, terserah anda menganggapnya jayus, garing atau apalah (udah biasa kali gue dikatain gt, hehe),tapi semoga anda bisa menangkap pesan besar dan berharga dari tulisan ini...

Senin, 07 Juni 2010

Ayo Semangat!

بسم الله الرحمن الرحيم

Kalau di posting sebelumnya saya menceritakan dua hal konyol yg sepertinya gak penting, kali ini saya akan menceritakan dua hal yang penting:

Sabtu, 5 Juni 2010
Ini hari pertama saya belajar di kursus bahasa arab Sunna, yg berlokasi di Jl.Talang No.19. Tempatnya tidak begitu jauh dari kosan saya, sehingga cukup berjalan kaki saja. Namun karena hari ini saya bangunnya agak telat, jadi berangkatnya udah hampir jam 9, sementara jadwalnya jam 9. Saya pikir kalau jalan kaki pasti gak keburu, akhirnya naik kendaraan yang sebenarnya menyebalkan kalo kita berada di luarnya, yah, bajaj.

Sesampainya disana, selayaknya seorang muslim saya langsung memberi salam, dan ternyata yang menjawab adalah Ust.Ja'far Shaleh, dan terjadilah dialog singkat:

Saya : Ruang kursusnya dimana ya?
Ust.Ja'far: Oh, diatas, naik ajah lewat tangga itu (sambil nunjuk tangga), antum namanya siapa?
Saya: Amirul, ustadz
Ust.Ja'far: Ooh, Amirul Ihlas Hiroshi ya? (beliau tau nama saya dari formulir pendaftaran)
Saya: Iya bener
Ust.Ja'far: Antum orang Jepang ya? (seperti biasa, pertanyaan ini selalu terlontar dari hampir semua orang yang baru mengetahui nama lengkapku)
Saya: Haha, turunan, ustadz...

Saya pun berlalu dan langsung naik tangga menuju ruangan belajar. Di ruang belajar baru ada 3 orang, saya pun memberi salam, dan menyalami mereka satu persatu. Ketiga orang itu adalah pak supriyatno, pak een, dan mas yuda. Ketiganya baru saya kenal hari ini, dan semuanya telah berusia jauh diatas saya. Satu persatu peserta kursus pun berdatangan hingga kelas kecil sederhana yang berukuran kurang lebih 4x6 meter itu penuh, sekitar 15 orang. Tak lama kemudian datanglah Ust.Ja'far memberikan muqaddimah. Ust.menjelaskan bahwa target pelajaran bahasa arab ini ada 3 yakni:
1. Nahwu dan Shorof
2. Percakapan
3. Penulisan

Yah, ini memang bukan kali pertama, saya belajar bahasa arab. Sebelumnya saya sudah pernah belajar sedikit melalui program kursus bahasa arab yg diadakan BPI di kampus FKG UI, dgn pengajar Ust.Brian Muntaqo, dan yang paling bermakna adalah pelajaran bahasa arab yang saya ikuti di ma'had umar bin khattab, Yogyakarta, tahun 2009 yg lalu. Namun selama ini yg saya pelajari hanyalah sedikit tentang nahwu dan shorof. Tentu saja itu masih sangat kurang, apalagi mengingat cita2 saya yg ingin kuliah di saudi, tentu harus dibarengi dgn kemampuan percakapan, dll. Alhamdulillah kursus ini mengakomodir semuanya, walaupun memang lebih ditekankan pada nahwu dan shorof.

Setelah itu kelaspun diambil alih oleh Ust.Taufiq, dan pelajaranpun dimulai. Ust.Taufiq memulai dgn memberikan pengantar tentang pentingnya belajar bahasa arab, sebagian yg disampaikannya telah saya ketahui, namun sebagian lainnya belum. Kemudian kegiatan dilanjutkan dgn pembagian buku paket, kami diberi 2 buku, yakni: durusul lughotil arabiyah utk percakapan, dan Al-Muyassaru Fii 'Ilmi Nahwi utk ilmu nahwu, sementara kitab shorof-nya belum dapat dibagikan (nyusul). Waw....dua kitab ini tentunya sudah tidak asing bagi saya. Kitab durusul lughoh telah saya kenal sejak SMA dan telah sedikit2 saya pelajari sendiri. Sementara Al-Muyassar adalah kitab yg saya pelajari dan khatam-kan di Jogja. Yaah, gapapalah...dipelajari lagi, biar ilmunya makin mantap gan..hehe :)

