Kamis, 04 Maret 2010

Dialog pedang bermata dua

***
بسم الله الرحمن الرحيم

Entah bagaimana lagi kuharus menyikapi makhluk yang selalu berbolak-balik ini, di saat ia kembali diuji dengan pedang bermata dua. Saat pilihan benar-benar ada di genggaman, dan pedang itu mesti terhunus dengan salah satu matanya, bukan keduanya. Aku tak memahami, apakah telah sampai waktu yang ditunggu itu, sementara jiwa raga terlalu tidak siap untuknya. Kucoba mengambil cermin jernih dan kuhadapkan pada diri pemikir ini, dan kuurai jaring-jaring gelisah menjadi hiasan terang di depan pelupuk mata, dan ia pun mencoba jadi pelitaku tuk menilai bayangan yang coba goncangkan hati.

Samar terang silih berganti tentang bayangan bidadari hiasan kalbu. Diri ini hampir tak sanggup menahan frekuensi gelombang yang dipancarkannya, luluhlantahkan saraf-saraf sensitif yang menerawang cari aduan. Akhirnya berangan akan bahagia dalam langkah derap rapi, terbang damai bersama angan, jauh susuri belantara mimpi indah.


Cinta…saat semua orang memuja keagungan dan eksistensinya, aku justru mempertanyakannya. Kaki ini telah jauh melangkah, arungi berbagai jalan kehidupan yang penuh misteri. Layaknya sebelumnya, ini adalah jalan yang telah kulalui berulang kali, tapi aku selalu lemah dibuatnya, belum cukupkah pelajaranku tentang ini? Apa perlu aku kembali belajar pada jejak-jejak referensi yang kutulis sendiri? Atau kumenyerah lagi saja padanya?
Oh tidak kawan, itu terlalu mengerikan, hidupmu adalah pelajaranmu, dan kau lebih tahu akan hal itu. Maka engkau terlalu lemah dan hina jika menyerah di ujian ini, di ujian yang telah engkau lalui berulang kali.

Maka pergulatan ini pun terus berlanjut sampai rangkaian kata-kata ini lahir, semakin tak paham, dan kubutuh wasit yang dapat menengahi. Terlalu indahkah ia hingga menyilaukanmu tuk berpikir realistis dan benar? Jawabannya mungkin ia kawan, yah…ia sangat indah, tapi sadarkah kau akan waktumu? sadarkah kau akan dirimu yang belum siap, maka ambillah pedang tadi, dan hunuskanlah sesuai nuranimu!

Aku tercengang dengan jawaban itu, maka kuambillah pedang itu, namun belum kuhunuskan, menunggu nurani reda dalam berkobar, menunggunya semakin bijak, menunggunya bicara tentang kebenaran.

Jakarta, 17 Februari 2010
00.38


Sabtu, 13 Februari 2010

Happy Valentine?

Bismillahirrahmanirrahim

Wah, sebentar lagi tanggal 14 Februari alias hari Valentine, banyak yang bersukacita dan menyambutnya dengan meriah, dan banyak pula yang tidak peduli (salah satunya saya),,hoho, lalu bagaimana penjelasana ulama tentang masasalah ini? Let's check itu out...

Pertanyaan:
Al-Lajnah Ad-Da' imah lil Buhuts Al-'Ilmiyah wal Ifta' ditanya : Setiap tahunnya, pada tanggal 14 Februari, sebagian orang merayakan valentine's day. Mereka saling betukar hadiah berupa bunga merah, mengenakan pakaian berwarna merah, saling mengucapkan selamat dan sebagian toko atau produsen permen membuat atau menyediakan permen-permen yang berwarna merah lengkap dengan gambar hati, bahkan sebagian toko mengiklankan produk-produknya yang dibuat khusus untuk hari tersebut. Bagaimana pendapat Syaikh tentang:

Pertama: Merayakan hari tersebut?
Kedua: Membeli produk-produk khusus tersebut pada hari itu?
Ketiga: Transaksi jual beli di toko (yang tidak ikut merayakan) yang menjual barang yang bisa dihadiahkan pada hari tersebut, kepada orang yang hendak merayakannya?
Semoga Allah membalas Syaikh dengan kebaikan.