Singkat cerita, pelajaran pun dimulai dan selesai pukul 11.00, saya pun pulang dengan berjalan kaki. Alhamdulillah banget bisa kembali mempelajari bahasa Al-Qur'an dan As-Sunnah ini, semoga Allah memudahkan dalam memahami bahasa ini, sehingga mudah pula dalam memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Ahad, 6 Juni 2010
Saya kira ini adalah hari yang sangat bersejarah untuk dakwah kampus di UI Salemba dan Mesjid At-Tauhid Arif Rahman Hakim, karena hari ini adalah hari dilaksanakannya dauroh ilmiyah pelajar dan mahasiswa se jabodetabek. Saya sendiri bertindak selaku panitia (walaupun bisa dibilang panitia cabutan, yg kontribusinya hampir gak ada, hehe, maafkan saya teman2 panitia yg lain). Hmm...karena dalam acara ini saya jadi panitia, jadinya gak bisa terlalu fokus dengerin kajiannya, tapi gapapalah, yang penting tetap ada manfaat dan ilmu yg didapat. Pemateri acara ini adalah Ust.kurnaedy dan Ust.badrusalam hafizhahumallahu, dengan topik: meraih kebahagiaan dunia dan akhirat dengan ilmu, dan menjadi pemuda yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat. Pokoknya seru lah acaranya...(udah males nulis detailnya, hehe), liat foto dibawah ini aja gan:



Sekian dulu cerita saya, entar kalo sempat insya Allah ditambahkan sedikit tentang isi materi yang sempat saya tangkap.

Ayo Semangat Menuntut Ilmu Agama Wahai Pemuda!

Kamis, 03 Juni 2010

Salah Sambung dan 4L4Y

Cuma mo berbagi cerita aneh/konyol, atau apalah namanya. Hmm, jadi 2 hari ini saya mendapat 2 teror dari orang yg tidak dikenal:

Yang pertama
malam tgl 2 Juni, tiba2 saya menerima sebuah SMS:

Sory..BoLeh tau u sIapA?? Dsini zhem..n0 Lu mSh ad d buku sMA Q

Komentar saya tentang isi sms ini: Jadi semua nomor yg tertulis di buku SMA org ini mesti dicari tau ya??? Hello,,,ngapain tulis nomer handphone org kalo gak sama namanya? Gimana kalo ada 2 juta nomer handphone di buku SMA-nya? mo di sms-in atu2???? =))

Yeah, that's 4L4Y. Udah sering bgt dpt SMS yg kayak gini, ga tau deh, apa bener2 salah sambung, apa Fans gelap? Au ah, bodo amat...wuakakaka

Yang kedua
siang tgl 3 Juni (hari ini), ketika saya sedang makan siang di kantin FKG, tiba2 ada nomor yg tidak dikenal nelfon, trus ngomong gini: (sbenarnya agak2 gak jelas suaranya, tp kira2 ini yg saya tangkap)

Penelfon: Halo ini supir taksi bukan?
Saya: Hah?Bukan!!!
Penelfon: Oh, ini tukang gigi bukan? (Ini penghinaan bgt nih)
Saya: Bukaaaaaaan (pengen nangis)
Penelfon: %*^%%*%*&&^^^$#$%^&&&%>>?>?> (ngomong gak jelas+kresek2+kyk agak panik gitu)
Saya: Wah, maaf bu, saya gak ngerti (Ampuuun)

tiiit...tiiit...tiitt...(koneksi terputus)

Komentar: Lagi nyari sopo sih bu??

-Selesai-
Silahkan dipikir aja, hikmahnya apa...hehehe

Selasa, 01 Juni 2010

Tentang Mahasiswa Klinik a.k.a Coas Gigi


بسم الله الرحمن الرحيم

Kata "Klinik" (bukan "klenik" yah), bagi sebagian besar mahasiswa kedokteran gigi nampaknya jadi momok yg sangat menakutkan. Yah, tempat dimana kita berpacu dgn waktu utk mengejar requirement, dengan tujuan yg sama, yakni ingin cepat lulus jadi dokter gigi. Masa klinik (khususnya klinik integrasi) di FKG UI sangat berbeda dgn preklinik dalam berbagai hal, antara lain:

PERTAMA
Di klinik tdk ada lg jadwal kuliah dan diskusi yang baku, yang ada hanya jadwal pasien (yg kita atur sendiri), dan juga jadwal diskusi dgn dosen (yg juga kita atur sendiri)

KEDUA
Di klinik gak akan ada yg mempertanyakan kehadiran kita, emang sih ada absen, tapi itu bebas lo isi kapan aja, gak peduli lo datang jam berapa dan pulang jam berapa, dan gak ada yg ngawasin (kecuali Allah)

KETIGA
Di klinik, yang menentukan kelulusan kita ada banyak hal alias multifaktorial, persis seperti karies gigi yang etiologinya multifaktorial. Faktor-faktor itu antara lain: Pasien, duit, dosen, skill, dan KEBERUNTUNGAN

KEEMPAT
Di klinik, entah kenapa saya merasa Kepintaran Teori menjadi tidak begitu penting (terkadang yah, tapi gak selalu), tapi yg lebih penting adalah Skill Praktik, komunikasi, manajemen waktu, manajemen stress, manajemen uang, taktik, strategi, optimisme, kejujuran, dan yg paling penting adalah doa.

Kalo kata saya: anak preklinik berpikir teoritis, anak klinik berpikir praktis. (iya gak?)

Yaah, ini hasil pengamatan dan perenungan saya sendiri sih. Saya ini bisa dibilang mahasiswa FKG UI yang otaknya sangat pas-pasan, tp saya oke2 dan enjoy2 aja di klinik (tanya kenapa?). Pengalaman organisasi mungkin penting juga dalam hal ini, karena banyak sekali yang bisa diaplikasikan dlm kehidupan klinik, khususnya dalam hal manajemen.

Tapi bukan berarti kita jadinya gak belajar sama sekali. Kalo bego'nya keterlaluan ya kebangetan juga, 3,5 tahun belajar apa mas?mbak?

Intinya sih, asal bisa melakukan prosedur perawatan dengan benar, dan ngerti dikit teorinya, udah cukup kok.

Teori2 biasanya diperlukan dalam diskusi dgn dosen, atau utk menghadapi dosen2 yang hobi ngetes dan nanya2,,,hehehe

KELIMA
Di klinik, entah kenapa, dosen2nya jadi lebih "galak" dibanding preklinik, gak semua sih, tapi ada beberapa. Galak disini biasanya kalo kita melakukan suatu kesalahan prosedur atau gak bisa jawab pertanyaan dia. Yah wajar kali yah, kita udah belajar kedokteran gigi 3,5 tahun, dan skrg kita berhadapan dgn manusia, bukan phantom atau model yang bisa seenaknya kita bolak-balik atau kayak di praktikum, jadi wajar aja kalo dosennya marah. Saya ngerti kok, dibalik itu semua mereka ingin kita jadi lebih pinter, lebih hati2, dan lebih siap terjun ke masyarakat yg mungkin cobaannya jauh lebih berat. (Cieh, bijak amat sih lo roel..). Tapi gak cukup sampai disitu, mahasiswa klinik yg berbuat kesalahan atau gak bisa jawab pertanyaan juga wajar sih, ya namanya juga manusia, kan gak pernah luput dari kesalahan. Hehe, biar adil dong dan biar gue gak dibilang memihak pada dosen. Tapi kalo mau jujur dari lubuk hati saya (dan pastinya semua mahasiswa klinik) yg paling dalam, kita sangat merindukan dosen2 yang baik hati, tidak pemarah, lemah lembut, sabar, dan mau membimbing dengan ikhlas (maunya...). Yah tapi kalo semua dosen kayak gitu, mungkin kehidupan klinik jadi membosankan dan gak ada dinamika kali yah?? iyalah orang jadinya datar2 aja, gak ada tantangan dan rintangan, padahal tantantang itu yg bisa membuat kita jadi lebih kuat dan maju. Iya gak? iya dong!