Jawaban:

Berdasarkan dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah, para pendahulu umat sepakat menyatakan bahwa hari raya dalam Islam hanya ada dua, yaitu Idul Fithri dan Idul Adha, selain itu, semua hari raya yang berkaitan dengan seseorang, kelompok, peristiwa atau lainnya adalah bid'ah, kaum muslimin tidak boleh melakukannya, mengakuinya, menampakkan kegembiraan karenanya dan membantu terselenggaranya, karena perbuatan ini merupakan perbuatan yang melanggar batas-batas Allah, sehingga dengan begitu pelakunya berarti telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri. Jika hari raya itu merupakan simbol orang-orang kafir, maka ini merupakan dosa lainnya, karena dengan begitu berarti telah bertasyabbuh (menyerupai) mereka di samping merupakan keloyalan terhadap mereka, padahal Allah subhana wa ta’ala telah melarang kaum mukminin bertasyabbuh (menyerupai) dengan mereka dan loyal terhadap mereka di dalam KitabNya yang mulia, dan telah diriwayatkan secara pasti dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda.

"Artinya : Barangsiapa menyerupai suatu kaum, berarti ia termasuk golongan mereka."
[HR. Abu Dawud dalam Al-Libas (4031), Ahmad (5093, 5094, 5634)]

Valentine's day termasuk jenis yang disebutkan tadi, karena merupakan hari raya orang kafir, maka seorang muslim yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir tidak boleh melakukannya, mengakuinya atau ikut mengucapkan selamat, bahkan seharusnya meninggalkannya dan menjauhinya sebagai sikap taat terhadap Allah dan RasulNya serta untuk menjauhi sebab-sebab yang bisa menimbulkan kemurkaan Allah dan siksaNya. Lain dari itu, diharamkan atas setiap muslim untuk membantu penyelenggaraan hari raya tersebut dan hari raya lainnya yang diharamkan, baik itu berupa makanan, minuman, penjualan, pembelian, produk, hadiah, surat, iklan dan sebagainya, karena semua ini termasuk tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan serta maksiat terhadap Allah dan RasulNya, sementara Allah Subhana wa ta’ala telah berfirman.

"Artinya : Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya." [Al-Ma'idah: 2]

Dari itu, hendaknya setiap muslim berpegang teguh dengan Al-Kitab dan As-Sunnah dalam semua kondisi, lebih-lebih pada saat-saat terjadinya fitnah dan banyaknya kerusakan. Hendaknya pula ia benar-benar waspada agar tidak terjerumus ke dalam kesesatan orang-orang yang dimurkai, orang-orang yang sesat dan orang-orang fasik yang tidak mengharapkan kehormatan dari Allah dan tidak menghormati Islam. Dan hendaknya seorang muslim kembali kepada Allah dengan memohon petunjukNya dan keteguhan didalam petunjukNya. Sesungguhnya, tidak ada yang dapat memberi petunjuk selain Allah dan tidak ada yang dapat meneguhkan dalam petunjukNya selain Allah subhana wa ta’ala. Hanya Allah lah yang kuasa memberi petunjuk.

Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

[Fatawa Al-Lajnah Ad-Da' imah lil Buhuts Al-'Ilmiyah wal Ifta' (21203) tanggal 22/11/1420H]


[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Darul Haq]

Sumber: SalafiDB, dengan pengeditan seperlunya.