Lah?jadinya lo maunya yg kayak gimana roel? Yaah, maunya apa adanya aja lah, gak usah minta macam2, apa yg ada di jalanin aja, bisa gak? insya Allah bisa lah, kalo kata motivator: "You can, if you think you can!"

KEENAM
Di klinik, gak ada lagi yg namanya libur semester, yang ada hanya libur nasional dan sabtu minggu. Hikz, terkadang iri juga ngeliat anak preklinik yang libur 2-3 bulan, sementara kita, masih berkutat di klinik. Yeah, tapi tetep bangga lah, kite udah sarjana, lo belom, kite udah bisa megang pasien, lo belom..weeek :p, libur2 deh sono..wakakaka, becanda deng (jangan tersinggung anak preklinik). Tapi setelah saya renungi, ini ada hikmahnya juga. Pernah dengar pepatah: "berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian - bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian"? Yeah,,,that's the point! Apaan? nangkep gak? Ya itu, biarin libur dikit, tapi setelah ini kt akan menikmati kebahagiaan yang lebih indah dibanding sekedar libur, yakni lulus jadi drg. Bahagia gak kalian jadi drg.? Pastilah ya, bukan cuma kita, tapi orang tua, keluarga, dan kerabat2 kita pasti juga bahagia. Sederhananya gini aja deh, apakah kita mau diberi libur panjang, tapi waktu utk jadi drg. jadi lebih panjang? gak mau kan. Yah, karena saya yakin pembuat kebijakan lama pendidikan profesi kedokteran gigi telah mengatur waktu tercepat utk kita bisa lulus.

***

Yah, itu sedikit review dari saya tentang klinik. Terakhir, saya ingin berpesan kepada rekan2 mahasiswa klinik, khususnya saya sendiri:

SEMANGAT! dan Nikmatilah hari-harimu sebagai mahasiswa klinik, jangan dijadiin beban, think positive, jatuh-bangun dan gagal itu biasa. Bukan masalah berapa kali kita gagal, tapi sejauh mana kita bisa bangkit lagi. Memang di klinik kita akan banyak sekali menghadapi masalah, tapi ingatlah, masalah akan membuat kita semakin kuat, semakin dewasa, dan semakin bijak. Hadapi dan selesaikan masalah itu, you can do it...!!!

Dan satu lagi, jangan MT yah...bantulah temanmu yg butuh pertolongan. Jangan sampai ambisi kita membuat kita jadi menindas dan membuat teman kita jadi korban. Please jangan.

Oke itu aja deh...:)

NB: Sempat2nya nulis padahal lapsus konser belum kelar...whaaaa

Salemba, 1 Juni 2010
23.11


Sabtu, 29 Mei 2010

Hukum Hipnotis

بسم الله الرحمن الرحيم

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman saya yg berinisial RWR, pernah bertanya tentang hukum hipnotis. Dan sekarang kebetulan saya menemukan artikel yg pas, silahkan dibaca:

Berikut ini jawaban para ulama dalam komisi riset dan fatwa tentang hukum Hipnotis, semoga bermanfaat

Fatwa Lajnah Da’imah (Komisi Khusus Bidang Riset Ilmiah dan Fatwa) Saudi Arabia

Pertanyaan:
Apa hukumnya hipnotis?
dimana dengan kemampuan hipnotis tersebut, pelakunya dapat menerawangkan fikiran korban, lalu mengendalikan dirinya dan bisa membuatnya meninggalkan sesuatu yang diharamkan, sembuh dari penyakit tegang otot atau melakukan pebuatan yang dimintanya tersebut?

Jawaban:
Hipnotis merupakan salah satu jenis sihir (perdukunan) yang mempergunakan jin sehingga si pelaku dapat menguasai diri korban, lalu berbicaralah dia melalui lisannya dan mendapatkan kekuatan untuk melakukan sebagian pekerjaan setelah dirinya dikuasainya. Hal ini bisa terjadi, jika si korban benar-benar serius bersamanya dan patuh. Ini adalah imbalan untuk para penghipnotis karena perbuatan syirik yang mereka persembahkan kepada jin tersebut..