Minggu, 17 Januari 2010

Sebab-sebab datangnya kebahagiaan (Ringkasan nasehat-nasehat Syaikh Abdur Rozaq Al-Abbad Al-Badr Hafidzohulloh)

Berikut ini adalah beberapa poin nasehat yang disampaikan oleh Syaikh Abdur Rozaq Al-Abbad Al-Badr Hafidzohulloh, yang disampaikan dalam tabligh akbar, ahad, 17 Januari 2009 di mesjid Istiqlal. Poin-poin ini hanyalah sebagaian kecil dari yang disampaikan oleh syaikh yang sempat saya catat, semoga dapat bermanfaat bagi yang belum sempat hadir, atau yang telah hadr namun belum sempat mencatat:

a. Semua orang menginginkan kebahagiaan, namun banyak orang yang mencari kebahagiaan dengan cara yang diharamkan Allah (maksiat), maka cara seperti ini tidak akan mendatangkan kebahagiaan melainkan kesengsaraan

b. Segala maksiat kepada Allah tidak akan pernah mendatangkan kebahagiaan

c. Kebahagiaan tidak dapat dicapai kecuali melalui jalan-jalan yang telah ditetapkan oleh Allah subhana wa ta’ala dan Rasul-Nya

d. Seorang muslim yang mendapat taufik, yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa kebahagiaan hanya di tangan Allah dan tidak bisa diperoleh kecuali dengan ketaatan kepada Allah

e. Beberapa tanda-tanda orang yang mendapat kebahagiaan disebutkan oleh Allah subhana wa ta’ala: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (Al-Lail:5-10)

f. Al-Qur’an adalah sumber kebahagiaan. Allah subhana wa ta’ala berfirman: “Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (Al-Baqarah:38). Yang dimaksud dengan petunjuk ialah Al-Qur’an.

g. Dan Allah subhana wa ta’ala juga berfirman: “Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah” (Thahaa:2)

h. Maka orang yang bahagia ialah para ahli Al-Qur’an

i. Yang dimaksud dengan ahli Al-Qur’an tidak harus hafal Al-Qur’an, karena setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menghafal Al-Qur’an, namun ia adalah orang selalu terikat dengan Al-Qur’an, berusaha memahami dan mengamalkannya.

j. Ingatlah, semakin banyak kita mengambil bagian dari Al-Qur’an, maka akan semakin banyak kebahagiaan yang akan kita peroleh

k. Intisari dari kebahagiaan adalah iman dan amal saleh, dan dalam hal ini tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Allah subhawa wa ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl:97)

l. Orang yang paling kaya dan paling sehat, belum tentu menjadi orang yang paling bahagia

m. Ada 3 perkara yang merupakan tanda-tanda kebahagiaan (menurut Ibnul Qoyyim Al-Jauziah):

1. Bersyukur

2. Bersabar

3. Istighfar

Hal ini disebabkan karena setiap manusia tidak pernah lepas dari tiga keadaan, yakni: mendapat nikmat, mendapat cobaan, dan berbuat dosa. Orang yang berbahagia ialah orang yang ketika mendapat nikmat ia bersyukur, ketika mendapat cobaan, ia bersabar, dan ketika berbuat dosa, ia beristighfar.

n. Maka berhati-hatilah kita jika merasa telah berada dalam tiga perkara tersebut, karena itu semata-mata adalah karunia Allah, dan Allah-lah yang menanamkannya ke dalam hati-hati kita, dan bukan tidak mungkin Allah akan akan mencabutnya sewaktu-waktu.

o. Inti dan tempat kembali segala sesuatu ialah keimanan, maka kadar kebahagiaan seseorang sesuai dengan kadar keimanannya.

p. Ibnul Qoyyim Al-Jauziah mengatakan: Tanda kebahagaiaan seseorang ialah jika dia meletakkan kebaikan-kebaikannya di belakang punggungnya, dan kejelekan-kejelekannya berada di depan dadanya, sedangkan tanda kesengsaraan seseorang ialah jika dia meletakkan kebaikan-kebaikannya di depan dadanya, dan kejelekan-kejekannya di belakang punggungnya

q. Hendaklah segala sesuatu yang kita kerjakan hanya untuk mengaharap ridah Allah, dan bukan untuk mengharap balasan atau ucapan terima kasih. Allah subhana wa ta’ala berfirman: “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (Al-Insan:9)

r. Syaikh menutup nasehat-nasehatnya dengan menukil perkataan Ibnul Qoyyim Al Jauziah dalam kitab Za’adul Ma’ad, tentang sebab-sebab datangnya kebahagiaan, yakni:

1. Tauhid

2. Ilmu

3. Kembali/cinta kepada Allah

4. Senantiasa mengingat Allah

5. Memberi manfaat kepada orang lain

6. Keberanian

7. Menghilangkan penyakit-penyakit hati

8. Meninggalkan sikap berlebih-lebihan dalam segala hal

Demikianlah beberapa nasehat-nasehat syaikh kepada kaum muslimin di Indonesia, semoga kita dapat memperoleh kebahagiaan yang hakiki, dan semoga Allah memberikan kesehatan dan umur yang panjang kepada Syaikh Abdur Rozaq agar senantiasa dapat mengamalkan ilmunya, sehingga dapat bermanfaat bagi kaum muslimin. Barakallahu fiikum ya Syaikh…

Minggu, 03 Januari 2010

Titik akhir

***
Hari ini kami akhiri perjalanan kami
Dalam langkah mencari ridha-NYA
Bukan akhir segala-galanya, tapi awal untuk titik yang lebih cerah
Dengan lentera cahaya yang mnyejukkan jiwa.
Dengan insan-insan yang baru,insan-insan yang hatinya terisi ilmu, bukan sekedar logika dan hawa nafsu.
Kami masih berdiri di belakang tirai.
Untuk jadi pemegang lentera ini, tak berucap banyak kecuali dengan hikmah.
Kami masih disini, disamping nakhoda, untuk jadi navigator bahtera ini,untuk bersama menuju pulau kemenangan.
Di ujung sana, yang terang benderang, sisihkan samar-samar yang mengganggu, dan ikutkan ia bersama kami, dalam bahagia dan kemenangan yang nyata.

Anyer,27 des 09
11.41




Senin, 14 Desember 2009

Tiga Kelopak

***
Di taman ini
Kupijakkan kaki dengan tenang dan damai
Tanpa lirih senandung kabut yang muram durjakan hati
Hanya hening simfoni mentari yang gegap gempitakan jiwa

Titik titik kesejukan berjatuhan di atas ragaku
Saat kutelusuri labirin-labirin taman ini
Dengan wangi yang tak kalah menusuk pusat saraf olfaktori

Kujelajahi dan terus kukagumi
Sampai kutiba pada sekat tertutup kelam
Dengan bunga-bunga rupawan di depan mata, tapi suram di belakang punggung
Aku tak mengenalnya, walau kudengar kisah tentangnya
Kucoba menjauh namun ia begitu dekat
Hingga kulihat tiga kelopak
Yang coba bermain di tepi balkon kegundahan hatiku
Membuatku sedikit riang berselimut cemas

Ingin kupetik satu kelopak saja
Berwarna putih merekah tenang
Kulihat kilau darinya
Silaukan mata tapi tak butakan hati
Hati bergetar saat berucap
Dengan lidah di balik tabir
Tapi cinta tetap terpancar
Terang menyusur dalam temaram
Tak ada yang tahu, kecuali “kita”

Satu kelopak angkat suara, tentang gundahnya akan cinta
Hingga gundahnya juga gundahku
Namun tetap tunduk pada sang Raja
Dan tetaplah bersemayam disitu, menunggu waktu yang tepat
Ia tersenyum, dalam tanda tanya

Dua kelopak buka topengnya
Entah sadar atau tak sadar
Terlihat sudah layu tangkainya
Di balik jubah terlihat megah

Tiga kelopak yang tersirat...
membiaskan diri bagai keindahan, tapi tak tahu bayang di baliknya.
Haruskah di pangkas dan dibakar? atau dilembutkan dan dibersihkan dengan air sejuk nan mulia? hingga terobek kesamaran darinya...

Jakarta, 14 Desember 2009
23.38




Kamis, 26 November 2009

Tips mudah doa mustajab dan di aminkan oleh malaikat

***
Seorang muslim tak pernah lepas dari berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala di setiap waktu dan kesempatan. Baik doa yang berhubungan dengan akhirat, maupun dunia. Namun, masih jarang sekali muslim yang tahu tentang doa-doa yang mustajab (dikabulkan). Kali ini saya akan berbagi ilmu tentang salah satu doa yang mustajab.