Jin tersebut membuat si korban berada di bawah kendali si pelaku untuk melakukan pekerjaan atau berita yang dimintanya. Bantuan tersebut diberikan oleh jin bila ia memang serius melakukannya bersama si pelaku.

Atas dasar ini, menggunakan hipnotis dan menjadikannya sebagai cara atau sarana untuk menunjukkan lokasi pencurian, benda yang hilang, mengobati pasien atau melakukan pekerjaan lain melalui si pelaku ini tidak boleh hukumnya. Bahkan, ini termasuk syirik karena alasan di atas dan karena hal itu termasuk berlindung kepada selain Allah terhadap hal yang merupakan sebab-sebab biasa dimana Allah Ta'ala menjadikannya dapat dilakukan oleh para makhluk dan membolehkannya bagi mereka.

Wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad Wa Alihi Wa Shahbihi Wa Sallam

[Kumpulan Fatwa Lajnah Daimah, Juz 11, hal-400-402]

Kesimpulan diatas:

1. Perkara ghaib hanyalah milik Allah, dan tidak ada yang bisa mengetahuinya kecuali melalui perantaraan wahyu.
2. Para dukun, tukang sihir dan para jin saling tolong menolong untuk melakukan kesyirikan. Dan Jin mengabarkan berita masa depan yang dicuri dari langit yang bisa jadi dia terbakar sebelum bisa menyampaikannya, dan para tukang sihir ataupun dukun berbohong dengan seribu kebohongan. Namun, perkataan mereka dipercaya hanya karena kebetulan pernah satu kali benar dikarenakan berita langit yang sampai kepada mereka.
3. Hukum hipnotis yang menggunakan para jin (ilmu gaib dan supra natural), walaupun hasilnya untuk pengobatan ataupun meninggalkan hal yang haram (mis: narkoba, dll) adalah termasuk bentuk kesyirikan. Maka hal ini terlarang.

Catatan tambahan :

Adapun hipnoterapi yang dikembangkan oleh para ahli psikologi dengan mengembangkan teori otak kanan (alam bawah sadar) yang digunakan untuk terapi para pasien maka hal itu tidak termasuk, karena itu adalah ilmu yang ilmiah yang diperbolehkan dan dikembangkan secara logis dengan penelitian. Terapi yang dilakukan para ilmuwan psikolog terhadap para pasien berbeda dengan praktek yang dilakukan oleh para tukang hipnotis (baca: tukang sihir).

Terapi ilmiah menggunakan teknik-teknik tertentu yang bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan, dan bisa dijabarkan secara logis. Walaupun secara istilah disebut hipnoterapi (terapi hipnotis) namun secara praktek berbeda dengan hipnotis supranatural. Maka, hukumnya pun terkait pada hakekat bukan pada istilahnya.

Peringatan:

Adapun kebanyakan praktek hipnotis yang berkembang dimasyarakat adalah bentuk yang pertama yang termasuk kedalam kategori sihir, yang menggunakan bantuan Jin. Mereka membungkus perbuatan syirik mereka dengan teori-teori ilmiah otak kanan dan kiri, dengan beragam bukti untuk mengelabui kebanyakan orang, namun pada hakekatnya adalah praktek sihir. Jadi kita perlu hati-hati dan mencermati dengan seksama.

Wallahu ‘Alam

Sumber:
http://serambimadinah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=85:hukum-hipnotis&catid=42:konsultasiagama&Itemid=67 (dengan pengeditan seperlunya)


Senin, 24 Mei 2010

Komplikasi

***
بسم الله الرحمن الرحيم

time is running out…
Tak terasa memang, sudah hampir empat tahun aku tinggal di kota ini, ibukota negara Indonesiaku, alias kota Jakarta, meninggalkan kota kelahiranku Kendari nun jauh disana. Dan tak terasa juga, sekarang aku telah menjadi seorang sarjana, yaah walaupun cuma sarjana-sarjanaan, haha, tapi gapapalah, paling tidak udah menjadi setengah dokter gigi, sebentar lagi insya Allah akan menjadi dokter gigi yang sebenarnya..Amiin.