Diriwayatkan dari Thalhah radiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مامن عبد مسلم يدعو لأخيه بظهر الغيب إلا قال الملك ولك بمثل
“Tidaklah seorang muslim mendoakan kebaikan untuk saudaranya yang tidak hadir (tanpa sepengetahuan dia), kecuali Malaikat akan mengatakan: ‘dan untukmu seperti itu’.”

Dalam riwayat lain:
دعوة المرء المسلم لأخيه بظهر الغيب مستجابة عند رأسه ملك موكل كلما دعا لأخيه بخير قال الملك الموكل به آمين ولك بمثل
“Doa seorang muslim kepada saudaranya secara rahasia dan tidak hadir di hadapannya adalah sangat dikabulkan. Di sisinya ada seorang malaikat yang ditunjuk oleh Allah. Setiap kali ia berdoa untuk saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut berkata (kepadanya): “Ya Allah, kabulkanlah, dan (semoga) bagimu juga (mendapatkan balasan) yang semisalnya.”
[Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim No.2732. Lihat syarah shahih muslim Imam An-Nawawi (49/17)]

Nah, mudah kan? Kita cukup mendoakan kebaikan kepada saudara kita. Hmm,,,sebagai contoh ketika kita ingin memohon kemudahan kepada Allah dalam menghadapi ujian, maka berdoalah: Ya Allah, berilah kemudahan untuk temanku si Fulan dalam menghadapi ujian. Maka malaikat akan berkata seperti hadits diatas, yakni: “Ya Allah, kabulkanlah dan bagimu juga yang semisalnya.” Maka bagi kita juga kemudahan dalam menghadapi ujian.

Sungguh mulia seorang muslim yang mau mendoakan kebaikan bagi saudaranya. Lihatlah, betapa mendoakan saudara kita itu lebih utama dibanding jika kita hanya mendoakan diri kita sendiri. Apabila kita mendoakan diri kita sendiri, belum tentu diaminkan oleh malaikat, namun jika mendoakan kebaikan untuk saudara kita tanpa sepengatahuannya, akan diaminkan oleh malaikat, plus kita juga mendapatkan doa yang kita mohon kepada Allah untuk saudara kita itu.

Mendoakan kebaikan kepada saudara adalah amalan yang sangat ringan, dengan keutamaan yang sangat besar, maka manfaatkanlah. Ketika kita melihat saudara kita mendapat musibah, doakanlah ia semoga diberi kesabaran, dan semoga dengan ujian itu akan bertambah keimanannya. Ketika kita melihat saudara kita mendapat rezeki, maka doakanlah semoga rezekinya semakin bertambah dan semakin rajin ia bersedekah. Ketika kita melihat teman kita sedang belajar, maka doakanlah semoga ia diberi pemahaman yang mudah, dan apa yang ia pelajari dapat bermanfaat, dan lain sebagainya.

Inilah setitik nasehat dari saya, semoga bermanfaat, dan semoga Allah memudahkan kita dalam mengerjakan kebaikan. Barakallahu fiikum.

Referensi:
Syarah Shahih Muslim. Imam Nawawi

NB:
Untuk rekan-rekan 2006 yang akan menghadapi ujian skripsi dan angkatan lain yang akan menghadapi ujian, tips ini dapat digunakan. Ayo kita saling mendoakan untuk kebaikan bersama, tapi gak usah bilang-bilang yah, cukup anda, malaikat, dan Allah yang tahu…Semangat…=)




Rabu, 21 Oktober 2009

Tujuh Golongan Yang Mendapat Naungan Allah di Hari Kiamat, Apakah Anda Salah Satunya?

***
Saudaraku rahimakumullah*, istilah hari kiamat tentu sudah tidak asing di telinga kita. Banyak sekali ayat Al-Qur’an maupun hadits nabi صلی الله عليه وسلم yang menceritakan kedahsyatan dan kengerian yang terjadi pada hari kiamat. Tapi tahukah anda bahwa di tengah kedahsyatan hari itu, ada tujuh golongan yang mendapat naungan Allah, dimana pada hari itu tidak ada satu naungan pun kecuali naungan Allah.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه , bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda:

"Ada tujuh golongan orang yang akan diberi naungan oleh Allah dalam naungan-Nya, pada hari tiada naungan melainkan naungan-Nya (yakni pada hari kiamat), yaitu: imam/pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah Azza wa jalla, seseorang yang hatinya bergantung kepada mesjid (selalu melakukan shalat jama’ah di dalamnya), dua orang yang saling cinta-mencintai kerana Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seseorang Ielaki yang diajak (berzina) oleh wanita cantik dan berkedudukan, tapi ia berkata: "Sesungguhnya saya ini takut kepada Allah,", seseorang yang bersedekah kemudian merahasiakannya, sehingga tangan kanannya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kirinya dan seseorang yang ingat kepada Allah di dalam keadaan sepi lalu meneteskan airmata dari kedua matanya."

[Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari (No.620, 1334, 5998, 6308), Muslim (No.1712), Tirmidzi (No.2313), dan juga dikeluarkan oleh Imam An-Nasa’i, Ahmad, dan Malik. Lihat juga di Riadushalihin No.374]

Naungan Allah yang dimaksud dalam hadits yang mulia ini dapat diartikan sebagai naungan Arsy-nya Allah, dan dapat pula diartikan sebagai lindungan Allah. Saudaraku, jika diperhatikan, kebanyakan jenis orang yang disebutkan dalam hadits ini adalah para pemuda. Mengapa pemuda menjadi begitu istimewa dan memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah? Tentunya karena masa muda adalah masa yang penuh dengan cobaan dan godaan, masa dimana semangat dan keinginan sedang menggebu-gebu. Maka tentu sangat sulit bagi seorang pemuda muslim untuk menjadi seperti tujuh golongan yang telah disebutkan dalam hadits diatas, terlebih di zaman sekarang yang penuh dengan fitnah.

Berbeda dengan orang yang telah lanjut usia, dimana gerakan dan pikiran sudah terbatas, maka wajar jika kegiatannya hanya diisi dengan ibadah. Tapi pemuda yang menghabiskan masa mudanya di jalan kebaikan dan ibadah kepada Allah sangatlah jarang ditemukan, dan bisa dibilang bukan sesuatu yang lazim di zaman ini. Maka dari itu, pemuda yang rajin beribadah memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibanding orang tua yang rajin beribadah.

Coba perhatikan di sekeliling kita, ada berapa banyak pemuda yang giat beribadah, rajin ke mesjid, saling mencintai karena Allah, menjauhi zina, gemar bersedekah, dan selalu shalat malam? Bandingkan dengan yang sebaliknya, maka kita akan melihat perbedaan jumlah yang sangat besar. Saat ini, pemuda-pemuda yang bersifat seperti tujuh golongan diatas malah dianggap aneh, kurang gaul, dan sebagainya. Sehingga merekapun terasing. Maka benarlah sabda nabi صلی الله عليه وسلم:

“Sesungguhnya Islam dimulai dengan keterasingan dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing (Al-Ghuraba)" [Diriwayatkan oleh Muslim 2/175-176, Dari Sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه]

Sekarang pilihan ada ditangan anda sendiri, apakah anda ingin menjadi pemuda gaul yang hedon dan jauh dari agama Allah, atau anda ingin menjadi salah satu dari tujuh golongan yang telah disebutkan diatas, namun dengan resiko terasing dan berbeda dengan pemuda-pemuda pada umumnya. Silahkan memilih...

Ittaqillah wastaqim fiddinil haq**…Barakallahu fiikum***

* Semoga Allah merahmati kalian
** Bertakwalah kepada Allah dan istiqomahlah di agama yang benar
*** Semoga Allah memberikan barokahnya kepada kalian

Maraji’:
Shahih Bukhari. Imam Bukhari
Shahih Muslim. Imam Muslim
Riadushalihin. Imam An-Nawawi