Kuliah di FKG UI memang gak mudah, terutama semenjak memasuki jenjang profesi alias coas, otak ini tak lagi hanya disibukkan oleh pelajaran, tapi yang lebih penting dari itu adalah mencari pasien beserta requirementnya, yaah, karena tanpa itu, kita gak akan bisa lulus menjadi dokter gigi. Memang berat dan selalu membuat stress orang-orang. Di klinik, tak ada satu hari pun tanpa keluh kesah yang keluar dari mulut anak-anak coas gigi..waww, segitunya kah? Paling tidak begitulah yang aku perhatikan. Hmm…tapi aku selalu mencoba untuk berpikir positif dan optimis. Di saat orang-orang berkeluh kesah dan merasa semuanya begitu berat, aku selalu bersikap sebaliknya, aku mencoba menikmati semuanya selayaknya kita menikmati hidup. Mungkin ini salah satu manfaat dahulu aku sering mengikuti training motivasi dan membaca buku-buku tentang motivasi. Hidup ini tidak selalu datar-datar saja, tapi akan selalu ada dinamika, dan apa yang aku lalui sekarang adalah dinamika itu, dan aku yakin, setelah keluar dari sini aku akan menjadi pribadi yang lebih tangguh.

Aku selalu heran dengan teman-teman yang setiap memasuki hari senin selalu mengatakan: Duuh, udah senen aja nih, mood gue ancur, masih pengen liburan, dll. Hey…pikir lagi deh, awal aktivitas mu udah dimulai dengan keputus-asaan, gimana akhirnya nanti??? Ingetlah, kita gak akan sampe ke hari jum’at jika tidak melewati hari senin, selasa, rabu, kamis. So, aku cuma pengen pesen ke teman-temanku, hari senin itu adalah hari dimana engkau mengawali mimpimu dalam setiap pekan, maka awalilah dengan senyum dan semangat, dan yang paling penting adalah berdoa kepada Allah, agar dimudahkan dalam segala urusan.

Okelah, itu masalah klinik,,,trus apa hubungannya sama judul “komplikasi”?? hehe, sabar…baru mau masuk ke inti nih…

Hmm..gini, saat ini memang banyak sekali mimpi dan rencana yang berputar-putar dalam otakku, makanya ku sebut saja dengan komplikasi, yang terkadang membuat diri ini bimbang harus memilih rencana yang mana, bagaimana kedepannya, dan macam-macam deh.

Secara formal, aku memang seorang mahasiswa kedokteran gigi, tapi secara informal, aku adalah seorang penuntut ilmu agama. Kalo mo bicara fair-fair-an, tentu ilmu agama adalah yang lebih penting, karena ini menyangkut akhirat, sementara ilmu kedokteran gigi hanyalah ilmu yang dipakai di dunia saja. Makanya aku lebih senang menyebut aktivitasku sebagai penuntut ilmu agama, sembari belajar ilmu kedokteran gigi, walaupun kenyataannya lebih banyak waktu yang kuhabiskan untuk belajar ilmu kedokteran gigi dibanding ilmu agama. Satu hal yang kusadari, sangat sulit untuk menjadi ahli di dua bidang itu secara bersamaan, karena dua ilmu ini perlu keseriusan yang sangat tinggi. Namun aku juga tak ingin melepas salah satunya. Di satu sisi aku ingin sekali menjadi seorang dokter gigi ahli bedah mulut, dan di sisi lain juga ingin ahli di bidang agama. Karena itulah muncul beberapa ide yang mungkin bisa mengakomodir kedua minatku ini, diantaranya:

  1. Ngambil Spesialis bedah mulut di UI, sambil kuliah di Medinah International University (MEDIU), sebuah universitas virtual
  2. Ngambil spesialis bedah mulut di King Saud University, Riyadh, sambil belajar ilmu agama secara informal di Ma’had ilmi riyadh milik Syaikh Shalih Fauzan
  3. Tidak mengambil spesialis bedah mulut dulu, tapi setelah lulus drg.langsung kuliah di Universitas Islam Madinah, ngambil s1 ilmu agama. Sp.BM nya belakangan ajah
  4. Dan kalo ketiga pilihan itu gak kesampaian, belum ada plan lagi nih..hihi

Yah begitulah, yang jelas sekarang aku tetap mencoba istiqomah belajar agama (walaupun berat), dengan rutin mengikuti ta’lim, dan pastinya belajar bahasa arab, karena inilah yang menjadi kunci dalam mempelajari ilmu agama. Alhamdulillah aku telah pernah diberi kesempatan belajar di Jogja pd tahun 2009 yg lalu, tentu itu menjadi dasar yang sangat membantu. Tapi tetap aja, memahami kitab Al-muyassaru fii ‘ilmi nahwi masih belum cukup, mencoba belajar sendiri kitabuttashrif, mukhtarot, dan mulakhos qawaaidil luhghotil arabiyah, juga masih sulit. Yah alhamdulillah, walaupun bahasa arab masih abal bin cetek, tapi tetap mencoba latihan membaca kitab-kitab arab gundul yang aku miliki, seperti: Al-Irsyad ila shahihil I’tiqad, syarhu ushul tsalatsa, Al-Qawaaidul Fiqhiyyah, Al-I’tisham, dan banyak e-book bahasa arab. Yahh, dikit2 nyambung lah..hehe. Makanya, komplikasi berikutnya adalah pengen belajar bahasa arab secara lebih intensif dan dengan bimbingan yang jelas, udah mulai capek meraba-raba sendiri, ditemani kamus al-munawwir, kamus al-mufid (software), kamus java kedaton (website), google translate, dan nanya2 ke temen yang lebih ahli.

Next…
Sekarang aku mempunyai aktivitas baru yakni menekuni seni bela diri Jepang Kendo, latihannya di Hall gulat senayan setiap Jum’at malam. Aku memang menyukai seni bela diri, sebelumnya aku juga pernah menekuni seni bela diri karate, hingga ban biru. Yah, dibanding dengan olahraga, aku merasa lebih berbakat dan lebih menyukai seni bela diri. Hitung-hitung buat pengganti olahraga, gak ada salahnya menekuni seni bela diri ini.

Aktivitas lainku yang tak kalah pentingnya adalah menulis. Kecintaanku dalam dunia tulis menulis mulai muncul sejak aku duduk di bangku SMP, aku senang menulis puisi dan sya’ir, dan akhirnya menjadi kebiasaanku hingga SMA dan sampai sekarang. Setelah banyak belajar agama, aku pun mulai menulis artikel-artikel keagamaan yang aku publish di blog-ku, maupun di notes facebook. Semoga Allah meridhai dan menjaga tulisan-tulisanku tersebut, dan menjadikannya bermanfaat bagi diriku dan bagi siapa saja yang membacanya. Amin.

The last, and the biggest complication is…
Pasti udah bisa nebak lah..hihi jadi malu, ya itu dia, pengen nikah muda…hahaha, pokoknya target maksimal setahun setelah lulus drg.harus udah nikah. Calonnya? Tentu saja belum ada, gampanglah itu (sok2an),,,ckckckck.

Oh ya satu lagi, setelah lulus drg.pengen nyari pengalaman dengan PTT, dan aku sudah mantap utk memilih PTT di daerah tempatku berasal saja, yaah, pengen lebih dekat dengan orang tua dan keluarga aja, setelah 5 tahun berpisah jauh, masa’ pisah lagi…

Jadi, kalo dirunut, mungkin rencana kedepanku akan seperti ini kemungkinannya:
  1. Lulus drg > nikah > PTT > Spesialis di Jakarta atau di Riyadh (sambil belajar ilmu agama)
  2. Lulus drg > PTT > nikah > Spesialis di Jakarta atau di Riyadh (sambil belajar ilmu agama)
  3. Lulus drg > nikah > belajar agama di Madinah > Spesialis

Yayaya, ini hanya rencana, aku hanya bisa berusaha, Allah-lah yang akan menentukan semuanya. Karena Ia lebih tahu mana yang terbaik untuk kita…Doakan aku teman-teman dan saudara-saudaraku…


Jakarta, 24 Mei 2010
23.18